Jebakan Paman Gober (Dimuat di majalah HAI nomor 29, edisi Juli 2014)

10305613_10202511227290578_820036028114860591_n

Pagi itu Tobias bangun dengan sebuah pertanyaan berpusar dalam kepala: sebenarnya apakah iblis yang menggoda manusia atau manusia yang menjatuhkan dirinya ke dalam lumpur? Ia pergi mandi lalu sarapan dengan linglung. Di meja makan Tobias tampak tidak komplit hingga ibunya bertanya khawatir, “Kamu sakit?” Dan pertanyaan itu ia ulangi sampai tiga kali sebelum akhirnya Tobias―masih tampak merenung―menjawab, “Nggak apa-apa kok, Bu.”

Di sekolah kejadiannya sama saja. Jam sepuluh Bu Dea sedang menerangkan tentang Teori Newton saat guru fisika itu melihat Tobias tampak tidak konsen sejak awal pelajaran. Maka Bu Dea yang berkacamata minus empat dan mengenakan kawat gigi warna-warni itu bertanya, “Jadi, Tobias, apa yang dikatakan Newton soal gravitasi?” Tapi yang ditanya cuma diam.

Gravitasi, Newton, apel….

Sebuah gambaran melintas dalam benak Tobias. Gambaran seorang Eve yang saat itu masih tinggal di taman Eden. Di hadapannya sebuah apel emas tergantung pada sebuah ranting rendah yang menjulur. Tangan lembut Eve menggapai, membelai buah itu. Angin surga berhembus. Rambut berombaknya berkibar bagai panji malaikat. Seekor ular meliuk-liuk licik di ranting. Matanya berkilat-kilat. Sisiknya memantulkan sinar mentari. Begitu pedas menyilaukan. Begitu menyakitkan membakar mata Tobias. Kemudian semuanya mendadak gelap. Cowok itu merasa tubuhnya terjebak api. Kepanasan, ia kejang-kejang.

Tobias tumbang dari kursinya. Bu Dea memekik terkejut. Seisi kelas panik.

*

Tobias dibangunkan oleh suara bel istirahat yang baginya terdengar menulikan. Ia mengerang. Bau obat suci hama menusuk hidungnya, sehingga ia tahu ada di mana dirinya sekarang. Ruang UKS. Telinganya menangkap suara-suara lain. Suara orang bicara dari balik tirai. Suara Bu Dea dan dokter Ari, dokter jaga UKS.

“Bukan ayan, kan, dok?” Bu Dea yang bicara, kedengaran cemas.

Sunyi agak lama, lalu pak dokter berkata, “Saya khawatir…. Melihat gejalanya, saya pikir….”

“Ya?”

“Sebaiknya saya bicara pada kepala sekolah.”

Nggak! Kepala sekolah nggak boleh tahu. Kalaupun diberitahu haruslah aku yang melakukannya, bukan orang lain, batin Tobias.

“Tadi saya kaget sekali waktu ia tiba-tiba ambruk dan kejang-kejang. Selama sepuluh tahun menjadi guru saya sering melihat siswa pingsan saat upacara, tapi belum pernah ada yang tersungkur begitu saja waktu saya sedang mengajar, seolah-olah… oh, Tobias! Tobias!” penjelasan Bu Dea terpotong karena ketika itu Tobias melesat keluar ruangan. Ia lari terhuyung-huyung menerobos kerumunan murid yang ada di lorong. Seruan-seruan terkejut tercecer di balik punggungnya tak ia pedulikan. Tobias mengerahkan segenap tenaga yang tersisa dari tubuh lemasnya menuju tanah lapang di belakang sekolah. Ia harus menghardik ular yang saat-saat istirahat begini selalu berdiam di sana, di bawah sebatang pohon asam.

“Kudengar kamu pingsan waktu jam pelajaran Bu Dea,” ular itu bicara waktu Tobias sampai ke sarangnya dan masih terengah-engah. Cowok itu―bernama Nara―menyeringai, lalu membetulkan letak kacamata hitam yang nangkring di jembatan hidungnya.

Tobias kepanasan sekaligus kedinginan, tubuhnya benar-benar terasa kacau. Keringat dingin membanjir, padahal di tanah lapang itu matahari redup dan sepagian hujan menggerimis. Seringaian Nara tambah lebar. Ia rogoh tas selempangnya. Dari situ, bagai sulap, dengan cekatan ia sodorkan sebungkus pil kecil-kecil warna-warni pada Tobias. “Kelihatannya kamu butuh bantuan Paman Gober1,” katanya riang.

1: nama lain Ekstasi / Ineks

“Nggak! Cukup, Ra! Aku nggak mau berurusan dengan pil-pilmu lagi,” tampik Tobias.

“Rasa sakitmu itu nggak akan hilang sebelum kamu telan pil-pil ini.”

Tobias menyumpah-nyumpah. “Justru rasa sakit ini gara-gara barang harammu itu!”

Nara tertawa serak. “Kamu nggak akan bisa main basket lagi. Mimpimu jadi atlet profesional akan musnah, Tobi.”

“Kalau waktu itu kamu nggak menawarkan obat itu ke aku, pasti aku nggak akan jadi seperti ini.”

“Teman yang baik selalu tahu kebutuhan teman yang lain,” cetus Nara enteng.

Lima bulan lalu Tobias dihadang cedera ligamen lutut, padahal timnya akan menghadapi liga basket nasional antar sekolah, tempat di mana banyak pencari bakat biasanya ada. Apabila dia bermain apik di turnamen itu, kesempatan meraih mimpi jadi pebasket profesional terbuka lebar. Tapi usaha apapun, termasuk tiga minggu istirahat total, sama sekali tak berhasil. Saat itulah, Nara datang menawarkan bantuan.

Sebelumnya mereka tak terlalu akrab, sehingga mulanya Tobi menolak pil yang disodorkan Nara. Tetapi Nara berkata, “Kenapa harus ragu? Toh cuma suplemen. Kamu cukup minum sekali lalu tampil cemerlang di pertandingan itu. Nggak ada ruginya, daripada kamu nggak main sama sekali?”

Tobias ragu, tapi bayangan para pencari bakat yang duduk tersembunyi di tengah sorak-sorai penonton mengganggu benaknya. Tangan Nara masih terulur, di kelas kosong setelah jam pelajaran usai itu. Detak jam dinding terdengar tidak konstan. Akan tetapi sebenarnya perasaan Tobiaslah yang sedang bergolak, hingga pikirannya memainkan tipuan. “Cuma suplemen. Gratis,” ujar Nara meyakinkan.

Dengan hembusan napas berat akhirnya Tobias menanggapi, “Oke!”

Nara tersenyum menang. “Khusus untukmu. Jangan bilang siapa-siapa!” ia mewanti-wanti. Tobias setuju.

Di hari pertandingan segala perkataan Nara jadi nyata. Tubuh Tobias serasa seringan bulu. Ia siap memasukkan berapa bola pun ke keranjang lawan. Saat itu ia tidak merasa sedang bertanding, melainkan tengah menari dengan lincahnya. Hatinya begitu gembira, optimis, tiada beban, bahkan cedera ligamen yang sehari sebelumnya masih sakit sama sekali tak terasa. Hasilnya tentu saja tim mereka menang.

Itu awal ketergantungan Tobias pada pil-pil yang oleh Nara disebut ‘Paman Gober’. Pada babak-babak selanjutnya dan turnamen-turnamen setelahnya Tobias mengandalkan pemberian Nara. Tapi lama-kelamaan perangainya berubah jadi murung, pendiam, sedih berkepanjangan. Hanya Paman Gober bisa mengobatinya. Teman-temannya khawatir, orangtuanya juga. Tobias pun resah dengan keadaannya, tapi godaan bertambah kuat. Ia sudah jatuh ke dalam lumpur dan kini lumpur itu menyedotnya. Dosisnya bertambah besar dan frekuensinya semakin sering. Ketika semua makin parah, mendadak Nara enggan memberikan Paman Gober cuma-cuma. Ia mematok harga. Seketika semua terasa salah. Tobias pun bertekad menahan diri dari hantu Paman Gober. Sudah seminggu ia melawan hasrat itu. Akibatnya tubuhnya sakit sampai ke tulang dan ia merasa lemas terus-terusan, kian hari kian parah.

“Akan kulaporkan kau ke kepala sekolah!”

Tawa serak Nara kembali berkumandang. “Lalu? Pikirmu dia akan menghukumku? Nggak! Kamu tahu dari mana sekolah dapat dana pembangunan Bangsal Olahraga tempatmu latihan itu? Yayasan? Sumbangan siswa? Dari Ayahku! Dia….”

Tiba-tiba Nara berhenti. Ada suara langkah di tanah becek di belakang Tobias. “Kita kedatangan tamu,” kata Nara. Tobias menoleh. Ia terkejut setengah mati.

“Aku butuh barang,” itu Irma yang bicara, cewek paling pintar dan langganan juara olimpiade sains di sekolah. Dan sekarang cewek itu bicara pada Nara. Sambil celingukan diangsurkannya beberapa lembar uang. Dengan cepat Nara mengeluarkan dagangannya. Angin berhembus. Awan tersibak. Cahaya matahari jatuh ke atas mereka. Rambut Irma berkibar lembut. Tatapan matanya tak terpermanai. Tangannya terulur, meraih bungkusan yang disodorkan Nara. Cowok itu melepas kacamatanya. Matanya merah, berair, dan bersinar jahat. Rambutnya yang klimis seperti ditumpahi sebotol minyak berkilat mirip sisik ular. Jantung Tobias seperti berhenti sedetik. Ia seakan melihat adegan saat Eve jatuh ke dalam lumpur.

Selesai transaksi cewek itu berbalik, menatap Tobias sekilas lalu pergi.

“Aku membantunya belajar,” ucap Nara sok baik. Ada nada mencibir dalam suaranya. Jadi Tobias bukan satu-satunya korban! Amarah seketika menggelegak dalam dada Tobias. Ia salah. Nara bukan ular. Ia lebih parah dari ular. Ia monster! Monster Hydra dari rawa Lerna, seperti yang dulu sekali pernah ia baca di buku Petualangan Hercules2. Dan seperti Hercules yang memenggal sembilan kepala makhluk mengerikan itu, membuatnya mati, demikianlah Tobias bertekad memenggal semua kepala Nara.

2: monster ular raksasa berkepala sembilan di mitologi Yunani. Satu kepala dipenggal, akan tumbuh dua kepala. Untuk membunuhnya Hercules memotong semua leher Hydra bersamaan.