Muncar: The Lost World


Well, inilah aku, seorang lelaki biasa di tempat yang sangat tidak biasa. Tempat yang beruntung untuk aku dampari itu bernama Muncar.

Peta Letak Muncar

Muncar merupakan sebuah kecamatan yang menjadi bagian dari pemerintahan administratif Kabupaten Banyuwangi yang menjadi bagian dari Provinsi Jawa Timur. Setelah aku hitung-hitung, ada sebelas desa yang menjadi turunan kecamatan ini. Kebanyakan dari desa-desa itu merupakan penghasil buah Semangka dan ikan laut.

Memang dahulu daerah ini termasyur karena gemah ripah loh jinawi nya akan hasil perikanan, namun hari ini keadaan sudah tidak seindah dulu, setidaknya bagi para nelayan lokal. Beberapa tahun belakangan ikan-ikan mendadak lenyap dari perairan Muncar. Diculik UFO untuk dijadikan spesimen di planet antah berantah? Sayangnya tidak.

Ini dari informasi yang aku dapat pas ikut pelatihan dari Kementrian Perikanan dan Kelautan beberapa bulan lalu, ikan-ikan mendadak raib sebenarnya disebabkan karena industri-industri yang ada di daerah ini telah membuang limbah mereka dengan tidak bertanggungjawab ke perairan luas.

Akibatnya terjadi suatu rangkaian reaksi kimiawi (istilah kerennya chain reaction) yang menyebabkan turunnya kadar Oksigen di dalam laut. Menipisnya Oksigen ternyata membuat plankton yang notabene adalah makanan ikan ogah berkembang biak di sini. Menipisnya plankton, pada gilirannya, juga membuat ikan-ikan males tinggal di Muncar. Salah siapa? Tanyakan pada ikan-ikan…

Pada akhirnya reaksi berantai lain dari hal ini membuat rencana Pemerintah untuk menyulap Muncar sebagai Minapolitan (Mina berarti ikan, politan berarti kota) terancam bubrah.

suasana pelabuhan Muncar

Aku sendiri baru setahun setengah mendamparkan diri di Muncar, dan dalam waktu-waktu itu aku jadi memiliki penilaian tersendiri terhadap daerah ini. So, akan aku paparkan kebaikan dan keburukan Muncar versi diriku. Lebih baik aku mulai dari yang jelek dulu:

1.  Aku mulai dari penduduk Muncar yang rata-rata (gak semua lho) punya hobi yang sama, NGARET, gak pernah tepat waktu. Entah apa ini hasil dari salah asuhan, atau bagian dari tradisi, yang jelas kalau tidak terpaksa (misal untuk masuk kerja), masyarakat Muncar sering telatan.

2. Raibnya ikan-ikan dari perairan sekitar menghasilkan suatu ganjalan ekonomi bagi sebagian penduduk, terutama kaum nelayan. Perkonomian Muncar menjadi bak mesin kurang pelumas, seret untuk berjalan. Beberapa bulan terakhir, Muncar dipenuhi toko barang-barang bekas. Ya, penduduk yang kesulitan cari penghasilan mulai menjuali barang-barang mereka dengan harga murah demi sesuap nasi.

3. Daerah ini bisa dikatakan TERPENCIL. Bayangkan, untuk menuju kota Banyuwangi kita mesti berkendara dengan mobil selama kira-kira satu jam. Ke kota tetangga, Jember, tiga jam. Ke ibukota provinsi, Surabaya, DELAPAN jam!!! Memang ada daerah lain yang lebih parah dibandingkan Muncar, tapi kenyataan ini bagiku sudah cukup menyiksa.

4. Masih terkait dengan keterpencilan Muncar. Mau cari apa-apa susah. Memang sudah banyak swalayan di sini, tapi untuk keperluan bukan sehari-hari, misal beli buku atau bahan masakan yang rada aneh, kita mesti ke kota Banyuwangi.

5. Eh, sudah terletak di daerah yang jauh dari mana-mana, jalanan Muncar belakangan rusak tidak keruan. Gak tanggung-tanggung, lobang-lobang jalanan itu menjelma jadi kolam bebek waktu hujan mendera. Bahkan aku pernah hampir nyungsep ke salah satu kolam itu pas naik becak. Untung masih hampir…  Masalah ini sudah berulang kali jadi sorotan media, aku mencatat sudah dua kali foto-foto kolam ‘Tirta Amerta’ a la Muncar masuk koran lokal. Tapi kok Bapak Bupati Banyuwangi kelihatan adem ayem aja. Entah gak baca koran, atau malah gak bisa baca…? Semoga Tuhan mengampuni.

6. Yah, namanya aja daerah penghasil ikan, jadi kalau ke mana-mana yang tercium ya bau amis ikan. Bahkan kadang kala kalau di jalan pas ketemu truk pengangkut air ikan atau kulit udang, baunya… hmmmm… mirip truk sedot tinja yang isinya kececeran di jalan. Bayangkan sendiri…

7. Minim hiburan. Bagi anak muda, terutama yang biasanya hidup di kota, Muncar SANGAT MEMBOSANKAN.  Gak ada mall, gak ada bioskop. Paling banter cuma orkes-orkes kampung yang menyajikan lagu dangdut.

Oke, cukup sudah tentang yang jelek-jelek, ini yang bagus-bagus. Here we goes…

1.  Penduduk Muncar orangnya baik-baik. Baik banget malah. Sopan, ramah, suka berbagi. Nilai-nilai kekeluargaan dan kesederhanaan masih kental di sini. Secara pribadi, aku sendiri sangat menghargai dan merasa tersentuh dengan kebaikan hati orang-orang ini.

2. Pada umumnya masyarakat Muncar adalah pemeluk agama yang taat, tapi tanpa menjadi radikal atau fanatik.

3. Terkait dengan nomor 2. Toleransi di sini, sepengelihatanku lho ya, terjaga dengan sangat baik. Buktinya ada cukup banyak gereja berdiri di sini berdampingan dengan masjid-masjid besar, mushola-mushola, bahkan pura Hindu. Gereja-gereja itu bahkan memiliki suatu aliansi yang dinamai Persatuan Gereja-Gereja Muncar (PGGM). Nice…

4. Muncar punya akses langsung pemandangan laut. Terus terang tidak terlalu indah sih, tapi jika dibandingkan Surabaya yang sama-sama dekat laut tapi lautnya gak kelihatan karena tertutup gedung dan rumah, Muncar masih unggul sedikit. Ada pantai juga lho. Pantai Gumuk Kantong namanya. Sayangnya tidak dikelola dengan baik karena mepet sama perkampungan nelayan jadi terkesan kumuh. Yah, setidaknya bisa jadi jujugan muda-mudi buat pacaran.

5. Urusan perut dan lidah. Muncar punya beberapa panganan unik yang belum pernah aku jumpai sebelumnya, contohnya Pecel Tumpang. Makanan itu pada dasarnya memang Pecel dengan segala sayuran dan bumbu kacang, yang berbeda adalah Tumpangnya. Tumpang itu serupa lontong, tapi dimasak dengan santan kelapa, sehingga punya rasa asin gurih yang nikmat.

6. Minim polusi. Selain polusi air karena limbah dan udara karena meningkatnya pemakaian motor dan bau ikan, Muncar nyaris bebas polusi suara dan cahaya. Cocok untuk semedi…  Recommended buat para Ki-Ki…

7. Aku sendiri menilai ketertinggalan suatu daerah dari kemudahan akses keluar dan masuknya informasi. Untuk hal ini di sini sudah berdiri cukup banyak warung internet. Yah, meski sebagian besar keadaannya gak nyaman, tapi aksesnya cukup cepat.

Nah nah, itu tadi penilaian pribadiku atas daerah Muncar. Tanpa bermaksud menyakiti atau menjatuhkan. Ini murni untuk memberi gambaran tentang situasi Muncar yang kutangkap lewat panca inderaku. Semoga bisa bermanfaat untuk orang-orang yang punya rencana tinggal di sini, juga sebagai pembenahan untuk hal-hal yang aku beri label buruk di atas. Semoga bermanfaat!

THE POWER OF HEARING

Saya kira, Tuhan sungguh murah hati. Ia memberikan kepada kita, manusia yang normal, dua set telinga lengkap dengan onderdilnya (sayangnya tanpa suku cadang), plus bonus dua biji daun telinga. Ia juga memberi gratis pada kita sebuah mulut, lengkap dengan gigi geligi dan lidah, dengan ekstra dua bilah bibir untuk pemanis wajah.

Filosofinya, jumlah telinga yang lebih banyak daripada jumlah mulut merupakan penanda agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Tapi apakah kita sudah cukup banyak mendengar?

Banyak mendengar di sini tidak termasuk urusan mencuri dengar, melainkan mendengar apa yang semestinya kita dengar. Sayangnya, yang terjadi malah kebalikannya. Kebanyakan dari kita lebih hobi bicara daripada mendengar. Aneh? Tidak juga.

Sebenarnya manusiawi kalau kita lebih banyak bicara karena kita ini makhluk sosial, kita dilengkapi dengan hasrat-hasrat untuk berbagi, atau lebih tepatnya membagi. Kita pasti memiliki seseorang yang kita merasa nyaman menceritakan impian-impian, harapan, keluh kesah atau rahasia-rahasia kecil kita. Yang sering kita lupakan adalah bahwa tempat di mana kita curhat itu juga manusia, sama seperti kita.

Boleh saja Anda menganggap mereka itu jelmaan tempat sampah, atau tempat sampah berwujud manusia, tapi jika kita menarik garis dari falsafah tempat sampah ini kita mesti ingat bahwa suatu saat tempat sampah Anda itu lama-kelamaan juga bisa penuh dan isinya membual ke mana-mana.

Anda bisa saja memaksa masuk, menjejalkan sampah-sampah Anda ke dalamnya, tapi sudah menjadi hukum alam kalau semua wadah punya daya tampung tersendiri. Dan jika lewat batasnya, isi dari wadah itu harus dimusnahkan atau minimal dipindahkan ke wadah lain yang lebih besar.

Nah. Berhubung tempat sampah Anda itu berupa manusia, sampah yang masuk ke dalamnya bukan melulu masalah-masalah Anda saja. Ia sendiri pun menghasilkan sampah yang ia timbun dalam dirinya. Tentu tidak mengherankan jika tempat curhat Anda itu suatu saat jengah mendengar keluh kesah Anda kalau Anda tidak bersedia bergantian mendengar keluh-kesahnya.

Di sinilah perlunya untuk saling berbagi. Lebih banyak mendengar.

Kita sudah sering mendengar petuah yang berkata ‘apa yang kamu kehendaki orang lain perlakukan pada dirimu, perlakukan orang lain dengan cara yang sama lebih dahulu’. Jadi, kalau Anda ingin didengar, mulailah untuk mendengar. Anda membuang sampah Anda pada si dia, ijinkanlah dia membuang sampahnya pada Anda. Prinsip suatu hubungan memang reaksi bolak-balik, bukan reaksi satu arah. Dengan demikian Anda dan teman Anda bisa menjadi lebih dekat karena masing-masing semakin mengenal.

Gunakan sepasang telinga Anda dengan bijak karena banyak mendengar (sekali lagi tidak termasuk urusan kuping-menguping) memberi banyak hikmat (pengetahuan). Fungsi dari dua daun telinga Anda bukan hanya sarana orangtua Anda menghukum Anda. Dan yang lebih penting, tempat sampah Anda dijamin tidak overload hingga isinya kececeran di jalanan. Anda tidak ingin rahasia Anda terdengar di kampung kan?

 

NB: Hanya orang egois yang malang yang tetap bersikukuh menjejalkan sampah-sampahnya tanpa mau membuang isi tempat sampahnya. (Quotes by Sujatmiko Pujitono)

Hai kawan…

Namaku Sujatmiko Pujitono, seseorang dengan ketertarikan dalam banyak hal yang ingin menuangkan pemikiran-pemikirannya ke dalam tulisan. Ya. aku adalah seorang penulis amatir. Tujuanku membuat blog ini adalah untuk ‘mamaksa’ diriku menulis setiap hari. Menulis apapun yang aku cerap, cecap, cium, lihat. rasa. sentuh… Apa pun!!!

Semoga tulisanku kelak bisa menginspiras dan memberi wawasan pada orang banyak… See Ya!