Mie Setan: Kelezatan di Ujung Jalan Bromo, Kota Malang

Itu adalah sebuah halaman rumah yang diubah menjadi semacam café tempat nongkrong. Persis di balik pintu pagar sebuah cafeteria (atau bar) didirikan dengan meja memanjang tempat meletakkan minuman yang selesai diracik dan siap diantar. Aku dan Rio berjalan memasuki tempat itu sambil celingak-celinguk mencari bangku kosong. Tapi sia-sia. Semua terisi penuh. Baik kumpulan meja di teras luar yang dipayungi selembar layar warna putih, maupun yang berada di teras dalam rumah itu. Pengunjungnya mayoritas anak-anak muda. Pelayannya pun juga anak muda. Mereka mengenakan seragam berupa kaus hitam a la band metal. Dan sesuai dengan kesan yang ditampilkan para krunya, musik yang keluar dari sebuah sound system di pojok dekat dapur mengumandangkan lagu-lagu yang ngebeat dan agak keras, mulai Bondan feat Fade2Black sampai Linkin Park.

Suasana kasir (pojok foto), cafetaria/bar, dan kru berkaus hitam-hitam
Suasana kasir (pojok foto), cafetaria/bar, dan kru berkaus hitam-hitam

Akhirnya kami berdua duduk menunggu di sebuah bangku kayu panjang di tengah-tengah, tempat mereka yang datang hanya untuk membawa pulang makanan menunggu. Setelah menghabiskan sekitar sepuluh menit dalam upaya meneliti mana-mana saja yang kira-kira akan beranjak pulang, sehingga mejanya bisa segera kita serobot, aku berkata pada Rio dalam kelaparan berat yang mendera, “Kalau mau kita semeja sama orang lain aja gimana?”
Memang kulihat ada beberapa meja yang seharusnya muat untuk 5 orang, tapi cuma diisi dua atau tiga orang. Setelah Rio mengamini usulku, kami pun menuju sebuah meja yang diduduki seorang lelaki, seorang perempuan, dan anak mereka. “Saya duduk di sini boleh?” kataku pada si Ayah. Lelaki itu dengan ramah mempersilakan. Akupun langgsung meletakkan tas dan jaket di situ sebagai tanda bahwa kursi kosong itu ada empunya, lalu pergi antre ke kasir.
Dan ternyata… seperti yang diperkirakan, waktu aku dan Rio antre pesan makanan di kasir yang letaknya di pojok bar, kulihat kursi kami itu banyak yang mengincar. Bahkan ada dua orang cewek yang dengan lugunya (atau begitu seenaknya) duduk tanpa memedulikan kalau di situ ada tas dan jaket punyaku dan Rio. “Kamu antre aja deh. Aku jaga kursi,” kataku pada Rio kemudian. Aku balik ke meja. Dua cewek itu kemudian menyingkir setelah kuusir dan entah menjajah di meja yang mana lagi.

Waktu itu masih jam enam sore, tapi situasi sudah ramai sekali, sehingga udara kota Malang yang agak dingin jadi nggak terasa. Antrean di kasir itupun panjang. Butuh kira-kira sepuluh menit mulai pertama antre sampai kita berdiri di depan petugasnya. Mujur pelayanan mereka cukup cepat. Minuman datang lima menit kemudian. Aku pesan es Genderuwo, sementara Rio pesan es Sundel Bolong. Yang dinamakan es Genderuwo itu adalah semacam es buah berisi potongan apel, belimbing, leci, strawberry, dan jelly bublle warna putih dan kuning yang diletakkan dalam wadah gelas besar berisi susu dan sirop kemerahan. Sayang, buah isiannya itu berasa asem banget! Dan siropnya kurang manis. Es Sundel Bolong lain lagi. Porsinya kueeeccciiillll sekali! Isinya susu dan cokelat cair. Tapi, ada banyak kok varian minuman lain yang ditawarkan, jadi nggak perlu khawatir kecewa sepeti aku.

DSC_0208
Makanan yang dinanti-nanti datang lima menit kemudian. Sepiring Mie Setan dibawakan oleh seorang pelayan laki-laki kurus yang teriak-teriak, “Rio? Rio?” sambil berkeliling membawa nampan. Untuk makanannya, Mie Setan punya lima level kepedasan. Mulai cabe dua belas (level satu) sampai cabe lima lusin (enampuluh buah) di level tertinggi. Karena nggak terlalu doyan pedas, aku pesan level satu. Tapi ternyata, cabe sujumlah murid-murid Yesus itu nggak menyiksa lidah, malah memanjakan. Sementara Rio yang pesan level dua (cabe 25) sukses dibuat berhuhah-huhah kepedesan.

Mie Setan level 1 (cabe dua belas)
Mie Setan level 1 (cabe dua belas)

Yang lucu, di sini kita makan menggunakan sumpit. Aku nggak tahu apa kita bisa pinjem sendok-garpu di situ, tapi karena kulihat pengunjung lain semua makan pakai dua batang stik bambu itu, ya aku ikut-ikutan padahal nggak mahir menggunakannya. Walhasil, aku makan dengan sangat kacau sampai-sampai karena nggak sabaran akhirnya sendok yang seharusnya buat es Genderuwo kupakai buat makan mie itu.
Dengan harga murah meriah, Rp. 8500, Mie Setan tergolong oke. Sepiring mie disajikan dengan sepotong selada segar, sebiji dimsum, beberapa buah pangsit goreng, dan selembar daging asap goreng. Cabenya dirajang kecil-kecil. Di atasnya diberi taburan daun bawang dan bubuk keputihan semacam koya (atau itu daging ayam?). Untuk rasa nggak usah ditanya, enak banget! Sensasi pedesnya menggoda. Tekstur mie-nya pun bagus. Mungkin diproduksi sendiri karena berbeda dengan tekstur mie pasaran (ini kata Rio). Selain itu kita juga bisa pesan menu-menu lain, seperti sekeranjang Dim Sum. Oya, mie yang kita pesan nggak harus bercabe minimal 12, kita bisa kok pesan cabe 5 biji, 2 biji, atau malah tanpa cabe (biasanya buat anak-anak).

Atmosfer di Teras Luar Mie Setan yang beratapkan sehelai layar putih
Atmosfer di Teras Luar Mie Setan yang beratapkan sehelai layar putih

Kami makan di kelilingi cahaya kuning temaram, pada sebuah meja taman dari kayu berpelitur dengan payung kelabu besar di atasnya. Suasana yang sejuk-sejuk hangat, riuh suara obrolan, musik menghentak…. Ada rasa penasaran yang terpuaskan waktu aku dan Rio meninggalkan tempat itu. Di luar aku memandang jalanan jalan Bromo kota Malang yang rindang. Sementara Rio mengambil motornya yang diparkir di tengah sesaknya parkiran Mie Setan, aku bertanya pada si jukir, “Bangunan apa di depan?”
Cowok pendek kurus dan kawannya yang pendek gempal bebarengan menyahut, “Itu gereja. Kalau hari Minggu ramai.”
Kami lalu pergi, rumah nomor 1A itu makin padat pengunjung.

 

NB: Mie Setan terletak di Jalan Bromo nomor 1 A, kota Malang. Letaknya di ujung jalan. Hati-hati kebablasan karena mereka nggak pasang papan nama (entah kenapa. Menurutku itu konyol). Cabang lain ada di Jalan Soekarno-Hatta, Malang, persis di SEBELAH vihara (sebelum jembatan kalau dari arah Belimbing). Buka pukul 15.00 – 22.00 WIB.

Letusan Dalam Kepala Hosea (Dimuat di Majalah HAI edisi 18 Agustus 2014)

10568908_10202660460581317_4639577392348266956_n

Hosea terbangun karena suara letusan yang ia pikir dari luar jendela kamarnya. Hari masih gelap. Sayup ia dengar masjid mengumandangkan rekaman bacaan suci. Berarti masih belum subuh. Ia raih ponsel di atas nakas. Benar saja, pukul 03.35 tertera di layar. Ia rebahkan lagi kepala di atas bantal. Memejamkan mata. Hendak mengabaikan suara yang mengagetkannya barusan.
Dor! Dor!
Suara letusan itu terdengar lagi. Kali ini lebih dekat. Menggema di dinding malam. Suatu kesan dalam suara itu membuat Hosea terjaga. Pendengarannya menajam otomatis, ia waspada. Ada suara-suara di luar pagar. Seruan-seruan tertahan dan pekikan-pekikan lirih. Hosea menyingkap tirai sedikit, membuka jendela beberapa senti, tapi di luar terlalu gelap. Ia nggak bisa melihat apa-apa. Hanya angin dingin berembus, menyelinap lewat celah yang Hosea buat, membisikkan berita muram. Membuat cowok itu menggigil. Ia usap-usap lengannya. Ketika Hosea hendak menutup kembali jendela kamarnya tiba-tiba….
“Tolong gue!”
Ada suara terengah-engah. Sesosok cowok entah dari mana muncul dari semak Pandan di luar kamar, meraih bingkai jendela, tergesa melompati birai, lalu masuk begitu saja. Hosea terkejut setengah mati. Ia beringsut mundur dan jatuh terjengkang.
“S-s-si-siapa lo?! Mau apa lo di sini?” katanya panik.
Dalam gelap ruangan itu tangannya mencari-cari tongkat kasti yang seharusnya ada di dekat situ. Kemudian sekuat tenaga Hosea bangkit dan berusaha melihat wajah cowok di hadapannya. Tapi sia-sia. Sedikit cahaya temaram dari bawah pintu sama sekali nggak membantu.
“Ini gue, bego! Aries.”
Hosea merasa kenal suara itu. “Astaga! Lo, Ries! Apa yang…?”
“Sssstt!” Aries membungkamkan telapak tangannya ke mulut Hosea. Bau bangkai serta-merta menerjang hidung. Saking busuknya Hosea bahkan bisa merasakan anyir itu di mulutnya. Mendadak seporsi rendang yang ia makan malam tadi mendesak naik ke kerongkongan.
“Lo habis kejebur kuburan, apa? Huek! Baumu bikin gue pengen muntah!” protes Hosea setelah susah-payah melolos dari bekapan Aries. “Apa sih yang terjadi?”
Yang Hosea ajak bicara masih tampak was-was. Aries beringsut ke balik tirai lalu mengintip keluar. Pertanyaan itu ia biarkan menggantung lama sekali sampai kemudian mengendap dengan sendirinya dan hilang seperti hembusan napas di udara.
“Woi, Ries, gue tanya apa yang terjadi?” tanya Hosea nggak sabaran.
Aries memutar tubuh, sehingga dua karib itu saling hadap. “Gue dikejar-kejar anak SMA 85, Hos,” jawabnya berbisik. Ruangan itu masih gelap, namun Hosea sekarang terbiasa sehingga samar ia bisa melihat wajah Aries. Di balik poni ikalnya, raut Aries menyiratkan takut.
“Lo tau kan ini jam berapa? Belum juga jam empat! Masih pagi buta, tahu! Dan lo dikejar anak sebelah?” Hosea bicara sambil memelankan suara agar nggak membangunkan ortunya di kamar sebelah. “Dan suara tadi? Jangan bilang mereka bawa pistol atau senapan atau semacamnya….”
Di luar dugaan Aries manggut-manggut. “Mereka bawa pistol,” katanya lirih seolah khawatir para pengejar itu bisa mendengarnya dari dalam situ. Napas Hosea tercekat di tenggorokan. Ia menelan ludah, tapi ludah itu terasa setajam kerikil. “Lo habis ngapain?” tanyanya hati-hati.
Aries memandangnya lekat-lekat. Hosea bisa merasakannya. Tatapan itu seperti sorot senter yang diarahkan pada orang yang kedapatan mencuri. “Lo tanya gue habis ngapain?” Aries mendesis, lalu ia melanjutkan dengan suara tetap lirih namun nadanya meninggi, “Gue habis ngapain? Ini semua gara-gara lo, Hos! Gara-gara kelakuan lo gue harus nanggung semua ini!”
Ledakan amarah yang tiba-tiba itu membuat Hosea gemetar. “G-gu-gue nggak ngerti apa yang lo maksud.”
Aries mencibir. “Lo ya gitu itu, selalu lari dari kesalahan yang lo perbuat! Orang lain lo tinggalin nanggung akibatnya. Pengecut!” bicara Aris kedengaran seperti pecahan beling yang disayatkan ke urat nadi.
“Tapi, Ries….”
Tahu-tahu Aries tertawa nyaring. Sumbang pula. Terbahak-bahak seperti kesetanan. Ia mengulang-ulang kata-kata itu, “Pengecut! Lo pengecut, Hos! Banci!” Cowok itu terus tertawa layaknya orang hilang kewarasan. Dan tubuhnya semakin mundur kembali mendekati jendela. Saat Aries tepat berdiri di ambang jendela itu, tahu-tahu tangan-tangan hitam bermunculan dari balik punggungnya dan dengan kasar menariknya keluar secara paksa. Aries memekik, “Arrrrghh! Tolong! Tolongin gue, Hos!”
“Aries!” Gegas Hosea menuju jendela, namun kawannya sudah nggak tampak di mana-mana. Ia cuma bisa mendengar teriakannya yang pelan-pelan menjauh, semakin samar di telan bayang-bayang jajaran pohon Angsana di tepi jalan, terus hilang menuju gelap.
“Aries! Ariiiies!”
Braaakk!
Pintu kamar terbanting. Orangtua Hosea menerjang masuk. Ayahnya menyergap tubuh Hosea dari belakang. Memeluknya erat-erat. Sementara ibu bicara padanya, “lihat Ibu! Lihat kemari.”
“Tenang, tenang,” bisik ayah.
“Nggak ada siapa-siapa. Aries nggak di sini,” ucap ibu.
Hosea mendengus-dengus. Meronta. Napasnya nggak beraturan. “Dia lupa minum obat?” ayah berkata pada ibu. Wanita itu menggeleng sedih. Menatap cemas pada anaknya. “Seandainya mereka nggak terlibat tawuran waktu itu…,” katanya, menyuarakan harapan kosong.
Setahun lalu, waktu Aries dan Hosea pulang sekolah berboncengan motor, mereka melihat cewek SMA 85 yang berjalan seorang diri di jalan sepi. Saat itu timbul niat iseng dalam benak Hosea. Ketika motor mendekati si cewek, tanpa sepengetahuan Aries tangan Hosea menepuk bagian belakang tubuh perempuan itu, lalu ia tertawa-tawa melecehkan sembari berlalu. Tentu saja diperlakukan nggak senonoh begitu cewek itu teriak-teriak histeris. Nggak disangka dalam warung kopi dekat situ berkerumun murid-murid cowok SMA 85 yang langsung ramai-ramai menguber Aries dan Hosea.
Setelah melalui proses kejar-kejaran yang panjang dan berliku-liku, kedua karib itu akhirnya tertangkap. Mereka dipukuli habis-habisan. Namun di tengah kejadian Hosea melihat celah. Ia melarikan diri. Meninggalkan Aries jadi bulan-bulanan. Waktu ia kabur belum jauh, terdengarlah suara itu….
Dor!
Hosea membalikkan badan. Berhenti.
Lalu disusul letusan lain. Dor! Dor!
Hosea ketakutan. Dia berlari kembali, nggak menoleh ke belakang lagi. Tapi suara letusan itu terus menggema dalam kepalanya dan nggak pernah hilang, selamanya.