Ramalan Yang Terlewatkan (Telah dimuat di Deteksi Jawa Pos dan Radar Banten, November 2007) Penulis: Sujatmiko Pujitono

Fani membolak-balik kartu di depannya. Mencoba mencari makna di dalam kartu itu. Sementara Mitha menunggu gelisah. Jari-jemarinya terus bergerak dan saling membelit. “Gimana, Fan, hubunganku sama Ivan bakal langgeng, nggak?” kata Mitha mulai tidak sabar. “Em, kayaknya kamu harus hati-hati deh. Ini kartu dua pedang yang menandakan si Ivan-mu tuh sudah mulai mendua,” cuap Fani setengah sinis.

Sejak dulu, Fani memang tidak menyetujui hubungan Mitha dan Ivan, playboy kampus itu. Fani yang peramal sudah tahu kalau Mitha bakal dicampakkan. “Buat tahu yang beginian sih nggak perlu jadi peramal kayak aku juga bisa,” cetusnya waktu itu. Orang yang tidak kenal Fani sering menyangka namanya Stefani. Tapi, nama sebenarnya adalah Epifania yang berarti “Penampakan Tuhan”. Sejak kecil, Fani menyadari kemampuan indra keenamnya sebagai peramal. Dia sering mengetahui yang terjadi pada dirinya atau orang lain.Kadang dia bermimpi, kadang juga dia mengalami semacam “penglihatan” tentang masa depan. Tapi, belakangan Fani mulai memakai kartu tarot agar mudah meramal orang yang bertanya kepadanya.

“Hah! Masak iya Ivan mulai mendua?” tanya Mitha. “Aduh, Mit! Masa kamu masih nggak percaya kemampuanku sih?” Ganti Fani yang jengkel. “Iya deh, aku percaya. Lagi pula aku tahu, ramalanmu 90 persen tepat,” jawab Mitha. Setelah berpisah dengan Mitha, Fani segera menuju tempat parkir motor, lalu pulang.

Setelah menempuh perjalanan 30 menit di bawah terik matahari Surabaya, akhirnya Fani tiba di rumah. Masuk kamar, meletakkan tas, dan berganti pakaian. Dalam keadaan kamarnya yang gelap itu, matanya menjadi buta sesaat karena berjam-jam berada dalam cahaya terang. Saat itulah Fani mendapat penglihatan tentang masa depan. Tampak olehnya sebuah truk melaju ke arahnya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara dari dalam kepalanya, “Aku tidak mau mati. Oh, Tuhan, aku tidak boleh mati.” Disusul lolongan keras “Tidaaaaakkk…!!!” yang menyadarkannya kembali. Ternyata, lolongan itu adalah suaranya sendiri yang dia keluarkan saat tidak sadar. Beruntung keadaan rumah sepi. Ayah dan ibunya bekerja, sedangkan dia anak tunggal. Tidak ada yang tahu apa yang baru ia alami. Tubuhnya lemas, kakinya berubah menjadi karet lumer karena panas. Segera dia berpegangan pada gagang pintu agar tidak terjatuh. Masuk ke dalam kamar dengan langkah terseok-seok.

“Apa aku akan mati? Apa aku akan terlindas truk? Oh, Tuhan, apa-apaan ini?” tanyanya dalam hati. Segera dikeluarkannya kartu tarot yang tadi dia letakkan dalam tas dan menanyakan yang terjadi padanya. Betapa terkejutnya dia saat melihat hasil ramalan itu. Empat kartu pertama yang muncul adalah sembilan pedang, sepuluh pedang, The Death (sang maut), dan sepuluh tongkat yang semuanya memiliki satu arti: kematian. Kartu kelima adalah empat pedang yang berarti kecelakaan. Keenam adalah The Chariot (kereta perang) yang berarti kendaraan.

Air mata yang menetes memburamkan pandangannya. Sehingga dia tidak dapat lagi melihat kartu ketujuh dan kedelapan.Terlintas dalam benak Fani wajah kedua orang tuanya. “Apa jadinya mereka kalau aku tidak ada? Siapa yang akan merawat mereka saat menjadi tua?” tanyanya dalam hati. Tiba-tiba suatu tekad muncul di benaknya, dia harus mengubah masa depan!Selama ini Fani selalu membiarkan masa depan berjalan sesuai dengan ramalan. Tapi, kali ini berbeda. Dia harus membelokkan garis nasib sendiri! Dia harus menyelamatkan jiwanya. Tindakan pertama yang ada dalam kepalanya adalah dia tidak ke luar rumah. Sepanjang hari itu Fani hanya di kamarnya. Seumur hidup, Fani tidak menyangka bakatnya akan seperti ini. Bahkan, saat orang tuanya datang, Fani tidak keluar kamar sekali pun. Ibunya mengetuk pintu kamarnya, heran melihat tingkah Fani hari ini. “Fan, kamu kenapa? Sakit?” tanya ibunya dari luar kamar. “Nggak, Bu,” jawab Fani tanpa membuka pintu kamarnya yang terkunci. Beberapa jam kemudian Mitha menelepon, tapi Fani tidak menggubris ponselnya yang berbunyi berulang-ulang. Saat ini dia ingin sendirian, tanpa kehadiran orang lain.

Fani tidak tahu sudah berapa lama dia seperti ini. Tidak sekali pun dia keluar. Ponselnya sudah lama mati akibat kehabisan baterai. Melihat keadaan ini, orang tua Fani mulai cemas. Maka ayahnya mendobrak pintu kamarnya pada suatu sore dan mendapati keadaan Fani yang menyedihkan. Rambutnya kusut karena keringat dan badannya bau karena lama tidak mandi.Ibunya cepat menghampiri Fani. Dia duduk di samping ranjang Fani dan menyentuh tangannya. Fani yang selama ini hanya berbaring di ranjang mulai bangun dan menangis. Dia memeluk sang ibu tanpa bicara sedikit pun. Kesedihan dan ketakutannya tumpah lewat air matanya, tapi dalam hatinya tetap merasa tertekan.

“Kenapa kamu, Fan? Ada masalah apa? Cerita dong ke ibu,” kata ibu sambil memberi tanda pada ayah Fani yang bingung agar keluar. “Ayo, cerita ke ibu. Ada masalah apa sebenarnya?” bujuk ibunya. Fani mulai bercerita tentang ramalan kematian itu. Setelah mendengar cerita itu, ibunya gelisah. Namun, tidak ditampakkan agar tidak membuat Fani panik. “Ya sudah, ramalanmu kan belum tentu tepat. Mungkin itu halusinasi karena kamu kecapekan setelah kuliah. Cepet mandi, kamu sudah tidak mandi lima hari. Baumu nggak enak,” kata ibu dengan sabar. Sekarang dia menyesal tidak langsung memberitahukan kepada ibu saat itu. “Ibu selalu bisa menenangkan hatiku,” batinnya.

Fani pun beranjak mandi, kemudian menelepon Mitha lewat ponsel ibunya. “Kamu ke mana aja sih? Berhari-hari nggak masuk kuliah dan nggak ada kabar. Aku kan jadi khawatir kamu sakit parah,” salak Mitha dari ujung telepon. Malam ini Fani berencana tidur bersama ayah dan ibunya. Dia bertekad tidur nyenyak tanpa takut.

Semalam dia tidur sangat nyenyak. Dia segera mandi, kemudian menuju meja makan, mengambil makanan. Sudah menjadi kebiasaan, bila makan sendirian, dia akan makan sambil menonton TV. Saat menyalakan TV, yang pertama dia lihat adalah program berita tengah hari. Program ini menyiarkan tabrakan maut antara sebuah mobil dan truk pengangkut sapi di jalur utara. Betapa terkejutnya Fani saat dalam berita itu disebutkan, salah seorang korban tewas bernama Mitha. Di antara rasa terkejut dan cemas, Fani berlari ke kamar mengambil ponsel. Dia melewati meja belajarnya dan melihat kartu-kartu tarotnya yang berserakan. Hatinya langsung hancur saat melihat dua kartu terakhir dari delapan kartu yang tidak sempat dia lihat waktu itu adalah The Lovers (sang kekasih) dan The Empress (teman perempuan).

 

Cerpen oleh Sujatmiko Pujitono

Advertisements

Orang Pertama Bermarga Poo / Fu (傅): Fu Yue (傅說), Seorang Perdana Menteri yang Menjadi Bintang


 

Marga Poo / Fu () hari ini merupakan nama marga yang menduduki peringkat ke-36 nama marga yang paling banyak dipakai di China daratan. Di Indonesia sendiri jarang dijumpai keturunan Tionghoa yang menggunakan nama marga ini. Dari jumlah keluarga Poo / Fu () di seluruh dunia, semuanya berasal dari satu leluhur yang sama. Seseorang yang pertama kali menggunakan nama Poo / Fu () sebagai nama keluarganya. Orang itu adalah Fu Yue () yang hidup pada masa pemerintahan dinasti Shang / (abad 17 SM – 11 SM).

 

Pada masa awal berdirinya dinasti Shang, manusia belum mengenal sistem pencatatan dengan tulisan. Jaman ini biasa disebut sebagai jaman pra-sejarah. Tulisan baru dikenal masyarakat Tiongkok kuno pada era kepemimpinan kaisar ke-23 dinasti Shang, yaitu kaisar Wu Ding (武丁). Dengan demikian pada era Kaisar inilah, China memasuki jaman sejarah (jaman di mana manusia mengenal tulisan).

 

Kebanyakan catatan ditulis pada bilah-bilah bambu, tempurung kura-kura, dan tulang binatang (Oracle Bone). Dari peninggalan-peninggalan arkeologis inilah para pakar mendapat gambaran mengenai seluk-beluk dinasti Shang mulai awal berdirinya hingga keruntuhannya, namun catatan mengenai Fu Yue () sangat sedikit dijumpai, meskipun Fu Yue () sejatinya adalah Perdana Menteri (Prime Minister) kaisar Wu Ding (武丁). Hal ini membawa kesulitan pada para pakar untuk mempelajari Fu Yue () lebih mendalam mengingat besarnya peranan dirinya dan pemikiran-pemikirannya terhadap jalannya pemerintahan Kaisar Wu Ding (武丁).

 

Kaisar Wu Ding (武丁) sendiri terkenal karena dua hal, yang pertama mengenai caranya menemukan Fu Yue (), sang Perdana Menteri, dan kedua tentang kesuskesannya membasmi bangsa Tartar. Terdapat dua versi mengenai kisah kaisar Wu Ding (武丁) menjumpai Fu Yue (). Versi pertama adalah versi legenda dan yang kedua merupakan pemikiran logis para pakar. Sumbernya satu, seperti yang sudah dikatakan di atas, catatan pada tulang binatang.

 

Versi Pertama.

Setelah mewarisi tahta kekaisaran, Kaisar Wu Ding (武丁) dirundung dukacita lantaran mangkatnya Xiaoyi, ayahnya. Sang Kaisar memilih tidak berbicara selama, tidak tanggung-tanggung, tiga tahun sebagai ungkapan kesedihannya. Selama masa kebisuan Kaisar Wu Ding (武丁), segala urusan pemeritahan diemban oleh seorang Perdana Menteri (yang tidak jelas siapa namanya).

Setelah masa berkabung usai dan Kaisar kembali menjalankan urusan pemerintahan, sang Perdana Menteri memilih mengundurkan diri karena usia tua. Kaisar Wu Ding (武丁) menjadi cukup kerepotan mencari Perdana Menteri pengganti yang baik dan cerdas, sampai suatu ketika ia jatuh tertidur.

Dalam tidurnya itu Kaisar bermimpi bertemu dengan seorang bijak yang nampak seperti tahanan. Tuhan berkata dalam mimpi Kaisar bahwa orang itulah yang ia cari-cari sebagai Perdana Menteri. Segera setelah terjaga, Kaisar memerintahkan pelukis untuk membuat gambaran pria dalam mimpinya kemudian memerintahkan orang-orangnya mencari ke seluruh negeri.

Pada akhirnya orang yang serupa dengan yang ditunjukkan Tuhan dalam mimpi Kaisar ditemukan sebagai budak (mengenai hal ini terdapat berbagai versi mulai pertapa, budak, tahanan, hingga mandor) yang bekerja membangun tembok pada Lembah Fu. Lembah Fu saat ini berada pada daerah Shanxi, Tembok Besar China.

Kaisar menyelamatkan orang itu, yang dikemudian hari diketahui bernama Yue. Oleh sang Kaisar nama orang itu diberi tambahan Fu (), sesuai tempat dimana ia ditemukan, maka sejak hari itu namanya berbuah menjadi Fu Yue ().

Fu Yue () diangkat sebagai Perdana Menteri, dan seperti yang diharapkan, ia mampu membawa kemajuan dan kemakmuran untuk Dinasti Shang. Keturunan dari Perdana Menteri Fu Yue () menggunakan nama Fu () sebagai nama marga.

 

Versi Kedua:

Tercatatlah Pan Geng (盤庚), salah seorang kaisar dinasti Shang yang saat mangkat tidak memiliki pewaris tahta yang layak karena putranya masih sangat kecil. Pada akhirnya tahta jatuh pada adik keempat Pan Geng  (盤庚) yang bernama Xiaoyi.

Xiaoyi tidak pernah mengira dirinya akan terpilih menjadi Kaisar. Karena ia tidak siap, maka ia langsung menyerahkan tahta kepada puteranya Wu Ding (武丁). Saat Wu Ding (武丁) masih muda, ayahnya tidak mengijinkan ia tinggal di dalam istana, melainkan memerintahkan dirinya berkelana dan membaur dengan rakyat. Wu Ding (武丁) melaksanakan perintah ayahnya, kemudian menyamar, meninggalkan gelar kebangsawanannya

Saat dalam masa mengembara itulah Wu Ding (武丁) pertama kalinya berjumpa Fu Yue () yang bekerja sebagai buruh / budak. Fu Yue () dikenal sebagai pemuda miskin dari kelas bawah, namun pada dasarnya cerdas, suka belajar, dan memiliki ide-ide orisinal mengenai tata pelaksanaan pemerintahan.

Wu Ding (武丁) dan Fu Yue () kerap berbicara dan bekerja bersama, dari situlah mereka kemudian menjadi dua orang sahabat. Fu Yue (), yang tidak mengetahui bahwa Wu Ding (武丁) adalah keponakan Kaisar Pan Geng (盤庚), dengan gamblang mengungkapkan pemikiran-pemikirannya, analisis mengenai apa yang baik dan yang tidak baik pada kerajaan, namun tanpa merendahkan keluarga kerajaan. Wu Ding (武丁) sangat terkesan pada Fu Yue (), bahkan rela belajar banyak hal darinya.

Saat Wu Ding (武丁) menjadi Kaisar, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun selama tiga tahun. Setiap hari ia hanya mendengarkan pembicaraan-pembicaraan anggota kerajaan. Ia bermaksud mencari tahu siapa sajakah orang yang mampu menjalankan pemerintahan dengan baik, mengingat dinasti Shang pada masa itu bukanlah dinasti yang kuat.

Kemudian ia teringat pada Fu Yue (), namun Kaisar menyadari bahwa membuat seorang budak menjadi Perdana Menteri bukan perkara gampang. Tentu hal itu akan membawa pertentangan dan penolakan di antara anggota kerajaan, maka sang Kaisar membuat suatu sandiwara.

Dikisahkan, tiba-tiba sang Kaisar tertidur pulas di hadapan anggota-anggota kerajaan, bahkan ia mendengkur sangat keras. Tak satu pun berani membangunkan Kaisar. Pada waktu Kaisar akhirnya terjaga, ia berkata bahwa Kaisar Cheng Tang muncul dalam mimpinya dan mengatakan bahwa Tuhan akan mengirimkan padanya seorang anggota kerajaan yang sangat penting untuk ia jadikan pendamping dalam menjalankan pemerintahan.

Kaisar Wu Ding (武丁) memerintahkan seorang pelukis untuk membuat gambaran sesuai instruksinya dan mengirim orang-orangnya ke pelosok negeri untuk mencari pria dalam mimpinya. Pada akhirnya ia menemukan Fu Yue () yang ia kenal selama mengembara sebagai rakyat biasa. Fu Yue () saat itu merupakan seorang budak di Lembah Fu.

Fu Yue () dibawa ke dalam istana dan dijadikan Perdana Menteri tanpa protes dari anggota-anggota kerajaan.

 

Semua catatan mengenai masa pemerintahan kaisar Wu Ding (武丁) mengatakan bahwa setelah pengangkatan Fu Yue () sebagai Perdana Menteri pemerintahan dinasti Shang menjadi semakin maju dan berkembang. Disebutkan pula, sangat percayanya sang Kaisar pada Fu Yue () hingga ia selalu bertindak sesuai petunjuk dan instruksi Fu Yue ().

 

Fu Yue () mula-mula memberatas korupsi dalam anggota keluarga kerajaan (bahkan pada masa 3.000 tahun silam sudah ada korupsi!), menghukum mereka, dan menerbitkan peraturan-peraturan dan hukum. Fu yue () tidak pernah merasa rendah diri atas harapan banyak orang, mengingat ia sebagai akibat sandiwara Kaisar dikatakan sebagai ‘pilihan Tuhan’.

 

Fu Yue () membuktikan kemampuannya dalam hal militer maupun sipil. Di bawah komandonya, semua berada dalam keadaan baik, baik di luar maupun di dalam istana. Ia membangun relasi yang kuat dengan kerajaan-kerajaan sekitar yang membuat kerajaan lain gentar untuk menyerang Shang. Wilayah dinasti Shang meluas hingga ribuan mil.

 

Pasukan dinasti Shang menjadi kelompok pasukan terkuat pada jaman itu, hingga berhasil menumpas serangan bangsa Tartar saat memperebutkan Tanah Para Iblis (the Land of the Demon) pada tahun 1293 SM (perang ini berlangsung selama tiga tahun), membasmi kelompok nomaden Gui Fang, melawan Tu Fang dan Gong Fang. Kesemuanya membawa kehormatan dan penghargaan pada Kaisar Wu Ding. Rakyat dinasti Shang menjadi sangat loyal pada Kaisar. Kaisar Wu Ding (武丁) pada akhirnya berkuasa selama 59 tahun (tahun 1324 SM – 1265 SM).

 

Pada saat Fu Yue () mangkat, masyarakat Tiongkok pada jaman itu percaya bahwa sang Perdana Menteri terbang ke langit dan berubah menjadi sebentuk rasi bintang yang disebut Jala (the Sieve) sebagai bagian dari konstelasi besar Phoenix Selatan dalam perbintangan China atau rasi Sagittarius pada perbintangan barat.

 

Memang sangat sedikit catatan mengenai Fu Yue (). Tahun kelahiran, tahun kematian, keluarga, dan lama masa pemerintahannya sama sekali tidak diketahui hingga hari ini. Yang jelas, keturunan Fu Yue () telah mampu bertahan selama 3.000 tahun hingga sekarang nama marga Fu / Poo () masih tetap eksis di atas Bumi. Dan ingatlah, darah Perdana Menteri Fu Yue () tetap mengalir dalam setiap keturunannya, demikian pula segala kualitas dan kecerdasan Fu Yue () tetap ada dalam diri keturunannya, termasuk saya yang memiliki nama Mandarin Poo Tjin Tjhiang / Fu Zhen Chang (傅振昌) dan juga Anda semua yang bermarga Poo / Fu ().

 

Daftar Pustaka:

http://en.cnki.com.cn/Article_en/CJFDTOTAL-HNDS200901017.htm

http://chineseaesop.blogspot.com/2009_08_01_archive.html

http://threekingdoms.com/history.htm#4

Herbert Allen Giles, A Chinese Biographical Dictionary, p. 240.