Merayakan Sang Ratu Cerita Kriminal

Bisa dibilang Agatha Christie termasuk ‘seseorang’ yang menemani saya tumbuh dewasa. Bagaimana tidak? Saya pertama kali berjumpa dengannya itu di tahun 2002, saat duduk di kelas satu SMA. Waktu itu keluarga saya baru pindah dari Surabaya ke Jombang. Menempati kota yang sama sekali baru, saya tidak memiliki teman. Kebetulan di dekat rumah ada sebuah persewaan buku. Saya ke sana untuk mengisi waktu. Di sanalah saya menjumpai Buku Catatan Josephine yang ditulis Agatha Christie.

Sebenarnya nama Agatha Christie tidaklah asing di telinga saya. Sejak kecil saya gila membaca. Buku apa saja saya lahap. Petualangan para detektif cilik seperti Trio Detektif dan Lima Sekawan adalah favorit saya. Dan kebetulan buku-buku itu ada di perpustakaan sekolah. Dari situlah saya mendengar Agatha Christie yang juga menulis cerita detektif. Namun mungkin karena segmen novel Agatha Christie adalah orang dewasa, saya tidak pernah menjumpainya di sekolah. Mau ke toko buku, waktu itu keadaan ekonomi tidak memungkinkan. Belanja buku tergolong pemborosan.

Karena itu betapa girang saya menemukan Buku Catatan Josephine di rak persewaan buku itu. Saya ingat covernya yang biru tua bergambar sepatu kecil hitam berenda itu, helai kertasnya yang menguning, dan aroma buku lama yang khas. Saya lupa cetakan keberapakah buku itu. Tapi kalau dilihat dari kenampakannya mungkin itu terbitan tahun 1980an. Novel itu tandas dalam sehari semalam. Saya benar-benar terpukau oleh jalan ceritanya dan kejutan pada endingnya: seorang gadis kecillah pembunuhnya! Josephine sendiri. Benar-benar tak disangka!

Saya pikir memang itulah ciri khas Agatha Christie dalam membuat karyanya. Pembaca diajak mengikuti bagaimana para tokohnya berpikir, bicara, berpendapat, dan merasakan. Ia menyajikan fakta-fakta, beberapa begitu gamblang, sementara yang lain samar-samar. Kita digiring menuju suatu kesimpulan, yang ternyata sama sekali tidak tepat pada akhirnya. Endingnya selalu tidak terduga. Itulah yang membuat Agatha Christie berbeda dari pengarang cerita misteri lainnya. Ia menonjolkan watak dan konflik kepentingan antara orang-orang yang terlibat dalam cerita, yang mendasari terjadinya peristiwa kriminal. Dari sanalah plot tercipta dan para detektifnya (Hercule Poirot dan Miss Marple) menganalisa pelaku sesungguhnya.

Betapa mengagumkan cara Agatha Christie menggambarkan tokoh-tokohnya. Mereka seolah hidup. Seolah nyata. Mereka punya pemikiran masing-masing, sejarah, kepribadian, watak, dan atribut yang berlainan. Saya mengagumi bagaimana Agatha Christie melukiskan satu plot cerita lewat narasi beberapa tokoh yang berbeda, seperti dalam And Then There Were None yang menjadi favorit saya. Caranya menghidupkan tokoh menunjukkan pemahaman Agatha Christie akan psilokogis manusia.

Dan tokoh-tokoh itu berkembang. Mereka tidak stagnan. Hal ini terlihat jelas terutama pada kisah-kisah Miss Marple. Bagaimana penduduk desa St. Mary Mead dari buku yang satu ke buku berikutnya mengalami perubahan-perubahan. Sebagai contoh pendeta Clement dan istrinya, Griselda, yang diceritakan baru menikah di Pembunuhan di Wisma Pendeta sudah memiliki anak di Dan Cermin pun Retak. Demikian Mrs. Bantry yang pada Mayat di Perpustakaan masih tinggal bersama Kolonel Bantry di Gossington Hall dikisahkan telah menjanda dan tinggal di rumah kebun pada Dan Cermin pun Retak. Dari perwatakan yang hebat inilah tercipta kisah yang mengagumkan yang sampai hari ini masih disukai banyak orang.

Tak hanya psikologis manusia. Pemahaman Agatha Christie terhadap obat-obatan dan racun sungguh sempurna. Tidak heran karena ia pernah bertugas sebagai perawat ketika meletusnya Perang Dunia. Di barak-barak pertolongan pertama, sembari membebat para serdadu yang terluka, merawat mereka, ia mempelajari segala sesuatu yang kelak akan berguna di karier kepenullisannya.

Memang mengikuti karya-karya Agatha Christie berarti secara tidak langsung kita mengikuti pula kisah hidupnya. Saya sendiri mengandaikan proses menulis seperti Lord Voldemort dalam serial Harry Potter menciptakan Horcrux. Selalu ada secuil bagian penulisnya dalam novel yang ia ciptakan.

Pada karya-karya awal Agatha Christie saya bisa merasakan betapa sisi romantismenya begitu menonjol. Bahasanya ringan dan mengalir lancar. Maklum Agatha Christie mulai menulis di usia yang terbilang muda, waktu di mana hasrat percintaan begitu menggelora. Secara tak langsung hidup perkawinannya pun terekam dalam karya-karyanya. Tentang bagaimana suaminya yang pertama berselingkuh sering ia gambarkan dalam kasus-kasus suami membunuh istrinya. Dan tentang suami keduanya, Sir Max Mallowan, yang arkeolog tertuang dalam novel-novel dan cerita-cerita pendeknya yang bersetting Mesir (Death on the Nile) dan Mesopotamia (Appoinment with Death, Murder in Mesopotamia, dan They Came to Baghdad). Ia bahkan kerap berkelakar dengan mengatakan bahwa keuntungan bersuami seorang arkeolog adalah semakin tua istrinya, si lelaki akan semakin tertarik.

Semakin bertambahnya usia, muncullah karakter Ariadne Oliver, si pengarang novel misteri dalam karya Agatha Christie. Sungguh menarik karena saya pikir Ariadne adalah alter-ego dari Agatha Christie sendiri. Ungkapan-ungkapan kesebalan Mrs. Oliver terhadap tokoh detektifnya merupakan jeritan hati tidak langsung Agatha Christie akan kejemuannya terhadap Hercule Poirot yang pada beberapa wawancara sering pula Agatha Christie katakan secara implisit.

Tak hanya itu tokoh Ariadne Oliver pun kerap mengatakan betapa sulitnya menulis cerita misteri karena ide dasarnya (plotnya) hanya itu-itu saja, sementara pembaca ingin ceritanya berlain-lainan antara buku satu dan lainnya. Juga tentang keengganannya berurusan dengan penerbit dan kebingungannya jika ditanya-tanya oleh pembaca karyanya. Intinya, segala perkataan Ariadne dalam novel menurut saya adalah cerminan isi hati Agatha Christie yang sesungguhnya, yang mungkin saja tak bisa ia katakan secara terang-terangan.

Singkatnya, Agatha Christie adalah seorang penulis jempolan. Gelar Ratu Cerita Kriminal memang pantas disandangnya. Sampai hari ini saya belum menemukan penulis lain, baik dalam maupun luar negeri, yang bisa menandingi Agatha Christie dalam hal membangun cerita misteri dari watak para lakonnya sebagai pondasi. Karya-karyanya selalu menarik untuk disimak dan sulit untuk dikalahkan penulis lain dari genre ini. Bahkan sampai hari ini (dan bisa jadi sampai selamanya) saya masih suka membaca ulang novel-novel Agatha Christie (hampir 50 judul banyaknya) yang berjajar rapi di rak buku di kamar saya.

Sujatmiko Pujitono

Advertisements