Blue Aura

Hmm… Sekarang aku sedang ingin berbagi info tentang foto aura. Sebenernya aku sudah lama mendengar tentang foto aura, tapi baru benar=benar melakukannya sekitar bulan Juni tahun 2011. Itupun setelah seorang temanku yang juga seorang psikolog di Klaten, Mas Hasibuan Santosa, memberi berbagai pandangan. Awalnya dialah yang ‘membaca’ auraku dan menyebutkan hasilnya. Tapi berhubung aku adalah orang dengan mental seperti murid Yesus yang bernama Thomas, sekali-kali aku tidak percaya jika belum melihat.
Maka bertempat di sebuah rumah di daerah Kutisari Surabaya, aku menjalani prosedur foto aura. Prosesnya kita Cuma diminta duduk pada sebuah bangku pendek, kira-kira satu meteran, membelakangi selembar kain hitam yang menutupi dinding di belakang. Jari tangan kiri dimasukkan dalam cincin-cincin kain, sementara di kamera khusus dipasang menghadap kita. Tak perlu waktu lama, kita bisa langsung tahu bagaimana rupa dan kondisi aura kita. Di sana kita juga diberi laporan lengkap berupa print out dan sedikit penjelasan.
Dan hasil dari foto auraku… persis seperti yang dikatakan mas Hasibuan Santosa… Aku memiliki aura berwarna biru.
Nah, hari ini kebetulan aku baru nemu sebuah artikel berbahasa Indonesia tentang karakteristik orang dengan aura biru yang cocok sekali. Jadi, inilah dia… dikutip dari http://www.tabloidcleopatra.com/warna-aura-biru-melayani-membantu-mencintai-orang-lain/
Warna Aura Biru Melayani, Membantu & Mencintai Orang Lain
Aura memiliki berbagai macam warna seperti biru, kuning, hjiau, pink dan lain-lainya, dimana kesemuanya itu memilik arti dan fungsi yang berbeda-beda. Seperti halnya Aura biru yang akan dibahas berikut ini.
Aura Blues (biru) adalah seseorang yang memiliki kepribadian paling memperhatikan, mengasuh dan melindungi dalam spektrum warna. Mereka hidup dari hati dan emosi mereka. Tujuan hidup mereka adalah untuk melayani, membantu dan mencintai orang lain. Blues berada di planet ini untuk melayani umat manusia.
Kepribadian Blues yang jujur mewakilkan penyerahan, ketaatan, dedikasi, tradisi, nilai-nilai yang abadi. Blues adalah orang-orang yang introvert, ramah, penyayang, dan sepenuh hati.
Motivasi Blues melayani dan membantu orang lain untuk menerima cinta, perhatian dan kasih sayang. Mereka memproses ide-ide dan konsep-konsep lebih kepada perasaan dan institusi me-reka daripada sudut pandang mental mereka.
Blues mempunyai pengetahuan dan kebijaksanaan sebelah dalam dirinya dan mereka tahu bahwa sesuatu itu benar tanpa membutuhkan fakta atau data untuk memperkuat. Pada saat mereka menjadi diam di dalam dirinya, mereka akan mengenali dan mendengar suara hati, tentang apa yang harus dilakukan. Mereka dengan mudah beradaptasi dengan orang lain dan merasakan deng-an tepat apa yang sedang terjadi.
Blues adalah aura yang paling emosional dari semua kepribadian warna. Mereka sering merasa kehilangan, apabila tidak mempunyai kesempatan membersihkan jalan melewati hutan lebat. Aktivitas menolong bagi Blues, berbicara dengan teman tentang kehidupan, menulis jurnal atau menjadi diam.
Blues lebih khawatir akan orang lain dibandingkan diri mereka sendiri. Mereka lahir sebagai pengurus dan ibu. Mereka ingat ulang tahun orang lain, khawatir kepada orang sakit dan selalu siap untuk mendengarkan keluh kesah orang lain. Banyak orang yang suka berada dengan Blues karena mereka mengirimkan cinta, penerimaan dan kemauan mengampuni.
Kehidupan Sosial
Blues menikmati berada di antara orang setiap saat. Mereka sangat sosial, pengurus dan penolong yang sempurna, selalu tertarik dan khawatir deng-an kebutuhan orang lain. Sifat-sifat ini membuat mereka menjadi penyayang dan selalu siap melayani keluarga atau teman-teman mereka.
Blues mewakili figur wanita dan ibu dalam masyarakat. Sayangnya, aspek ini sering tidak dihargai sebanyak porsi pria, produktif dan aktif. Selama Blues dihargai dan dicintai mereka mau melayani dan mengasuh orang lain. Apa yang mereka lakukan untuk orang lain, ia tidak mengharapkan imbalan apapun.
Hubungan dan Keintiman
Aspek paling penting dari kehidup-an Blues adalah hidup dalam hubungan yang sehat dan selaras. Blues mau untuk dicintai dan dihargai. Mereka adalah pasangan yang sangat bagus karena mereka suka merawat dan mendukung orang-orang yang mereka cintai. Mereka akan melakukan apa saja untuk menciptakan kehidupan keluarga yang bahagia dan harmonis.
Blues mau menikah, hidup penuh kasih sayang dan solid. Cinta dan kasih sayang adalah lebih penting bagi nya dibandingkan dengan seks dan nafsu.
Blues orang setia dan monogami. Blues menyukai kekuatan Deep-Reds, rasa aman daru Yellow-Browns dan kemandirian Deep-Greens. Oranges dan Blues terletak pada sisi yang berlawanan dari spectrum, karena dapat belajar satu sama lain.
Karir dan Keuangan
Kepribadian Blues tidak terlalu tertarik dengan uang. Nilai-nilai emosional dan spiritual lebih penting dan memainkan peran yang lebih besar dalam kehidupan mereka. Mereka lebih berhati-hati terhadap uang, karena mereka tidak ingin mengambil resiko keuangan apapun juga.
Dalam beberapa dekade terakhir ini banyak kesempatan yang telah tersedia dan Blues mulai memperluas ide-ide bisnis dan karier mereka. Mereka tidak terlalu ambisius, tetapi mereka setia, sportif dan berorientasi pada kelompok.
Pekerjaan tipikal Blues adalah suster, perawat, pengurus, pendeta, biarawan, ibu rumah tangga, pekerja pengurus anak, layanan pribadi, pekerja sosial, konselor, guru, terapis, dan lain-lain.
Kesehatan, Kemakmuran dan Pertumbuhan
Blues membutuhkan banyak waktu untuk mereka sendiri. Mereka suka berada di atmosfer yang tenang, mendengarkan musik yang harmonis. Membuat kedamaian dan ketenangan adalah aktivitas yang penting bagi Blues untuk menemukan tujuan mereka dalam hidup. Meditasi dan berdoa adalah alat-alat yang paling kuat dan penting yang dapat mereka gunakan untuk meraih kedamaian dan kebahagiaan dalam diri mereka.
Apabila Blues mempunyai pertanyaan atau mau memecahkan masalah, mereka butuh ketenangan, tetap terfokus dan pergi ke dalam. Dalam keadaan pikiran yang damai, mereka akan lang-sung merasakan jawabannya dari dalam. Blues tidak hanya mendengar dan mempercayai suara hati mereka, tetapi bertindak berdasarkan ucapan. Jadi harus hati-hati karena setiap ucapannya sering jugamenjadi kenyataan, serta mempunyai nilai spritual, karena orang yang punya nilai seperti ini orang yang baik, penuh kasih sayang, dan tidak tegaan.
Kesehatan orang blues juga bersih, tapi sedikit kekurangan darah. Ia pun harus sharing dengan seseorang yang dipercayainyai karena terdapat unsur kekecewaan dari dalam dirinya.

Advertisements

Festival Musim Semi (Puisi karya Sujatmiko Pujitono. Dimuat di C-Magz Januari 2012)

Puisi yang berjudul ‘Festival Tahun Baru’ ini adalah puisi karyaku yang bertemakan Imlek. Dimuat di C-Magz (Cendol Magazine), majalah komunitas belajar sastra Cendol (Universal Nikko-Mayoko Aiko), pada akhir bulan Januari 2012.

 

Festival Tahun Baru

Oleh: Sujatmiko Pujitono

 

Bumi beku, semesta tertidur lama

Pinus-pinus bergesekan tertiup angin utara

Rumpun bambu tafakur bertapa bersama dewa-dewa

Hanya bunga plum berkembang, wanginya memenuhi udara

 

Kemudian lihatlah, fenghuang terbang dari selatan

Bulu apinya membakar langit, mendadak makhluk berkeriapan

Semi bunga Peoni, tua-muda laki perempuan semua turun ke jalan

Bahkan salju abadi di pegunungan Kunlun pun cair, seakan terlupakan

 

Seronce petasan meletus, asap hio sampai ke tiga alam

Katakanlah, Gong Xi Fa Cai, semoga selamat dan sejahtera!

Sorakkanlah, Xin Nian Xi Yang Yang, kudoakan tahun barumu meriah!

Jangan lupa, Ang Pao Na Li, bawakanlah saya Angpao

 

Nah, sebenarnya waktu mengirim ke C-Magz aku menyertakan satu puisi lagi yang sayangnya tidak lolos. Masih bertemakan Imlek, inilah puisi berjudul ‘Hong Menunggu Hujan’.


Hong Menunggu Hujan

Jangan kau tunggu hujan, Hong

Mungkin ia tak akan datang, tak akan datang

Seperti ia tak menyambangimu di tahun tikus

Pun di tahun-tahun kerbau, macan, dan kelinci. Ah!

 

Mengapa kau sulam mimpimu dengan benang-benang hujan?

Tak cukupkah kita pintal harapan dengan kue keranjang, mi

panjang umur, bertukar jeruk dan salam Gong Xi Fa Cai?

Mungkin tahun ini hujan tak akan datang, tak akan datang

 

Berhentilah menatap langit dari bingkai jendela, Hong

Di bawah lampion-lampion yang merah menyala

Aku hanya takut kau kecewa, sayang

Apabila hujan tak datang lagi. Ya, bila ia tak datang lagi

 

 

Minuet (oleh Sujatmiko Pujitono). Peringkat keempat lomba cerpen ‘Last Moment’

MINUET

Sujatmiko Pujitono

Aku menoleh ke bangku-bangku yang ada di belakangku. Wow, ternyata ruang dalam gereja ini lumayan penuh. Hampir separuh bangkunya terisi. Sekilas aku melihat beberapa wajah yang kukenal di antara orang-orang yang hadir. Di pojok ada sepupuku dan istrinya, lalu agak di belakang ada beberapa teman kuliahku, dan di sisi yang lain ada saudara-saudara Papa.

Tiba-tiba Mama yang duduk di sebelah menepuk pundakku, membuat pengamatanku buyar seketika. “Apa?” kataku ketus, sebal karena acaraku diganggu. Mama diam saja. Mama memang selalu enggan bicara saat ada di dalam gereja.

“Saat di dalam gereja adalah saat hati kita yang berbicara kepada Tuhan, bukan mulut kita. Hati tidak akan bisa bicara kalau mulut kita ikut bicara, jadi kita harus membungkam yang satu untuk membuat yang lain bersuara. Tidak bisa keduanya,” begitu dulu Mama menjelaskan kepadaku.

“Mam?” tanyaku lagi. Kali ini Mama memberi isyarat dengan matanya. Kuikuti ke mana arah mata Mama menuju, dan pandanganku tertumbuk pada panorama paling indah di dalam gereja itu. Lebih indah daripada krisan-krisan putih yang dirangkai sedemikian rupa perias altar, bahkan jauuuhhh lebih indah daripada sosok malaikat Gabriel dalam reproduksi lukisan Maria Annuntiata yang menggambarkan peristiwa disampaikannya kabar mengandungnya Bunda Maria, yang tergantung di sisi altar.

Sofie, sahabatku, dengan sebundel kertas – yang kurasa isinya adalah teks lagu –  berada di dekapannya, duduk di kursi pemain organ. Gadis itu mengenakan gaun terusan selutut berwarna hitam. Hitam yang lebih hitam daripada malam karena tampak lebih kelam di atas kulitnya yang seputih pualam. Ketika jemarinya mulai berdansa di atas tuts alat musik itu, aku tersentak.

Irama tiga perempat yang keluar dari organ itu menerobos langsung liang telingaku, menyerbu gendangnya seperti unjuk rasa penuh huru-hara. Aku mengenali lagu itu. Minuet ciptaanku yang belum rampung, bahkan belum kuberi judul, kini mengalun dari tarian jari-jemari Sofie. Dari sejuta pertanyaan, hanya satu yang kini memukul-mukul kepalaku: ‘Bagaimana bisa?’

***

“Aku akan mengadakan pesta!” Sofie mendadak muncul dari belakangku saat aku berjalan menuju laboratorium Kimia Organik.

Aku melongo. Bengong seperti keledai ompong, sementara Sofie senyum-senyum di depanku. “Pesta? Pesta apa?” aku tidak ngeh.

“Pesta dansa! Nanti bakal ada beberapa pemain musik yang memainkan lagu-lagu dansa, orang-orang berdansa dengan gaun warna-warni, berpasang-pasangan, oh pasti romantis dan…”

“Iya iya iya,” kupotong khayalannya. ”Maksudku pesta buat apa, Sof? Dalam rangka apa?”

Senyum Sofie luruh seperti bintang jatuh, beberapa saat lalu nampak berseri-seri lalu tiba-tiba keruh, meninggalkan raut kecewa di wajahnya. Pandangan matanya berubah, mirip pandangan mata seorang dokter yang sedang menghadapi pasien dengan penyakit bodoh akut. “Masa kamu lupa, Ver?” tanyanya melas.

Otakku berpikir keras. Ada apa ya dengan Sofie dalam waktu dekat? Ulang tahunnya masih tiga bulan lagi, dan ia juga tidak menjuarai apapun belakangan ini. Jadi apa?

Ah, sial! Rasa-rasanya jadwal kuliah dan kursus musikku yang padat ditambah tugas ini-itu yang menumpuk, belum lagi bantu-bantu Papa di tokonya sudah membuat otakku kewalahan, sampai-sampai otomatis men-delete kejadian penting yang akan dialami sahabatku.

“Nyerah, aku sama sekali tidak ingat, Sof. Maaf,” aku mengangkat bahu.

Sofie cemberut lalu berkata, “Ya sudah kalau lupa!” Ia berbalik pergi setelah sebelumnya menghentakkan kakinya seperti seekor kuda.

Aku kembali terbengong-bengong memandang punggung gadis yang kukenal sejak aku ikut kursus musik waktu es-de itu. Kami memang sama-sama menggemari musik, tapi bakatku kalah jauh dibandingkan Sofie. Sampai hari ini ia sudah menguasai piano, organ, cello, biola, dan flute. Bahkan, katanya setelah lulus kuliah ia berencana terbang ke Amerika Serikat untuk mendalami harpa. Bukan main! Sementara aku, baru menguasai biola alto dan gitar saja sudah bangga.

Punggung Sofie perlahan-lahan hilang ditelan kerumunan mahasiswa. Sambil masih berusaha mengingat-ingat, aku melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan aku melihat sosok Rio, pacar Sofie, yang tinggi menjulang. Aku kenal cukup baik dengannya karena selain ia sering antar-jemput Sofie ke tempat kursus, kami juga beberapa kali latihan basket bersama.

“Eh, pacarmu kenapa?” tanyaku pada Rio.

“Hah? Kenapa? Dia sehat kok. Belum ketemu?”

“Oh, bukan, bukan itu maksudku. Katanya mau ada pesta ya?

“Oh itu, iya, aku dan Sofie bakal tunangan Sabtu besok,” jelasnya. “Lho, bukannya kamu sudah diberi undangan?”

Untuk kesekian kalinya hari itu, aku bengong. Teman macam apa aku ini sampai bisa lupa acara sepenting pertunangan sahabatnya? Pantas saja Sofie marah. Aku diliputi rasa bersalah yang memang layak dan sepantasnya kurasakan. Aku harus mencari cara untuk minta maaf pada Sofie. Dan kurasa sebuah kata maaf dan jabat tangan saja tidak akan cukup untuk menebusnya.

Pertunangannya lima hari lagi adalah sebuah pesta dansa. Bagaikan wahyu yang turun dari langit, tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul di benakku. Aku akan membuatkan sebuah minuet untuk Sofie. Minuet adalah sejenis lagu dansa berirama tiga perempat yang populer di abad ketujuhbelas. Temponya lambat dan biasanya hanya berlangsung beberapa menit saja. Kupikir tidak terlalu susah.

Kubayangkan saat lagu ciptaanku itu rampung, aku akan hadir pada pertunangan Sofie, kemudian akan kumainkan lagu ciptaanku itu. Pasti Sofie akan terharu dan serta-merta  memaafkanku!

Dengan berbekal biola alto dan gitar, aku mulai menciptakan sebuah minuet. Tak peduli di toko, di kelas, di kamar, di kamar mandi, saat makan, saat kursus, bahkan saat tidur pun aku berpikir lagu macam apa yang akan menjadi lagu dansa dalam pertunangan sahabatku. Sebuah wujud permintaan maaf dariku.

Ternyata menciptakannya tidak semudah perkiraan. Iramanya, melodinya, keindahan nadanya, harmoni, semuanya harus dipertimbangkan. Pada hari kedua aku nyaris menyerah, sepertinya aku tidak berbakat sebagai pencipta lagu. Tetapi, semangatku terpompa kembali ketika kujumpai Sofie di kantin dan aku memohon padanya, “Sof, aku benar-benar minta maaf. Aku sedang banyak pekerjaan, sampai lupa pada pertunanganmu,” Sofie malah melengos, lalu pergi tanpa menghiraukan diriku!

Jumat siang di perpustakaan kupandangi sehelai kertas lecek yang di atasnya berisi teks laguku yang penuh coretan. Kupikir seandainya saja aku bisa mendadak mengalami trance lalu masuk ke alam bawah sadar, pasti aku mampu menciptakan sebuah minuet sekelas Verdi, komposer yang namanya sama denganku. Dan untuk mengalami hal itu dibutuhkan tempat yang tenang seperti perpustakaan ini.

Sayangnya, setelah empat jam tafakur aku tidak kunjung mengalami trance, tidak kunjung mendapatkan ilham. Kertas laguku tetap sama lecek dan penuh coretan seperti saat kubawa dari rumah tadi pagi. Tak ada tambahan berarti. Kali ini aku benar-benar menyerah! Lebih baik aku membelikan kado saja untuk minta maaf pada Sofie.

Pekerjaan berburu kado nyatanya jauh lebih mudah daripada menciptakan sebuah minuet. Baru saja kumasuki mal, aku langsung melihat kotak biola yang indah. Warnanya merah marun dengan ornamen-ornamen keemasan. Bagian dalamnya yang digunakan untuk meletakkan biola dan perlengkapannya dilapisi beludru hitam yang lembut, dijahit rapi dan halus, menempel dengan sempurna seolah kain itu menjadi satu  dengan kotaknya.

“Kualitas nomor satu. Kami datangkan dari Jerman,” begitu kata penjualnya. Harganya pun kualitas nomor satu, selangit dan langsung menghabiskan jatah uang bulananku, tapi demi sebuah maaf atas kesalahanku yang terlalu, aku rela. Sofie pasti senang dengan hadiah ini.

Beruntung saat berangkat kuliah aku hanya membawa sebuah map untuk meletakkan beberapa diktat, jadi aku tidak kesulitan membawa kotak biola yang ukurannya lumayan besar, yang sekarang telah terbungkus tas kresek besar, saat mengendarai motor.

Aku langsung melaju ke rumah Sofie. Langit yang sudah tampak gelap sedari tadi, memuntahkan jarum-jarum gerimis yang dengan kejam merajam tanah. Rinainya menciptakan semacam tirai di udara. Terpaksa aku berhenti di tengah jalan dan dengan tergopoh-gopoh memasukkan map berisi diktatku ke dalam kresek kotak biola itu agar tidak basah, lalu melanjutkan perjalanan yang telah kepalang-tanggung.

“Lho, mas. Kok hujan-hujanan?” Mbok Surinah, pembantu rumah Sofie membukakan pagar dengan sebuah payung di satu tangan.

“Iya Mbok. Ini, aku bawa sesuatu buat Sofie,” kuperlihatkan bungkusan yang kubawa.

“Wah, non Sofie lagi keluar, mas. Dengar-dengar sedang persiapan buat acara besok.”

Aku termangu. “Oh, ya sudah. Aku titip ke Mbok saja ya,” kataku sambil mengangsurkan kotak biola pada wanita tua itu. “Aku pamit ya, Mbok. Jangan lupa titipanku!”

Hujan menderas, dan angin bertiup semakin kencang membuat tubuhku kuyup dan kedinginan. Tetes-tetes hujan yang memukul-mukul helm-ku membuat pandanganku mengabur. Segalanya tampak kelabu. Kupacu motorku lebih kencang agar segera sampai ke rumah dan mengeringkan diri.

Dalam kecepatan tinggi tiba-tiba roda motorku selip di atas aspal basah yang licin. Aku jatuh terjungkir-balik. Tubuhku menghantam aspal. Helm-ku pecah berantakan. Suara yang kudengar hanya suara motorku yang diadu dengan kerasnya jalanan dan guntur yang sahut-menyahut.

***

Ya, itu minuet ciptaanku, tapi telah diselesaikan dengan sangat indah. Mengalun merdu dalam gereja tua itu, mengambang di udara, memantul pada tembok gereja menciptakan gema yang memperkaya suaranya, kemudian merasuk ke dalam jiwa setiap orang yang mendengarkan. Seolah mengajak para malaikat menari dalam simfoni.

Papa bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Sofie yang telah tuntas membawakan minuet ciptaanku. Aku mengikuti Papa menuju tempat di mana organ berada.

“Terima kasih,” Papa berkata lirih. Sofie mengangguk pelan, tersenyum samar dan hambar.

“Lagu itu diciptakan Verdi untukmu. Untuk pertunanganmu dan untuk meminta maafmu karena telah melupakannya,” kata Papa lagi.

“Iya, Sofie tahu, Om. Sofie temukan teks ini belum selesai dikerjakan di dalam map yang ada bersama kotak biola pemberian Verdi, di dalam tas kresek yang ia gunakan untuk membungkus kotak biola itu.”

Papa menggumam tidak jelas. “Sofie minta maaf,” kata Sofie tiba-tiba.

“Untuk apa?”

“Karena Sofie marah padanya, sehingga Verdi sampai membawakan kotak biola itu kemudian tewas kecelakaan. Saat Sofie mendengar kabar itu, Sofie selesaikan minuet ini sebagai permintaan maaf untuk Verdi,” Sofie terisak.

Papa mengusap punggung gadis itu, “Tidak apa-apa. Itu bukan kesalahanmu, Sofie. Om anggap ini kehendak Tuhan. Dengan demikian sekarang Verdi bisa bertemu Mamanya yang sudah lebih dulu pergi.”

Sofie tergugu, Papa memeluknya sebentar lalu berkata, “Ya sudah, jangan terlalu sedih. Sekali lagi, terima kasih, Sofie. Kamu telah menyelesaikan lagu ciptaan Verdi dengan indah. Om yakin dia pasti senang.” Sekali lagi Sofie mengangguk sambil mengusap air matanya dengan tissue. “Om tinggal dulu ya,” Papa bangkit berdiri.

Sofie hanya terdiam, terpekur menatap teks minuet yang secara tidak langsung kami ciptakan berdua. Mama menghampiriku. “Saatnya pergi, sayang,” katanya. Aku mengangguk lemah.

“Kamu tidak ingin melihat tubuhmu untuk terakhir kali?”

Aku ragu sejenak. “Tidak perlu,” kataku pada Mama.

“Kalau begitu kita pergi sekarang, yang lain sudah menunggu.”

Aku memandang Sofie yang masih terisak kecil sembari menatap teks minuet itu. Aku ikut melihat teks lagu itu. Kertasnya bukan lagi kertas lecek waktu itu dan telah ditulis ulang dengan rapi. Pada bagian atasnya kini tertulis sebagai judul, “REQUIEM: Forgive Me”.

Mama menggandeng tanganku, aku tahu aku tidak bisa lebih lama lagi. “Aku mengasihimu, Sof. Maafkan aku tidak bisa hadir di pertunanganmu nanti,” kataku, kemudian melangkahkan kaki keluar dari gereja itu.