Yang Mengancam Anak-Anak Anda

Dimuat di Internal Buletin Mikatasa Group, April 2014

 

Ijinkan saya bicara tentang anak-anak….

Bukan, saya tidak akan bicara tentang kasus-kasus Pedofilia yang mencengangkan itu, yang begitu menjijikan. Tapi, saya ingin bicara tentang ancaman yang sama seriusnya untuk masa depan anak-anak, sama mengerikannya dengan dampak kelakuan menyimpang yang saya singgung di atas. Ancaman itu bernama Obesitas alias kegemukan.

Selama ini kita disodori berita tentang anak-anak Indonesia dengan tubuh lungkrah dan kurus kering. Tergolek tak berdaya pada selembar kasur kumal dan tinggal di pondok-pondok yang hampir rubuh. Orang menyebut mereka kekurangan gizi, atau Kwashiorkor, atau dalam istilah ilmu gizi diistilahkan sebagi kasus Kurang Energi Protein (KEP). Namun, tahukah Anda bahwa di sisi lain masyarakat kita penyakit yang sesungguhnya justru mengintai pada kelas-kelas menengah ke atas di mana anak-anak tumbuh dengan pola konsumsi yang sama sekali tidak tepat dan pola hidup minim aktivitas fisik lantaran pola pikir orang tua yang keliru bahwa (ke)gemuk(an) pada anak adalah indikator bahwa mereka sehat.

Menilik hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2010, jumlah penderita berat badan berlebih (obesitas) pada anak rentang usia 6 hingga 19 tahun menunjukkan tren meningkat dari tahun ke tahun, lebih dominan pada anak lelaki, dan lebih mudah ditemui pada penduduk perkotaan daripada mereka yang tinggal di desa.

Pengaturan energi tubuh mirip dengan neraca keuangan yang biasa diributkan perusahaan-perusahaan atau anggaran-anggaran rumah tangga. Semakin besar pemasukan (makanan) daripada pengeluaran (aktivitas), maka kelebihan energi yang ada akan ditabung dalam bentuk cadangan lemak. Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki atau mencegah obesitas? Tidak seperti uang yang semakin berlebih semakin diharapkan, energi justru tidak baik jika berlebih, pun jika kekurangan. Harus seimbang, itu kuncinya. Bagaimana mengetahui konsumsi kita sudah seimbang? Patokan yang mudah adalah 4 Sehat 5 Sempurna. Tapi, sejatinya Depertemen Kesehatan (sekarang Kementerian Kesehatan) pada tahun 1995 pernah mencanangkan ‘13 Pesan Gizi Seimbang’ yang menurut saya lebih komprehesif, namun sayang kurang terdengar suaranya. Yuk, dikupas satu-satu:

  1. Makanlah aneka ragam makanan.

Maksudnya jangan melulu ayam, jangan melulu nasi, jangan melulu digoreng. Ayam bisa diganti ikan, udang, daging sapi. Nasi diganti ubi, kentang tumbuk, ketela. Digoreng bisa menggunakan teknik lain seperti panggang, bakar, kukus, rebus. Setiap jenis bahan pangan punya kelebihan dan kekurangan komponen masing-masing, sama seperti manusia punya talenta masing-masing. Variasi makanan juga mencegah anak merasa bosan.

  1. Makanlah makanan untuk mencukupi kecukupan energi.

Mungkin ini agak sulit karena kadang manusia makan karena yang lapar bukan perut, melainkan lidah, mata, dan hidung. Kadang juga dipengaruhi mood. Makan untuk mencukupi kebutuhan energi berarti tidak ugal-ugalan, tapi tidak kekurangan juga. Makan secukupnya. Berhenti sebelum kenyang, begitu kata seorang bijak. Ajarkan anak menjadi tuan atas pikiran-pikiran mereka sendiri 😉

  1. Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi.

Anda bisa mencari sendiri tabel kecukupan energi (kebutuhan energi) untuk usia, berat badan, dan jenis aktivitas anak Anda di internet. Maksud pesan di atas, kurangi asupan makanan pokok (nasi) dan gula-gulaan (makanan manis) karena dalam sayuran, buah, dan lauk-pauk juga tersimpan kalori (energi). Harapannya nilai akhir total kalori dari nasi, lauk, sayuran, buah, dan lain sebagainya yang dikonsumsi tidak kebablasan.

  1. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi.

Lemak banyak ditemui dalam daging-dagingan / lauk-pauk hewani (ikan, ayam, sapi, dan yang lain), sementara minyak dalam bahan nabati (terutama kacang-kacangan dan santan), sehingga dengan membatasi penggunaan minyak goreng waktu memasak atau pemakaian salad dressing diharapkan nilai akhir total kalori  yang anak-anak konsumsi tidak berlebih. Ingat, lemak adalah penyumbang kalori terbesar. Ada juga bisa mengaplikasikan teknik lain untuk mengolah makanan anak Anda.

  1. Gunakan garam beryodium.

Karena hampir semua produk garam di pasar sudah mengandung Yodium, saya pikir pesan ini tidak perlu saya jabarkan. Hanya saya beri catatan kecil agar Anda memperhatikan asupan mineral-mineral (mikro nutrien) yang hanya sedikit dibutuhkan tubuh, tapi serius akibatnya jika kekurangan, terutama bagi anak. Contoh mikro nutrien adalah kalium, magnesium, zat besi, fosfor, kalsium, dan sebagainya. Mikro nutrien ini banyak dijual dalam rupa suplemen, namun bila Anda ingin memperolehnya dalam bentuk yang ‘alami-alami saja’, konsumsilah sayur dan buah. (saya pribadi jauh lebih suka yang alami)

  1. Makanlah makanan sumber zat besi.


Di antaranya adalah daging merah dan produk olahannya (kornet, ham, sosis) atau sayur-sayuran (yang terkenal adalah bayam). Namun jika Anda berharap memperoleh asupan zat besi dari sayur, konsumsilah bersama vitamin C. Zat besi dalam sayuran tidak dapat langung diserap tubuh karena berada dalam bentuk yang berbeda dengan zat besi dalam daging.

  1. Berikan ASI saja pada bayi sampai usia 4 bulan dan tambahan Makanan Pendamping ASI sesudahnya.

ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Penggunaan Makanan Pendamping setelah usia 4 bulan adalah karena dikhawatirkan produksi ASI sudah menurun sementara kebutuhan gizi anak semakin meningkat.

  1. Biasakan sarapan.

Sarapan sebagai modal energi untuk segala ativitas anak seharian nanti. Juga mencegah anak makan terlalu banyak saat makan siang lantaran menanggung lapar semenjak pagi.

  1. Minumlah air bersih yang aman dan cukup jumlahnya.


Saya pikir Anda pasti sudah paham apa maksudnya dan berapa takarannya. Salah satu contoh air minum yang aman dan sehat ya… Cheers Alkaline Water! 😀

  1. Lakukan aktivitas fisik secara teratur.

Dengan begitu ada kesetimbangan antara pemasukan dan pengeluaran energi, sehingga tidak ada kelebihan yang bisa ditimbun tubuh dalam bentuk cadangan lemak.

Maka, mari biasakan anak berolahraga!

  1. Hindari minum alkohol.

Sebenarnya sejarah pembuatan minuman beralkohol adalah untuk menepis dingin musim salju yang menghajar dada. Pada perkembangannya malah jadi banyak disalah-gunakan, padahal konsumsi alkohol menyebabkan gangguan metabolisme tubuh. Karena sifatnya yang tidak dapat disimpan dalam tubuh, maka sekali alkohol masuk ia harus cepat-cepat diolah lalu dikeluarkan. Hal ini membuat proses pengolahan dan penyerapan zat gizi dari makanan dikesampingkan dan terganggu. Akan lebih berbahaya jika anak-anak yang mengonsumsinya.

  1. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.

Tidak kotor, mengandung kuman, dibeli di tempat yang terjamin, dimasak / diolah dengan baik, tidak basi, dan yang pasti tidak mengandung racun.

  1. Biasakan membaca label pada makanan yang dikemas.

Perhatikan komposisi, adakah bahan berbahaya seperti pewarna yang tidak semestinya atau pengaya rasa yang mencurigakan? Produsen yang baik mencantumkan kode E / E number (biasanya berupa nomor seperti E112, E113, dsb) untuk idetifikasi bahwa bahan tambahan pangan (food aditives) yang terkandung adalah aman. Namun bila tidak tersedia, Anda bisa mencari informasi sendiri (ada banyak sumbernya). Cermati juga Nutrition Facts! Amati kandungan lemak dan nilai kalori totalnya (biasanya sih sangat besar kalau produk itu adalah golongan snack seperti keripik, biskuit, atau ‘chiki-chikian’). Dari situ Anda bisa mengira-ira sendiri seberapa banyak makanan itu bisa anak Anda nikmati.

Nah, semoga 13 pesan di atas bisa dijadikan panduan mengatur kecukupan gizi anak Anda. Sebaiknya obesitas dicegah sejak dini karena berpotensi menimbulkan penyakit degenartif dan sindrom metabolik seperti diabetes dan hipertensi ketika anak menjadi dewasa. Kata orang, dosa lama memiliki bayang-bayang panjang. Jadi tak ada salahnya berhati-hati.

Catatan penulis: Ketigabelas pesan di atas boleh juga kok diaplikasikan untuk orang tuanya 😀

 

Sawang Sinawang

Dimuat di Internal Buletin Mikatasa Group, Maret 2014

Image

Beberapa malam lalu saya sedang suntuk, mata belum ngantuk, jadi akhirnya saya buka hape dan mulai berselancar ke sana kemari. Kebetulan waktu itu sinyal XL di Pandaan sedang murah hati (tumben). Saya sudah lupa apa yang pertama saya cari, yang jelas akhir dari pengembaraan itu saya menemukan sebuah kutipan dari Pramoedya Ananta Toer – sastrawan besar Indonesia, yang bunyinya:

Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai.

Kalimat itu menggelitik saya. Bagaimana tidak? Dengan gamblang Pram (begitulah kalangan sastra menyebut Pramoedya) mengatakan sesuatu yang sebenarnya selalu ada dan terjadi di sekitar kita, tapi mungkin tidak sepenuhnya kita sadari. Bagi saya sebenarnya kutipan itu bersifat multitafsir, artinya kita bisa mengartikannya macam-macam tergantung sudut pandang apa yang kita pakai. Bisa saja tentang konsep diri secara psikologis, atau kecenderungan manusia untuk berperilaku ekstrem, tapi saya memilih memaknainya dalam konteks bagaimana kita melihat (dan menilai) orang-orang di sekitar kita. Orang-orang Jawa kuno punya cara lain untuk menyatakan hal yang setali tiga uang dengan apa yang dikatakan Pram di atas: urip iku mung sawang-sinawang (hidup itu cuma saling melihat).

Cermati kutipan di atas, poinnya ada pada kata ‘menganggap‘. Orang pandai menganggap yang lain bodoh, dan orang bodoh menggap yang lain pandai. Dan itu adalah suatu kesalahan. Ketika sawang-sinawang, apa yang kita lihat sebenarnya adalah hanya lapisan terluar dari orang lain. Seseorang yang tampak kaya, belum tentu ia sementereng penampilannya. Begitu juga ia yang kelihatan papa-melarat, belum tentu miskin dalam dirinya. Manusia adalah makhluk yang kompleks. Dalam ilmu psikologi fenomena ini dijabarkan sebagai Teori Penetrasi Sosial di mana pribadi seseorang digambarkan memiliki lapisan-lapisan seperti bawang (Analogi Bawang). Bagaimana kita cuma menunjukkan lapisan terluar kita saat berinteraksi dengan seseorang yang kurang akrab dan akan semakin mendalam terhadap mereka yang punya hubungan semakin dekat dengan kita.

Kembali kepada Pram, ketika kita menganggap orang-orang lain bodoh, kita meremehkan. Yang terjadi berikutnya kita kehilangan kesempatan menimba ilmu dari mereka – kecanggihan sederhana yang tersembunyi dalam casing kurang pandainya (saya tidak bilang bodoh), tersamar oleh penampilan luarnya. Misal, terhadap Ajudan Rumah Tangga di rumah. Secara pendidikan jelas mereka ada di bawah kita, tapi kalau kita mau sedikit tanya-tanya bisa jadi sang ajudan punya segudang tips urusan rumah tangga mulai obat gondongan termujarab, cara terampuh menggosok panci gosong, sampai bagaimana membuat roti kukus yang rekah bunga kelopak empat tanpa memakai bahan pengembang. Begitu juga berlaku bagi tukang ledeng, tukang catat meteran listrik, sopir angkot, tukang pijat langganan, dan lain sebagainya.

Sebaliknya saat kita menganggap orang-orang lain (lebih) pandai, kita cenderung mengerdilkan diri alih-alih terlecut menyamai mereka. Padahal, kesempatan terbuka sama lebarnya. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Jaman sekarang menjadi pandai tidak harus lewat sekolah loh. Bukankah dunia sudah ada dalam genggaman kita setiap hari? Seperti saya waktu menemukan kutipan Pram di sebuah malam waktu bulan dan bintang-bintang senyap melayari angkasa. Malam yang sungguh biasa dan membosankan. Ingat juga, kalau kita pun sebenarnya menyimpan segunung emas dalam kesahajaan, atau bahkan kesahayaan. Dan bahwa si pandai sudah pasti tidak (dan tidak akan pernah) menguasai seluruh kitab pengetahuan alam semesta.

Karenanya, biar saja nenek moyang sawang-sinawang. Kita yang menjalani hari di sebuah dunia yang sama, tapi sekaligus tidak lagi sama, di mana dokter bisa melihat bagian dalam tubuh tanpa harus mengoyak daging dan mengacak-acak urat semestinya mampu melihat menuju kedalaman jiwa dan diri mereka di sekitar kita. Bahwa apa yang tampak di luar, sudah jelas tidaklah sama dengan yang ada di dalam. Demikian juga seharusnya kita melihat ke dalam diri.

Terakhir saya mau sekali lagi mengutip, kali ini dari Carl Gustav Jung, bapak psikologi analatis. Beliau pernah berkata, “ia yang melihat keluar, bermimpi. Yang melihat ke dalam, tersadarkan.”

Mencegah Ngantuk Setelah Makan Siang

Dimuat di Internal Buletin Mikatasa Group, Februari 2014

Makan siang, sudah. Seporsi nasi dengan lauk-pauk dan segelah es teh manis tentu mengenyangkan. Tapi, setengah jam setelah makan tiba-tiba tubuh malah terasa lemas, kelopak mata terasa seberat dumbell di gym, dan kita tak henti-hentinya menguap. Kalau pas di rumah sih tidak masalah, kita tinggal masuk kamar dan tidur siang sejenak. Pasti amat melegakan. Tapi, bagaimana kalau kita sedang di kantor? Menatap layar komputer yang penuh angka dan berpendar-pendar menghipnotis bisa jadi cobaan hidup tersendiri. Setidaknya sampai jam pulang kantor.

Image

Daripada sibuk bolak-balik ke kamar kecil untuk membasuh muka atau malah asyik ngobrol – alih-alih mengalihkan perhatian – pekerjaan jadi terbengkalai, lebih baik kita cegah rasa kantuk itu datang. Caranya? Dengan membatasi asupan karbohidrat sederhana yang masuk ke dalam tubuh saat makan siang.

Kantuk yang merongrong setelah jam makan disebabkan karena ledakan jumlah karbohidrat sederhana yang masuk ke dalam tubuh tak terbendung bagai banjir bandang.  Karbohidrat-karbohidrat sederhana seperti yang terdapat pada nasi dan gula berperan penting sebagai sumber energi yang utama dan yang pertama kali digunakan tubuh. Oleh karenanya, ketika karbohidrat sederhana masuk ke dalam tubuh, respon pertama yang  otomatis terjadi adalah serangkaian reaksi biokimia untuk mengubahnya menjadi gula darah (glukosa), karena hanya glukosalah satu-satunya zat yang bisa dikonversi menjadi energi dan cadangan energi untuk menggerakkan seluruh aktivitas kita. Konon, respon ini merupakan warisan sejarah evolusi manusia di mana dahulu kala bahan makanan tidak mudah diperoleh, sehingga makanan apapun yang masuk ke dalam tubuh harus secepat mungkin dipergunakan – atau dicadangkan.

Proses biokimia untuk menghasilkan glukosa dari karbohidrat sederhana ini membutuhkan banyak sekali oksigen sebagai bahan bakar. Ketika jumlah karbohidrat sederhana yang kita masukkan sedemikian besar dan sekaligus, tubuh menjadi ‘kaget’ dan ‘kewalahan’ mengolahnya, sehingga pemakaian oksigen pun menjadi jauh lebih boros. Akibatnya, karena proses menghasilkan glukosa ini dipandang sebagai prioritas oleh tubuh (bahkan tubuh pun bekerja sesuai skala prioritas tanpa kita sadari), maka seluruh pasokan oksigen yang kita hirup saat bernapas langsung dialokasikan menuju proses ini. Otak menjadi kekurangan oksigen, inilah yang membuat kita merasakan kantuk dan badan menjadi lemas. Ia kemudian memerintahkan kita mencari lagi oksigen lebih banyak. Inilah yang membuat kita menguap terus-terusan.

Dan jadilah kita mulai berhalusinasi seolah setumpuk berkas di atas meja menjelma menjadi sehelai bantal nan empuk.

Maka, makanlah dengan porsi nasi secukupnya, jangan porsi kuli, dan sebaiknya hindari segala yang mengandung gula saat makan siang, niscaya rasa kantuk tak akan lagi datang. Bila sudah terlanjur ngantuk, mungkin kita bisa membuka jendela kantor dan membiarkan udara segar dari luar yang mengandung banyak oksigen masuk. Kita hirup napas dalam-dalam. Meregangkan tubuh sejenak atau jalan-jalan sebentar ke depertemen lain sambil mengantar berkas atau fotocopy. Dijamin waktu kembali ke meja kerja, layar komputer tak akan lagi merayu untuk memejamkan mata.

Selamat mencoba. Happy working, friends!