Memandang ke Mana?

Sering, aku tidak mengerti, ke arah mana seharusnya kita melihat?

Apakah kita harus memandang ke atas? Kepada orang-orang yang memiliki lebih banyak dari kita. Lebih pintar, lebih kaya, lebih terkenal, lebih cantik / tampan, dan lebih segala-galanya.

Ataukah memandang pada mereka yang ada di bawah kita? Para orang sakit, miskin, dan papa. Gelandangan, pengemis, pengamen, tetangga sebelah rumah yang jualan di pasar. Dan tentu banyak sekali kalau kiata mau mencari contohnya. (Dan pasti akan mudah sekali mendapatkannya …)

Memandang ke atas membawa kita pada hasrta untuk maju dan terus berkembang. Melihat kesuksesan orang lain bisa membuat kita terpacu untuk berbuat lebih baik dan lebih baik lagi setiap hari. Tapi, pilihan ini juga bisa membawa kita pada rasa iri dan dengki. Juga, keinginan duniawi yang tak akan ada ujungnya. Selalu merasa kurang kaya, kurang cantik, kurang ini dan kurang itu … Padahal, kata orang bijak, segala sesuatu ada batasnya.

Memandang ke bawah akan membuat kita bersyukur, bahwa apa yang kita miliki ternyata sudah sangat berlebih dan jauh lebih baik dibandingkan mereka. Dan rasa syukur, konon, adalah kenikmatan yang paling nikmat, yang akan membawa kita pada sebuah kedamaian hati dan rasa terima kasih pada Tuhan. Tapi, pilihan ini bisa menjerumuskan kita pada kehidupan yang tidak bisa maju dan tak mampu mengikuti orang-orang di sekitar kita yang terus melaju bersama dunia.

Jadi, ke mana aku mesti memandang? Ke atas atau ke bawah?

 

Direnungkan oleh: Sujatmiko Pujitono

Simpang Hidup

Orang bisa tiba-tiba kaya. Bisa tiba-tiba miskin. Mendadak terkenal. Atau mendadak tercemar.
Biasanya kita akan mengatakan, “Itu takdir.” Tapi, seperti apakah bentuk takdir? Apakah benar ia seperti roda yang terus berputar tak henti-henti? Jika takdir adalah roda, lalu bagaimana dengan pertemuan dan perpisahan? Bagaimana cara kita berjumpa untuk kemudian berpisah dalam sebuah putaran roda takdir?
Jika aku menanyakan hal ini pada ayahku, maka ia pasti akan menjawab, “Pertemuan dan perpisahan adalah jodoh.”
“Maksudku bukan dengan pasangan hidup, Ayah … Tapi, dengan teman sekolah atau kenalan.”
“Iya, aku tahu. Jodoh pun bagian dari takdir, karena hidup bersimpang dan gang.”
Begitulah. Hidup ternyata bersimpang dan gang. Dan dengan demikian, begitu pula takdir. Katakan saja jika bintang kita sedang terang, maka kita akan memilih belokan yang benar. Dan di sana kita akan bertemu orang-orang yang benar.
Tapi jika bintang kita sedang suram, maka kita akan berbelok di gang yang salah. Sempit, gelap, berdebu, dengan bau pesing menguar ke mana-mana. Dan di sana kita akan bertemu dengan orang-orang yang bakal membuat kita edan.
Maka kutanyakan lagi pada Ayahku, “Kalau begitu memang benar hidup ini tergantung pada takdir?”
Tapi, ia menjawab, “Jelas tidak. Hidup tergantung pada pilihanmu. Perkara kau akan membelok ke mana, itu baru urusan takdir. Tapi, itu bukan berarti kau hanya bisa pasrah didorong-dorong.”
“Lalu?”
“Selalu berbuatlah yang baik, meski kau ada di antara yang salah. Pilihlah untuk menjadi terang pada lorong-lorong hidupmu yang gelap. Dan jika kau ada di jalan yang baik, jagalah perilakumu!”
“Caranya?”
“Patuhilah hukum Tuhan! Ialah jalan kebenaran. Kau tak akan tersesat lebih jauh, meski kau telah salah membelok.”
Begitulah. Ternyata hidup memiliki simpang dan gang.

 

Ditulis oleh: Sujatmiko Pujitono

Uang Tip Dari Pelanggan Terakhir (Dimuat di website RUMAH PENA Oktober 2011) Penulis: Sujatmiko Pujitono


Aku merenung menatap hujan yang yang perlahan mereda meninggalkan jalanan becek, pepohonan basah, dan titik air di kaca restoran cepat saji tempatku bekerja paruh waktu sepulang sekolah. Malam beranjak larut, di luar tak lagi terlihat karut-marut lalu lintas seolah hujan telah membilas semuanya. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas di jalan raya dan salah satunya kemudian membelok ke tempat parkir restoran tempatku berdiri saat ini. Sebuah mobil sedan hitam. Seorang pria paruh baya keluar dari dalamnya.

“Pelanggan terakhir!” bisik Rhea padaku.

Sambil pasang aksi melap meja dan kursi (kami tidak boleh terlihat menganggur di hadapan pelanggan) kami berdua mengamati laki-laki itu memesan makanan, membawa nampannya menuju sebuah meja, lalu makan dengan penuh khidmat. Kami keheranan karena memang tidak biasanya ada pembeli selarut ini, apalagi saat gerai hampir tutup.

Aku dan Rhea terus saja membersihkan meja dan telah sampai pada bangku yang ketiga ketika pria itu memanggil, “Mbak, Mbak, kemari!”

Rhea menghampiri, tapi laki-laki itu malah menampik, “Bukan! Bukan kamu! Yang satunya lagi.” Ia menuding-nuding ke arahku.

Aku maju. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” kataku berlagak sigap dan tanggap.

Ia menatap sisa ayamnya yang berantakan. “Tolong bersihkan, ya,” katanya datar kemudian berlalu pergi dan keluar begitu saja. Dengan segera kuringkas tulang, wadah, gelas soda, serta bekas saus ke atas nampan. Ketika itulah kutemukan sebuah amplop merah jambu tersisip di antaranya. Pasti milik lelaki itu! Segera kugeletakkan sampah-sampah itu begitu saja di atas meja lalu cepat-cepat berlari keluar mengejarnya.

“Pak! Pak!” seruku sambil melambai-lambaikan amplop, tapi tak digubris. Pria itu masuk ke mobilnya, aku menuruni tangga depan, pria itu menyalakan mobilnya, aku melintasi parkiran, mobil itu mulai bergerak, aku lari terbirit-birit di belakangnya, tapi terlambat, sedan hitam itu telah melaju pergi.

Dadaku kembang kempis menghirup udara yang terasa basah. Di bawah redup lampu jalan kuamati amplop itu. Siapa tahu ada identitas yang terbubuh di situ. Dan ternyata memang ada, namun tak percaya aku membacanya. Di bagian depan amplop merah jambu itu tertera, untuk: Selina.

Amplop ini untukku?

Hati-hati kubuka tutupnya yang tidak diperekat. Di dalam, lukisan wajah I Gusti Ngurah Rai di atas selembar uang berwarna biru menyapaku kaku. Mulutku ternganga dibuatnya. Kupandangi lekat-lekat kertas itu laksana benda terindah yang pernah kujamah. Kuusap-usap tanpa mengeluarkannya dari wadah, kelihatannya asli. Kubolak-balik amplopnya, tidak ada keterangan yang lain lagi. Aku menyeringai pada sang pahlawan. Di tengah keuanganku yang kering kerontang, bagiku uang biru itu terlihat bak oase di tengah padang Sahara.

Untuk terakhir kali kupandang jalanan ke mana lelaki itu pergi. Sepi, ternyata ia tak kembali. Jadi, cepat-cepat kumasukkan amplop itu ke dalam saku lalu kembali melap bangku-bangku.

Menjelang tidur ― setelah belajar untuk ulangan besok ― baru pikiran-pikiran itu berlomba berkecamuk dalam kepalaku. Siapa lelaki itu? Bagaimana ia bisa tahu aku sedang kesulitan uang? Apa ia malaikat? Apa Selina pada amplop itu benar diriku? Bagaimana jika bukan? Berarti aku telah berdosa karena mengambil sesuatu yang bukan hakku. Rasa bersalah serta-merta merayapiku. Semalaman aku hanya membolak-balik tubuh di atas kasur dengan gelisah. Tak bisa tidur. Kuharap besok ia akan datang lagi, sehingga bisa kukembalikan uang itu padanya.

Keesokan malamnya kembali aku memandang ke luar lewat jendela restoran. Hujan juga baru mereda, sama seperti kemarin. Namun, perasaanku sama sekali berbeda. Berulang kali kutengok jalan raya. Berulang kali kuintip arlojiku. Berulang kali pula kusentuh amplop merah jambu itu di dalam saku, memastikan ia masih ada di situ dan tidak terjatuh saat aku bekerja.

Setengah jam lagi restoran akan tutup. Beberapa lampu mulai dipadamkan dan kursi-kursi di teras luar telah dibawa masuk. Pintu belakang dikunci, pendingin ruangan dimatikan. Aku berbalik dengan lesu dari tempatku berdiri menunggu dan berjalan perlahan menuju loker. Kuambil amplop merah jambu itu dan hendak kusimpan saat lamat-lamat terdengar customer service sedang meladeni pelanggan. Didorong rasa penasaran aku kembali ke depan. Pria separuh baya itu ada di sana!

Aku menghembuskan napas lega.

Kali ini ia hanya memesan secangkir kopi dan roti isi. Sengaja aku berkutat di sekitarnya, menunggu waktu yang tepat untuk menyerahkan amplop itu sambil memastikan tak ada orang yang melihat. Tapi, ternyata ia yang lebih dulu memanggilku seusai makan. “Tolong bereskan ini!” perintahnya lalu segera beranjak berdiri. Sebelum ia pergi kuberanikan membuka suara, “Maaf, Pak. Kemarin ada barang Bapak yang tertinggal.” Kuangsurkan amplop itu padanya.

Ia hanya memandang benda itu lama, lalu bertanya, “Namamu Selina, kan?” Kujawab iya. Lalu katanya lagi, “Itu memang untukmu.”

“Untuk saya? Tapi, uang apa ini?”

“Anggap saja tip.”

Meski keheranan, aku berusaha tersenyum. “Saya rasa Bapak telah salah paham. Di restoran cepat saji seperti ini kami tidak biasa menerima uang tip. Berbeda dengan restoran Perancis atau Italia.”

“Apa dilarang?”

“Sebenarnya… iya…”

“Apa kamu tidak mau?”

“Oh bukan begitu maksud saya…,” aku mulai salah tingkah.

“Ya sudah,” kata lelaki itu dingin, lalu cepat-cepat pergi.

Saat kubereskan sisa makanannya, ternyata sehelai amplop lain telah tergeletak di atas meja. Dan I Gusti Ngurah Rai kembali bersemayam di dalamnya.

*

“Pelanggan Terakhir” begitu kami memanggil pria separuh baya itu karena ia selalu datang menjelang tutup gerai. Memang tidak setiap malam ia bertandang, tapi selalu di waktu yang sama. Yang ia lakukan pun selalu sama. Datang, pesan, makan, menyuruhku membersihkan mejanya, buru-buru pergi, dan voila! kutemukan amplop berisi uang di sela sampahnya.

Kelakuannya itu menimbulkan dilema bagiku.

Di satu sisi aku merasa risih dengan tip-tip pemberiannya yang selain tidak jelas atas dasar apa, juga mesti kurahasiakan agar tak diketahui teman dan atasan. Sering aku sengaja tak menampakkan diri saat ia datang. Namun, ia tak kunjung pergi seusai makan hingga kami tak dapat menutup gerai lantaran tidak diperkenankan mengusir pelanggan. Pada akhirnya teman-teman selalu memaksaku keluar agar ia bisa menyuruhku membersihkan mejanya, lalu pergi, dan kami bisa pulang.

Tapi, di sisi lain uang pemberiannya banyak menolongku dari himpitan ekonomi. Uang sekolahku dan adikku yang telah lama menunggak dapat kubayar, meski tidak sepenuhnya. Bisa kubeli buku pelajaran, sehingga kami tak perlu lagi fotocopy. Membuatkan kacamata untuk Ibu, sehingga ia bisa melihat lebih jelas saat menjahit sarung bantal pesanan. Juga mencukupi makan dan kebutuhan sehari-hari.

Meskipun demikian, sedikit sekali yang kuketahui tentang lelaki itu, bahkan nama pun tidak. Sejak percakapan saat aku hendak mengembalikan amplop merah jambu itu, kami sama sekali tak pernah berbasa-basi lagi, kecuali saat ia memintaku membersihkan mejanya dan kusahuti dengan sepotong, “Iya.”

*

“Cepat masuk!” kata Ibu saat aku baru pulang dari restoran. Suaranya bahkan lebih dingin daripada udara di luar sampai-sampai membuat tubuhku gemetaran. Ia lantas menguntitku hingga ke kamar. Saat kutanya ada apa, Ibu hanya diam sambil menghunus tatapan setajam pedang. Lama kami hanya saling pandang, sebelum akhirnya ia menghakimiku, “Kau menerima uang dari lelaki hidung belang.”

Perkataannya membuat darah di sekujur tubuhku seketika lari menuju telapak kaki. Tubuhku semakin kedinginan. Tapi, aku menolak menanggapi jika Ibu tak memberitahuku dari mana ia memperoleh omongan itu.

“Rhea,” sahutnya pendek.

Rhea? Padahal, kukira meski teman-teman kerjaku tahu pelanggan terakhir itu selalu menyuruhku membersihkan mejanya, tapi tak satu pun yang tahu tentang amplop-amplop yang ia selipkan di sela sampahnya. Ibu terus mencecarku. Aku mengunci bibirku rapat-rapat. Kualihkan pandangan dari matanya menuju meja belajar, tapi Ibu pantang putus asa. Ia terus saja mendesakku dengan sorot matanya yang semula dingin, namun kini diletupi bara api.

“Kalau kamu tak mau bilang, tidak Ibu akui anak lagi!” ancamnya.

Sontak aku menatap wajahnya, “Ibu kok gitu sih?”

“Ya kalau gitu cepet jawab! Iya apa nggak?”

Tertunduk, kubenarkan kalau aku menerima uang dari seorang pria setengah umur, tetapi belum selesai aku bicara Ibu terlanjur meledak. Ia mengguncang-guncang tubuhku dengan keras sambil berkata, “Selinaaaa! Sejak Ayahmu bangkrut lalu mati bunuh diri kita sudah nggak punya apa-apa lagi! Semua disita! Hanya harga diri yang masih tersisa… Kau tahu kan Ibu tak pernah mengemis bantuan pada orang lain. Siang malam Ibu mati-matian mencari uang, bahkan rela menerima pesanan jahitan. Sekarang begini kamu perlakukan Ibumu? Tega sekali kamu menjual harga dirimu, Nak!”

Tangisnya pecah.

Kupandang deretan boneka beruang Teddy yang dulu dibelikan Ayah dengan mata yang mulai basah. “Pria itu bukan hidung belang, Bu. Ia cuma memintaku membersihkan mejanya,” sanggahku.

“Sama saja! Kenapa dia nggak menyuruh yang lain? Rhea misalnya. Kenapa harus selalu kamu? Itu karena dia suka sama kamu, Selina! Dan dia rela membayar jika kamu mau melakukan apa yang dia minta. Pertama melap meja, lalu berikutnya apa?!”

“Tapi… kita butuh uang itu, Bu…,” suaraku bergetar.

“Dengan membiarkan dirimu dikatai pelacur? Di balik punggungmu, teman-teman kerjamu ramai bergunjing. Masih untung Rhea memberitahu Ibu, ia cemas melihat kelakuanmu.”

Aku tertunduk menatap lantai kamar. Tak dapat berkata-kata. Pikiran itu sama sekali tidak pernah terlintas. Ibu lalu mengultimatumku agar tidak menerima uang dari pelanggan terakhir restoran itu lagi. Jika tidak, ia meyuruhku keluar saja dari pekerjaan paruh waktuku itu. Lebih baik aku tidak bekerja daripada harus dicap sebagai wanita murahan oleh orang lain.

“Aku minta maaf, Bu,” kataku lemah. Aku merasa hina.

“Ya sudah kalau kamu mengerti,” Ibu mengusap ingus dengan lengan dasternya. “Sekarang istirahatlah, besok kamu mesti sekolah.” Ia bangkit berdiri, lalu keluar. Secarik kertas terjatuh dari sakunya tanpa ia sadari. Kupungut benda itu lalu kubuka lipatannya.

Sebuah palu godam serasa dihantamkan tepat ke jidatku. Tanganku bergetar membaca isinya. Tubuhku semakin lemas. Kertas itu ternyata surat pemberitahuan tunggakan uang sekolahku yang dikirim ke rumah. Di bagian bawah tersirat sebuah ancaman yang disampaikan secara halus: ‘jika tidak segera dibayar, maka siswa yang bersangkutan tidak diperkenankan mengikuti Ujian Semester’.

Aku mendesah. Kuremas surat itu dengan gemas, lalu kulempar ke tembok.

*

Sepulang sekolah dengan gontai aku melangkah ke kantor tata usaha hendak memohon keringanan atau tenggang waktu untuk melunasi tunggakan. Namun, jawaban yang diberikan oleh petugasnya sungguh membuat tercengang sampai-sampai kupikir aku sudah salah mendengar. Katanya uang sekolahku sudah dilunasi tadi pagi, bahkan sudah dibayar sampai waktu aku lulus.

Perlu beberapa waktu bagiku untuk mencerna semua ini. Lalu sebuah pertanyaan bercokol di benakku, siapa yang membayarnya? Tak mungkin Ibu. Dapat uang dari mana? Saat kutanyakan pada sang petugas, ia segera mengobrak-abrik tumpukan berkas yang disusunnya di sisi meja lalu mengeluarkan sebuah map.

Dari situ ia menyebut sebuah nama, “Bapak Heri Mertosudibjo.”

Heri Mertosudibjo? Siapa pula itu? Aku tidak merasa kenal dengannya.

Wanita itu kemudian mengulurkan map hijaunya kepadaku. Isinya adalah semacam formulir keterangan pelunasan biaya sekolah. Dan pada lembar milikku tertera nama yang ia sebut tadi berikut alamat rumahnya. Aku tahu daerah itu, tak jauh dari restoran.

Jadi, segera kucatat dengan saksama lalu aku minta diri dan buru-buru pergi.

*

Pria hidung belang itu duduk di depanku pada sebuah kursi bersandaran tinggi. Menatapku tanpa berkata sepatah kata pun sementara aku duduk dengan gelisah, berulang kali menggeser pantat dan sebentar-sebentar memandang keluar.

Celaka. Aku telah masuk ke sarang penyamun dengan sukarela!

Kenapa aku tak menyadari sedan hitam yang tengah diparkir di garasi itu milik si pelanggan terakhir? Orang yang ternyata bernama Heri Mertosudibjo. Kuhujat ketidakjelianku sendiri. Sekarang pria itu telah duduk dengan tenang di ruang tamunya bak arca dewa di dalam sebuah kuil. Dan aku tak dapat mundur lagi di bawah tatapannya itu.

“Aku tahu alasanmu datang kemari,” katanya datar.

Aku terbata-bata mengiyakan dan mengucapkan terima kasih atas bantuan yang ia berikan. Tapi, kemudian kutanyakan padanya apa alasan ia melakukan semua ini? Pertama uang tip itu lalu membayar uang sekolahku. “Saya bukan pengemis atau wanita murahan. Dan saya tidak pernah mengharapkan bantuan dari orang lain,” kataku terus terang pada sebuah jambangan di atas meja. Tak sanggup memandang wajahnya.

“Bukan orang lain yang membantumu,” sahutnya tenang. Kulemparkan seribu tanda tanya ke arahnya. Bagaimana ia bisa menyebut dirinya ‘bukan orang lain’ jika aku baru pertama kali melihat wajahnya pada malam ia datang ke restoran?

“Ayahmulah yang membantumu,” imbuhnya.

Aku semakin tidak mengerti. “Tapi, Ayah kan sudah…”

Pria itu mengangguk lalu berkata, “Uang yang kugunakan untuk memberimu tip dan membayar uang sekolah adalah milik Ayahmu.”

Ia kemudian bercerita. Beberapa tahun lalu saat bisnis garmen Ayah masih lancar dan menguasai pasar, ia memohon bantuan Ayah dengan meminjam sejumlah uang. Saat itu ia baru merintis usahanya yang sekarang dan uang pinjaman itu akan ia gunakan sebagai tambahan modal. Karena Ayah dan dirinya adalah teman dekat ketika kuliah, Ayah dengan senang hati membantunya.

“Saat itu Ayahmu berkata agar aku tidak perlu risau dan cepat-cepat mengembalikan. Hanya jika aku telah benar-benar sanggup, baru uang itu boleh kukembalikan,” suaranya jernih mengatasi riuh kicau burung-burung peliharaannya yang ditempatkan dalam sangkar-sangkar tergantung.

Tak lama setelah itu, terjadi krisis ekonomi global yang berdampak pada usaha Ayah, pelan-pelan mengalami penurunan hingga akhirnya berhenti beroperasi dan dinyatakan bangkrut meninggalkan sejumlah hutang pada beberapa rekanan. Saat dalam kesulitan seperti itu pun Ayah tidak pernah menagih Pak Heri.

“Sesungguhnya saat mendengar hal itu aku sudah berencana segera mengembalikan, meskipun tidak sepenuhnya. Tapi, Ayahmu lebih dulu…”

Bunuh diri.

Aku termenung memandang foto keluarga Pak Heri dalam bingkai keemasan. Ada istri dan tiga anak perempuannya di situ. Kuhirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya keras. Aku tak ingin larut dalam kenangan pahit itu. Ibu, aku, dan adikku telah bertekad untuk tetap tegar, walau Ayah tak lagi mendampingi.

“Tapi, Bapak bisa saja lari dari keharusan. Toh baik Ibu maupun saya tak mengetahui soal hutang itu.”

“Yang namanya hutang tetap saja hutang. Meski lari ke ujung bumi atau masuk ke dalam ceruk, tetap akan terbayarkan entah dengan cara bagaimana. Bahkan, jika kita enggan melakukannya sekalipun. Ingat, Yang di Atas maha melihat.”

Lalu ia menambahkan alasan mengapa ia tak mengembalikan langsung pada Ibu. Ia tahu Ibu pasti tak akan percaya dan cenderung menganggapnya sebagai belas kasihan seorang teman. Karena itulah setelah ia tahu aku bekerja di sebuah restoran, ia memutuskan untuk memberiku ‘uang tip’. Dan untuk itu ia rela keluar malam-malam menjelang restoran tutup agar dapat memberikannya secara langsung padaku.

“Kupikir itu cara yang terbaik,” katanya.

Sebenarnya aku ingin mengatakan apa akibat perbuatannya itu padaku, tapi sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting mendadak terlintas, “Sebenarnya berapa hutang Bapak pada Ayah waktu itu?”

“Dua ratus juta rupiah.”

Aku terbelalak. Lalu tanyaku lagi, “Apa ada bunganya?”

Aku hanya bercanda!

Cerpen oleh Sujatmiko Pujitono