Apakah Anda Indigo Sejati?

Beberapa tahun belakangan fenomena kehadiran Anak-Anak Indigo ke dunia mulai mengemuka. Terutama sejak Lee Carol dan Jan Tober menerbitkan buku mereka yang pertama, The Indigo Children. Bahkan setelah itu buku-buku lain yang mengupas Anak Indigo ikut (atau ikut-ikutan?) diterbitkan oleh pengarang yang berbeda dengan judul dan sub-topik yang berbeda-beda.

Definisi mengenai Anak Indigo mungkin Anda semua sudah hapal di luar kepala, yaitu mereka yang memiliki atribut psikologis yang berbeda dengan anak-anak yang lain. Tapi apakah essensi  dari sebutan Indigo itu? Indigo, sebenarnya, tidak lebih dari sebuah label. Sama seperti kita menamai Mawar sebagai Mawar, Kerbau sebagai Kerbau, dan Kecebong sebagai Kecebong. Indigo adalah sebuah nama.

Memang Shakespeare dalam tragedi karangannya mengungkapkan melalui tokoh Romeo, apakah arti sebuah nama? Mawar pun akan tetap sama harum jika namanya bukan lagi Mawar. Tapi dalam tragedi yang nyata, nama memegang peranan penting karena dari namalah manusia belajar untuk mengenali dirinya dan dunia sekitarnya.

Kecenderungan manusia memang untuk mengkotak-kotakkan segala sesuatu. Memilih, memilah, dan memisah-misahkan menurut jenis, rupa, bau, dan atribut-atribut lain. Dan seperti jenis, rupa, dan bau, Indigo pun sejatinya merupakan suatu atribut seperti yang Carol dan Tober ungkapkan.

Mungkin yang kurang tepat dari definisi yang diberikan kedua penulis tersebut adalah penyebutan kata “berbeda” yang seolah-olah membuat label Indigo menjadi terkesan eksklusif, atau lebih tepatnya, lebih unggul. Memang dalam kenyataannya Anak Indigo memiliki kecerdasan di atas rata-rata, mungkin juga dilengkapi dengan kemampuan linuwih, tapi manusia Indigo tetaplah merupakan kesatuan dari manusia pada umumnya. Yang membuat mereka berbeda adalah warna auranya yang menandakan kematangan mereka secara spiritual.

Beberapa pakar mengakait-kaitan perbedaan warna aura dengan evolusi ruh. Bahwa orang-orang dengan spektrum warna aura lebih mendekati ungu adalah mereka yang ruhnya telah berevolusi sempurna, atau setidaknya mendekati sempurna. Mereka disebut sebagai jiwa-jiwa tua yang telah banyak belajar melalui kehidupan-kehidupan di dunia.  Sedang mereka dengan aura kemerah-merahan adalah orang-orang dengan ruh yang muda, yang masih harus banyak belajar di dunia. Bukan berarti mereka yang muda ini tidak berarti. Warna-warna aura ini juga istimewa karena masing-masing memiliki perannya di dunia.

Dengan demikian, semestinya orang-orang yang mengakui diri sebagai Indigo memiliki tugas-tugas mereka di dunia, yaitu membimbing dan memberi pemahaman spiritual bagi orang-orang yang tingkat evolusi ruhnya belum sempurna, agar menjadi sama sempurna dan dengan demikian membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih nyaman untuk dihuni.

Indigo ibarat seseorang guru, mentor, atau kakak bagi mereka yang ruhnya dikatakan muda. Indigo memiliki kekayaan pengalaman, ilmu, dan kebijaksanaan. Dan sudah selayaknya bagi mereka yang lebih ‘pintar’ untuk membimbing mereka yang kurang dalam hal-hal tersebut. Kekayaan pengalaman, ilmu, kebijaksanaan, kedekatan dengan Tuhan, dan kemampuan linuwih merupakan sarana dan pra-sarana dalam proses pembelajaran itu. Seperti halnya bangku, papan tulis, kapur, spidol, dan krayon dalam pendidikan formal.

Nancy Ann Tape, seorang pakar aura yang pertama kali menemukan kehardiran Anak Indigo, dalam sesi wawancaranya dengan Jan Tober dalam buku An Indigo Celebration mengungkapkan bahwa semua peran dari berbagai warna (aura) sangat penting untuk dihormati. Satu warna memiliki tempatnya sendiri dan tidak memperlemah sistem dengan prosesnya sendiri (hal 162).

Jadi kalau Anda mengakui diri sebagai seorang Indigo, laksanakan tugas Anda! Membimbing mereka-mereka dengan level spiritual di bawah Anda dengan sikap seorang guru sejati, yakni dengan kerendahan hati. Dan sebagai guru janganlah Anda merasa tinggi hati karena lebih ‘pintar’ dan mengumandangkan betapa hebatnya Anda, karena sejatinya guru adalah pelayan untuk kehidupan yang lebih baik. Bukan seorang arogan yang pantas disebut guru.

Dan yang lebih penting, Indigo juga merupakan bagian dari manusia pada umumnya (Homo sapiens) bukanlah spesies baru dari manusia yang disebut Homo indigo. Sampai hari ini belum ada pakar genetik yang mengatakan demikian. Dan kalau setelah membaca ini Anda tetap merasa Indigo bukanlah Homo sapiens, mungkin Anda sudah terlalu banyak nonton film X-Men dan kejiwaan Anda mulai terganggu.

Advertisements