Cewek Terabsurd (Majalah HAI edisi 11 – 16 Mei 2015)

“Bener-bener absurd!” tiba-tiba Rio mendengus kesal waktu ia dan Krisma sohibnya sampai di kantin pada jam istirahat pertama hari itu. Sebelumnya cowok bergigi gingsul itu kelihatan merenung-renung sendiri sepagian.
“Apanya?” sahut Krisma. Cowok tinggi kurus itu celingak-celinguk, mencari-cari sesuatu yang bisa dikategorikan absurd di ruangan yang hampir seluruh bangkunya sudah penuh dan tampak biasa saja seperti hari-hari lainnya. Tapi, Rio kembali diam.
Mereka berdua kemudian menuju sebuah meja di pojok terjauh yang masih kosong, memunggungi pagar teralis pemisah halaman belakang dan gedung sekolah, setelah sebelumnya pesan semangkuk mie ayam. “Gue tambah lama tambah nggak ngerti sama kelakuannya Giana,” keluh Rio, sekaligus menjawab pertanyaan Krisma tadi.
Sambil menuangkan saus tomat yang warna merahnya mengkhawatirkan ke dalam mangkuknya banyak-banyak, Krisma menyahut, “Ada apa lagi, sih? Soal tugas drama itu?”
Sebelumnya mereka dapat tugas mementaskan sandiwara yang ceritanya diangkat dari sejarah kerajaan-kerajaan kuno Indonesia. Setelah diundi, kelompok Rio dkk─di mana Giana, pacar Rio, adalah satu-satunya cewek di dalamnya─kebagian cerita berdirinya Kerajaan Singasari. Waktu penentuan pemain, Giana didaulat sebagai pemeran Ken Dedes─istri Ken Arok, pendiri Singasari, yang ayu juwita. Tapi cewek itu menolak dan malah ngebet memainkan karakter Mpu Gandring, lelaki tua pembuat keris yang akhirnya mati dibunuh Ken Arok. Didesak, dirayu, dimohon bagaimanapun juga Giana keukeuh sama pilihannya. Akhirnya Narendra yang memang perawakannya paling halus dan kulitnya agak putih di antara para cowok ngalah, ia terpaksa menjadi Ken Dedes, itupun setelah dibujuk Rio dengan iming-iming ngerjain PR matematikanya empat bulan penuh!
“Ini lain lagi,” Rio menimpali sambil memamah sepotong selada. “Gini ceritanya….”
Yang diceritakan Rio pada Krisma terjadi kemarin sorenya di sebuah café tempat Rio biasa nongkrong sama gengnya. Cuma waktu itu ia sedang berdua sama Giana. Mereka lagi bikin naskah drama “Terbunuhnya Mpu Gandring”. Ketika berada di tengah-tengah kemelut klimaks dari seluruh adegan drama mereka, yaitu waktu Ken Arok dengan arogannya menikamkan keris pusaka ke dada kurus pembuatnya, Rio dan Giana mengalami kebuntuan soal apa yang sebaiknya dikatakan Mpu Gandring sebelum ia melontarkan kutukan-kutukan kemudian tewas.
Setelah hampir satu jam mengetik, menghapus, mengetik, menghapus dialog di bagian itu, ketika otak Rio lagi macet-macetnya, tiba-tiba tanpa perasaan Giana bilang, “Sebaiknya dilanjut besok aja. Gimana kalo sekarang kita pergi nonton?”
Rio terperangah. “Gian, please deh…. Naskah ini mesti dikumpulin ke Bu Rini (guru bahasa) besok lusa! Gimana mungkin sekarang kita enak-enakan nonton? Bisa-bisa besok gue nggak tidur ngerjainnya.”
“Rio, please deh…. Malem ini tuh malem terakhir Love in Milkyway diputer di bioskop. Dan gue belum nonton gara-gara elo sibuk keluyuran sama temen-temen elo! Itu film keren abiiiis, tau! Siapa tau dari film itu kita dapet ide buat naskah drama kita?”
Rasanya Rio pengen jedotin jidatnya ke balok beton pilar bangunan café yang dihiasi sulur-sulur tanaman plastik itu habis mendengar kata-kata yang dimuntahkan ceweknya. Sembari mengehela napas berat, ia menjawab sesabar mungkin, “Mana mungkin kita dapet ide drama sejarah dari film yang isinya joget-joget?”
“Ngedance! Bukan joget,” ralat Giana. “Ayolah, Rio….”
“Nggak, Gian. Naskah ini harus selesai malam ini. Besok kita tinggal ngedit aja. Lagipula….”
“Lagipula apa?” Giana menyelidiki mata kekasihnya.
“Lagipula gue lagi bokek.”
Giana membeliak. “Ini kan masih tanggak 10? Masa uang jajanmu udah abis? Ooohhh, gue ngerti. Pasti lo abis beli action figure lagi, kan?”
“Errrrr….”
“Ayo ngaku!”
Rio pura-pura sibuk lagi dengan laptopnya. Padahal di layar, kursor cuma kedip-kedip monoton.
“Rio, sayaaaannngggg…,” kata Giana setengah menggeram. Ia kedengaran seperti seekor anjing yang siap menerkam maling.
Dengan berat hati akhirnya Rio berkata, “Oke oke. Iya gue baru beli kemarin.”
Mata Giana yang besar, indah, dan biasanya terlihat cemerlang bak sepasang kejora seketika mendelik jadi dua buah meteor yang siap menghujam bumi dengan daya ledak setara setengah kuintal bom nuklir. Rio sudah siap kalau-kalau Giana mengeluarkan jeritan pamungkasnya yang melengking mengerikan itu dan membuat seluruh pasang mata mengarah padanya. Tapi di luar dugaan, cewek itu cuma menekuk wajahnya lalu melemparkannya ke arah jalanan di luar café yang di beberapa tempat ditumbuhi genangan air sisa hujan siang tadi. Rio jadi tambah pusing.
“Lo ngerti, kan, yang gue rasain? Gue udah berusaha turutin semua keinginan Giana, berusaha bahagiain dia, tapi…,” kata Rio pada Krisma, sumpek.
“Jadi kalian marahan?” tanya Krisma. Penjual bakso di dekat mereka membuka tutup pancinya, sehingga aroma kaldu daging yang harum terbawa ke hidung keduanya.
Rio mendengus. “Dia yang marah, gue nggak!”
“Lo tuh ya, emang nggak pernah ngertiin gue! Daasaaarrrr!” tiba-tiba suara Giana membahana dari balik punggung Rio dan Krisma. Mereka berdua terlonjak. Ternyata Giana berdiri di balik pagar di belakang. Mendengarkan obrolan keduanya. Entah sejak kapan.
“Ngapain elo di situ?”
Giana mengabaikan pertanyaan Rio. Ia lanjut marah-marah, “Elo emang nggak peka!”
Jleb! Omongan Giana terasa seperti sebilah keris yang ditancapkan ke dada Rio.
“Lo tuh yang absurd! Apa masalahnya, sih, sama kesukaan gue koleksi action figure? Semua orang kan berhak punya hobi masing-masing.”
Mata Giana dipenuhi asap dari api amarah. Ia menjawab tajam, “Dasar kekanak-kanakan lo tuh, ya!”
Jleb!
Sunyi semenit….
“Apa, sih, masalah elo, Gian? Gue sama sekali nggak ngerti.”
Suara Giana yang bening bagai denting gelas beling, terdengar seperti piring pecah waktu menjerit, “Elo emang nggak pernah berusaha ngertiin gue, lebih baik kita putus! Putus! Gue capek punya cowok bebal kayak elo!” Saat itu semua mata memandang ke arah keributan di pojok kantin itu. Giana lalu lari ke halaman belakang sana. Ke arah lapangan bola. Rio nggak berusaha mengejar. Ia terpaku. Melihat ke arah Krisma yang cuma bisa melongo. Beberapa saat kemudian, Rio berkata, “Kayaknya sekarang gue tahu apa yang harus dikatakan Mpu Gandring setelah ditusuk keris pusakanya.”