Kuchisake Onna (dimuat di STORY Teenlit Magazine edisi 49 Oktober 2013 – November 2013)

559904_10200969370065111_77811078_n

Ketika keluar dari kedai kishimen1 langgananku di depan stasiun kereta bawah tanah Tsurumai, sayup kudengar dua belas kali dentang lonceng gereja Nanazan Church Maria-kan. Malam kian menua. Tak terasa. Mobil-mobil masih lalu-lalang. Ramai di jalan raya. Nagoya seakan tak pernah benar-benar lelap. Bahkan di area pejalan kaki yang kulalui ini masih kujumpai pasangan-pasangan kekasih yang jalan berdua. Merapat. Saling dekap. Mencari hangat. Menangkal dingin udara musim gugur yang segera bersalju. Tak lama lagi. Yang berjalan sendirian menenggelamkan diri dalam buntalan baju rangkap tiga, mantel tebal, dan syal meliliti leher hingga sebatas dagu. Termasuk aku. Gigiku bergemeletuk. Semakin malam udara terasa semakin dingin. Jadi kupercepat langkah agar segera sampai di rumah paman.

(Kishimen = sejenis mi yang disajikan dengan saus kedelai (miso))

Seandainya saja tadi aku tak memberi kesempatan pada Setsuna Otani mengoceh terlalu banyak, pasti kini aku sudah bergelung dengan nyaman, nonton televisi, dengan separuh tubuh berada di bawah meja berpenghangat. Tapi aku cukup puas. Hiroshi Eguchi, teman kuliahku di jurusan Seni, nyaris kencing di celana. Mengingat bagaimana ia menjerit, aku mengulum senyum di balik syal. Entah dari mana ide itu datang. Tiba-tiba saja ada saat kulihat selembar kain putih bekas dekorasi pentas drama dua hari lalu tergeletak di lantai auditorium. Aku ingat saat makan siang Hiroshi berkata, “nanti aku akan menemani Setsuna mengerjakan penelitiannya di lab. Mungkin sampai malam. Jadi, sementara kumohon kau kerjakan dulu tugas naskah drama itu sebagian. Sisanya serahkan padaku. Mohon maaf.” Ia membungkuk dalam-dalam.

Benar saja. Hingga hari mulai gelap (semakin dekat musim dingin, matahari tenggelam semakin cepat) kulihat ia dan Setsuna, pacarnya, masih ada di dalam laboratorium Fakultas Kesehatan Manusia. Hanya mereka berdua. Keisenganku bertambah-tambah. Reka-reka adegan melintas-lintas dalam kepala bagai babak-babak dalam sandiwara. Mengendap-endap, aku masuk ke gedung lab. Langsung menuju panel listrik. Kumatikan, lampu padam seketika. Gelap meraja. Kukenakan kain putih yang telah kuikat di bagian atas dan tengah. Dan kuikat di bagian kaki setelahnya. Kemudian aku melompat-lompat kecil menuju ruangan praktik Setsuna. Kulihat mereka telah menyalakan lampu darurat. Aku menyeringai. Terus melompat dan melompat. Melompat hingga masuk ke ruang lab. Setsuna sibuk dengan deretan tabung, gelas, dan cawan-cawan kaca. Hiroshi sibuk dengan lampu darurat, membelakangi pintu. Setsuna menyadari keberadaanku. Ia mengangkat wajahnya ke arah pintu. Hiroshi ikut menoleh. Setsuna diam, Hiroshi menjerit-jerit seperti banci kesetanan. Terlonjak dari kursi dengan wajah pucat pasi.

“Hiroshi-kun, hentikan!” Setsuna bicara kemudian. “Tidak lucu, Maako.”

Tawaku lepas. Hiroshi berhenti menjerit-jerit. Menghampiriku. “Oh, ternyata memang kau, Maako.” Ia meninju lenganku. Ikut tertawa. (Sebenarnya namaku Marco, tapi karena nama asing di Jepang diterjemahkan menurut aksara Katakana, jadilah dipanggil Maako) “Aku nyaris mati kaget!” Katanya lagi.

“Tapi Setsuna tampaknya sama sekali tidak takut.”

“Itu karena tidak ada Hitodama2-nya.”

(Hitodama = bagian dari roh manusia yang baru meninggal. Biasa terlihat seperti bola api kebiruan.)

“Kau lupa, ya? Leluhurnya kan Onmyouji3,” ucap Hiroshi bangga. Ia baru saja menyalakan lampu. Setsuna tidak berkomentar. Ia sudah sibuk lagi dengan penelitiannya yang akan mengekstrak lemak dari tanaman sejenis lobak untuk memperkuat dinding sel manusia agar tidak mudah terserang kanker.

(Onmyouji = pengusir setan)

Aku masih merasa geli ketika menyeberangi jalan raya dan berbelok masuk ke blok-blok perumahan. Suasananya sungguh berbeda. Di hadapanku terbentang jalanan lurus, rumah di kanan-kiri, lampu-lampu jalan yang redup dan berdiri berjauhan, situasi yang serbaremang dan sepi bak pemakaman. Ramai jalan raya telah tertinggal di balik punggung. Perlahan menjauh. Hingga hanya menyisakan derap langkahku. Memantul pada tembok-tembok kelabu. Berputar di tubuh tiang listrik. Menggelinding di jalanan. Sebelum akhirnya dihempas angin dan pergi menjauh. Menyisakan aku sendiri lagi menyusuri kesenyapan. Denyut kota terasa jauh. Sayup-sayup. Suara sirine meraung. Sekejap lalu kembali hening. Tiba-tiba anjing milik pak tua Arisugawa melolong-lolong. Terdengar begitu gelisah. Lalu anjing keluarga Yamamoto. Piaraan nona Megumi. Dan si galak Mamoru di rumah keluarga Kobayashi. Bersama-sama. Begitu riuh. Aku merinding, ingat ucapan Setsuna tadi sore. “Biasanya kedatangan Obake4 ditandai dengan hewan-hewan yang gelisah.”

(Obake = hantu / siluman)

“Sebenarnya ini biasanya hanya diceritakan waktu musim panas.” Hiroshi menimpali.

“Kau tahu, Jepang juga punya banyak cerita hantu yang menarik.”

Agaknya Setsuna mulai tersedot dalam pembicaraanku dan Hiroshi. Sebelumnya aku menceritakan kisah-kisah seram di Indonesia. Tentang pocong yang kuperagakan barusan, juga tuyul, genderuwo, kuntilanak, kolor ijo, wewe gombel, sampai sundel bolong. Kata Setsuna, kalau di Jepang arwah wanita yang mati saat mengandung disebut Ubume. Ada juga Onryou, arwah yang mati dengan membawa dendam kesumat. Lalu Rokurokubi, wanita yang ketika siang terlihat normal, tapi saat malam datang ia bisa memanjangkan lehernya bermeter-meter dan menakut-nakuti lelaki. Atau Hanako, hantu gadis kecil yang biasanya ada di toilet sekolah.

“Kau merasakannya? Itu mereka datang! Di balik punggungmu.” ujar Setsuna dingin. Agaknya ia benar-benar sudah lupa dengan lobak-lobaknya. Bulu kudukku meremang. Buru-buru kutengok ke balik punggung. Tak ada apa-apa.

“Kau mengada-ada.” Aku tertawa canggung.

“Tidak. Setsuna benar. Apa kau lupa ia punya Shironeko?”

Ah, tentu saja. Shironeko. Ya, aku lupa. Itu kucing peliharaan Setsuna yang membuntutinya ke mana-mana. Bahkan ketika ia ada di laboratorium, seperti saat ini. Hanya Setsuna yang bisa melihat Shironeko. Aku tidak. Hiroshi juga tidak. Menurut Hiroshi ia, “hanya bisa merasakannya.”  Aku tak pernah merasakan apa-apa. Shironeko tidak kasat mata.  Tapi gadis itu, katanya, bisa ‘bicara’ dengan kucing tak berwujud itu. Roh kucing itulah yang membantu (atau memberitahu? aku tidak tahu pasti) Setsuna melihat keberadaan makhluk halus.

Kuusap-usap tengkukku, lalu kurapatkan syal yang terbuat dari wol itu. Anjing-anjing  masih melolong-lolong. Kutinggalkan mereka cepat-cepat. Langkahku nyaris seperti berlari. Rumah paman, tempatku menumpang selama kuliah di Nagoya, tinggal tiga blok lagi. Tiga blok dan aku akan bebas dari segala hawa dingin dan suasana muram jalan ini. Sebuah mobil melintas dari arah aku datang. Kencang. Melewatiku lalu berbelok dengan tergesa-gesa di tikungan depan. Sorot lampunya yang tertinggal perlahan ikut pergi. Mataku yang semula mengikuti laju kendaraan itu tertumbuk pada sosok yang semula tak kusadari, tapi tahu-tahu kini berjarak beberapa puluh meter di depanku. Kami berjalan ke arah berlawanan. Ketika ada di bawah remang lampu jalan kusadari sosok itu wanita.

“Biasanya, ia berwujud seorang wanita yang berjalan sendirian waktu tengah malam.” Kisah Setsuna.

Dengan bergidik Hiroshi menambahkan, “menurutku ia yang paling seram! Kuchisake Onna….”

“Ia suka pakai mantel merah.”

Wanita itu mengenakan mantel merah panjang. Kelihatannya dipadu dengan bawahan semacam celana panjang ketat berwarna hitam. Langkahnya mantap. Menuju ke arahku. Jantungku berdegup gugup. Aku menyeberang berjalan ke sisi jalan yang lain. Menghindari bertumbukan dengannya. Jarak kami semakin dekat. Kupandang ia semakin lekat. Wajahnya tersembunyi di balik redup cahaya dan gerai rambutnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Mungkin menghalau gigil. Tapi kata Setsuna tadi, “kau tahu apa yang ia sembunyikan dalam lipatan tangannya?”

Aku menggeleng.

“Pisau.”

Aku tercekat. “Tapi, saat musim seperti ini ada banyak wanita seperti itu di mana-mana, bukan?”

“Eit, ia berbeda,” timpal Hiroshi, “Kuchisake Onna selalu memakai masker penghalau debu meski tidak sedang wabah flu.”

Mataku serasa dilem ke sosok wanita yang berjalan bersisipan denganku itu. Mencoba menguak wajah yang tersaput redup. Tertutup tirai rambut yang menjuntai ke depan karena ia berjalan agak menunduk. Sulit sekali mencuri lihat barang sebentar. Seolah ia memang bermaksud menyembunyikan wajahnya. Aku berjalan kembali agak ke tengah. Berharap di bawah lampu berikutnya bisa kulihat ia. Gagal. Jarak kami semakin dekat, tapi aku masih tak bisa melihat apakah ia memakai masker atau tidak. Angin berkesiur. Daun-daun kering terjungkal dari ranting meranggas. Rambut wanita itu tersibak. Sedetik, tapi aku bisa melihatnya. Masker hijau itu. Menutupi separuh wajahnya.

“Ia menutupi mulutnya yang robek… dari telinga kanan sampai telinga kiri….”

Konon, wanita iru dahulu sangat cantik. Tapi cantik saja tidak cukup baginya. Ia ingin menjadi ‘sangat cantik’. Karena itu ia pergi ke seorang dokter bedah plastik, dan melakukan operasi. Malangnya karena terganggu aroma minyak rambut yang dipakai sang dokter, wanita itu terus gelisah selama operasi. Akibatnya secara tak sengaja mulutnya tersobek sampai ke telinga. Ketika sadar, ia kalap, lalu membunuh dokternya dengan keji. Sejak itu ia menyimpan kemarahan pada semua orang, terutama laki-laki.

Aku bergidik. Lalu kembali berjalan di sisi yang lain. Kali ini semakin merapat ke tembok rumah-rumah yang berjajar. Kini jarak kami hanya tinggal beberapa langkah. Kutundukkan kepala. Menyembunyikan wajah. Berharap dengan begitu ia tidak mengacuhkanku. Kami bersisipan. Di ujung mata kulihat mantel merahnya melambai tersapu angin. Ia melewatiku. Aku menarik napas lega. Tapi kemudian…

“Tunggu!” Kudengar suara dari balik punggungku. Aku terkesiap. Darahku seakan sirap. Berdesir di kepalaku. Aku berjalan semakin cepat. Tapi wanita itu memanggil sekali lagi. Kali ini lebih keras, “tunggu, Tuan!”

Aku berhenti. Terpaku. Perlahan-lahan membalikkan badan. Kulihat wanita bermantel merah itu. Maskernya. Aku tak berani menatap wajahnya. “Ada yang bisa kubantu, Nona?” Kataku, gemetaran. Ia maju ke arahku. Ragu-ragu. Lalu berhenti beberapa langkah di depan. Kudongakkan wajah. Tatapan kami bersinggungan. Dan aku terpekik. Ia tak punya kornea mata! Yang kulihat hanya putih belaka di dalam ceruk matanya. Peringatan Setsuna berdesingan dalam kepalaku bagai ribuan peluru yang ditembakkan bersama-sama. Kepalaku pening. Telingaku berdenging. Katanya, kau harus hati-hati, Kuchisake Onna selalu―selalu, tegasnya―bertanya…

Watashi kirei5?” kata-kata itu dimuntahkan dari mulut wanita bermantel merah.

(Watashi kirei? = (apa) aku cantik?)

Aku ingat Setsuna berkata tentang apa yang harus dijawab untuk menyenangkan hati Kuchisake Onna. Tapi, ingatanku mendadak berkabut. Aku menunduk. Memutar otak. Kabut itu justru ikut berpusing. Membuat semuanya tercampur-baur.

Watashi kirei,” tanya wanita itu sekali lagi. Nada suaranya terdengar tidak sabar.

Kubalikkan badan. Siap-siap ambil langkah seribu.

“Kau jangan coba-coba lari!” Setsuna melambai-lambaikan kedua tangannya dengan heboh.

“Ha? Tidak boleh lari? Kalau ketemu setan kan paling gampang ya lari saja.”

“Kuchisake Onna mampu berlari hingga 100 yard per menit. Kau pasti terkejar. Kalau sudah begitu ia  akan merobek-robek mulutmu sampai ke telinga!”

Aku tercekat. Kabut itu sedikit menguak. Cara menangkal Kuchisake Onna, dengan minyak rambut. Tapi aku tak memakai minyak rambut. Ah ya! Dengan permen Bekko-Ame! Kurogoh-rogoh saku mantelku. Yang ada hanya permen kopi yang kubawa dari Indonesia.

“Tuan,” kata wanita itu,” kau belum menjawab pertanyaanku! Apa aku cantik?”

“Y-y-y-yaaa… ya, kau cantik sekali!” Kataku tanpa memandang wajahnya.

Ia tertawa. Sangat nyaring. Melengking-lengking. Sampai-sampai anjing-anjing tadi (yang kini jauh di ujung jalan) kembali menggonggong-gonggong riuh. Kurapatkan mantelku. Aku tiba-tiba menggigil.

“Benarkah aku cantik?”

Aku mengangguk kuat-kuat agar ia percaya. Kemudian katanya lagi, “kore demo6?”

(Kore demo? = meskipun begini?)

Perlahan-lahan tangannya menyibak rambut. Beringsut ke balik telinga. Menyentuh tali maskernya. Aku nyaris tersedak ludah yang kutelan. Dalam gerakan amat lambat, bagai melakukan sebuah ritual suci, ia membuka maskernya. Kupejamkan mata erat-erat.

“Kau tak ingin melihatku? Aku cantik sekali, Maako-kun….” Ia tertawa terbahak-bahak. Suara itu… Kubuka mata pelan-pelan. Dan aku terperangah.

“Setsuna?!”

“Kena kau!” Ia tergelak-gelak. “Hiroshi-kun! Keluarlah!”

Temanku itu keluar dari balik tembok beberapa rumah di depan. Menenteng sebuah handy-cam. “Semuanya kurekam.” Ia menyeringai puas.

“Kalian, bagaimana bisa?”

Ternyata setelah kami berpisah di kampus tadi, mereka mengikutiku menggunakan mobil Hiroshi untuk memastikan aku menuju stasiun kereta bawah tanah lalu buru-buru menyiapkan sandiwara ini. Dengan memperhitungkan waktu perjalanan kereta bawah tanah, kebiasaanku makan kishimen dulu di depan stasiun, dan waktu tempuh dari kedai kishimen kemari dengan jalan kaki, mereka sudah menunggu jauh sebelum aku lewat di jalan ini. Perlengkapannya adalah properti tugas drama milik Hiroshi.

“Lensa kontak ini bagus, kan?” Setsuna berusaha melepaskannya. “Tapi sebenarnya membuatku sulit melihat. Apalagi dalam keadaan remang seperti ini.”

“Jadi ini balas dendam?”

Hiroshi tergelak. “Jangan marah, Maako-kun. Tapi, tampangmu tadi benar-benar lucu! Ini, kau mau lihat rekamannya?” Ia membuka piranti rekamnya. Sekejap kemudian senyumnya luntur. Wajahnya mendadak pias. Ia menatap layar handy-camnya, lalu menatapku, kemudian balik menatap layar handy-camnya. Berulang-ulang,

“Maako, kau,” Setsuna mendesis di sebelahku. Aku berpaling padanya. Dalam redup kulihat matanya berkaca-kaca. Handy-cam gemetar dalam genggaman Hiroshi.

“Apa lagi ini? Kalian mengerjaiku lagi?” Aku beringsut ke balik punggung Hiroshi. Mengintip kepada apa yang terekam pada handy-camnya itu. Dan aku tidak mengeti. Yang kulihat di sana, hanya Setsuna. Di hadapannya dua bola api kebiruan melayang-layang.

“Kata Shironeko, sekarang kau punya Hitodama, Maako-kun….”