Segala Sesuatu Dimulai dari Yang Kecil dan Lemah

Entah kenapa, manusia mudah sekali lupa pada asal usulnya. Pada akar yang menjadikan ia sebagai ia yang sekarang.

Melihat nasib orang-orang miskin, anak yatim di panti, para buruh dan pekerja kasar, serta mereka yang sakit tapi tak berbiaya, membuatku heran bagaimana kebanyakan mereka yang kuat dan mampu secara finansial begitu tidak peduli?

Padahal segala sesuatu dimulai dari sesuatu yang kecil dan lemah. Manusia dewasa memulai hidupnya dari bayi yang lemah. Sebuah pohon raksasa ―mampu memanyungi tanah di bawahnya, memberi oksigen untuk segala makhluk yang diam di antara dahannya, hinggap di ranting-rantingnya, merangkak pada batangnya, dan merayap di sela dedaunannya ―memulai kisah keperkasaannya dari sebuah tunas muda yang lemah.  Seekor rajawali yang gagah pun memulai kepakan sayapnya yang pertama kali sebagai seekor anak burung yang tidak biasa apa-apa.

Tidak ada sesuatu di atas Bumi ini yang ujug-ujug besar, kuat, perkasa, Kawan…

Semua butuh proses. Dan semua butuh bantuan pihak lain di luar dirinya.

Tapi lihat saja, orang-orang itu, lupa pada mereka yang kecil, lemah, dan terpinggirkan.

Kaum pekerja dijanjikan UMR (Upah Minimum Regional) yang terus meningkat setiap tahunnya, yang pengesahannya melalui kesepakatan antara Pemerintah, perwakilan pekerja, dan perwakilan pengusaha. Tapi pada kenyataannya manisnya madu kadang tak semanis perkataan… Dan, kadang, staf yang bekerja di sana, para atasan, para penguasa begitu tidak peduli pada nasib bawahannya. Ketika terjadi pelanggaran kesepakatan dan protes dilayangkan, hanya segelintir orang yang mau peduli. Sisanya bersikap masa bodo.

Padahal apakah kita yang ada di jajaran staff dan atasan ini lahir dari sebuah keluarga yang sejak awal mula manusia diciptakan sudah menjadi serba-berkecukupan? Nenek moyang kita pernah miskin. Nenek moyangku pernah miskin. Juga pasti ada yang jadi kaya. Hidup seperti permainan bianglala, bukan? Jangan karena kini ada di posisi yang enak, lalu lupa pada mereka yang menderita. Jika langit berkehendak, tangannya bisa menjungkir-balikkan segala sesuatu, termasuk nasib kita. Dan esok akan kita temukan diri kita di posisi mereka dan mereka di posisi kita.

Hidup adalah rangkaian kereta yang memuat ketidakpastian. Lajunya serba-tidakpasti. Arahnya juga tidak pasti….

Perusahaan besar pun mulai dari industri kecil yang saat ini melahirkan Boss-Boss muda. Semoga mereka tidak lupa, bahwa leleuhurnyalah yang bersusahpayah membuat ia bisa hidup nyaman seperti saat ini.

Kurasa, membela hak dan hidup kaum lemah adalah tanggungjawab setiap orang. Kita semua adalah saudara. Dan aku percaya, kita semua dilahirkan dengan hati yang baik. Coba bukalah hati, cobalah menumbuhkan sikap welas asih, cobalah lebih peduli pada orang lain. Kaum lemah bukanlah golongan yang harus dipandang dengan stigma negatif (seperti kita sudah sangat baik dan benar saja!). Mereka, seperti juga kita, punya kelebihan dan kekurangan. Dan mereka juga punyak hak yang sama untuk memperoleh hidup yang lebih baik.

Berkat Tuhan menyertai kita semua. Semoga semua makhluk berbahagia.

Sujatmiko Pujitono

Advertisements