Sepasang Sumpit (Femina, 1 Oktober 2015)

scan femina_0002

Wido terkesiap, sungguh-sungguh merasa tak percaya dengan benda yang kini dipegangnya. Ia bisa rasakan genggamannya mengendur. Perasaannya yang semula meluap-luap gembira seketika berganti kalut. Sungguh-sungguh kalut! Cepat saja perubahannya. Clap! Bagai sambar petir yang merubah sebuah menara gading menjadi puing dalam sekejap. Ia pandang Laga, kekasihnya, di seberang. Hendak mencari jawab tentang hadiah sepuluh tahun hubungan asmara mereka yang tergolek di sebuah kotak lapis beludru itu. Tapi, melihat lelaki itu tampak puas dan tersenyum-senyum penuh arti, Wido tahan lidahnya agar pertanyaan itu tak sampai tumpah bak sapuan air pasang.

 
Padahal, di awal petang itu segalanya begitu sempurna…. Restoran bagus, makanan kelas satu, suasananya tenang. Seorang pria berkemeja batik paiwai memainkan sebuah lagu lewat denting grand piano di sudut dekat bar. Melodinya halus memikat, mengambang membelah deretan meja penuh pengunjung dan pelayan-pelayan yang lalu-lalang membawa baki di tangan.

 
“Ini…,” kata Wido yang duduk dekat jendela. Ia mengenali nada-nada yang menyapanya. Lelaki di depannya tersenyum simpul. Widondari, nama lengkapnya, secantik artinya yaitu bidadari, tertawa. “Ah!” serunya dengan kedua tangan menutupi mulut. Mata besarnya berbinar, “Claire de Lune!” Laga tersenyum makin lebar hingga garis-garis halus di ujung matanya menegas, lalu mengangguk. “Lagu kesukaanmu. Khusus aku request pada pianisnya.”

 
“Claire de Lune, memandang rembulan,” Wido bergumam, masih semringah.

 

Matanya menatap keluar melewati selembar kaca yang memisahkan dirinya dan hamparan pepohonan di bawah. Di kejauhan, purnama gading terbit di atas pencakar-pencakar langit. Cahayanya yang lembut begitu kontras dengan cahaya lampu-lampu kendaraan yang berkeriapan bak sekoloni semut dengan pantat dan mata menyala di jalan raya, juga dengan pendar reklame jutaan watt, dan jingga penerangan tol yang melingkar-lingkar. Bahkan di tempat seperti restoran yang terletak di atas sebuah bukit ini, beberapa kilo di luar kota, hiruk-pikuk megapolitan di sana menjalar bagai gelombang yang sulit dipahami.

 
Lepas dari bulan bulat sempurna di pucuk tower-tower perkantoran dan apartemen, mata Wido kembali pada Laga. Laga menatap wanitanya hangat dan mesra, katanya, “Terima kasih untuk sepuluh tahun hubungan kita. Sepuluh tahun penuh warna! Sebelumnya aku tak pernah menjalin hubungan sampai selama ini. Yah, kamu tahu aku agak sulit. Tak mudah dipahami. Kebanyakan orang tak tahan dengan karakterku yang… ee… kompleks. Tapi kamu lain, Wid, kamu selalu ngerti aku.”

 
Laki-laki itu lantas meraih tangan Wido yang kecil dan halus, menggenggamnya, membelai-belainya. Wido cuma diam, tersipu. Bagi Wido sendiri sebenarnya Laga bukan hanya ‘agak sulit’, tapi benar-benar membingungkan! Kadang ia bisa berlaku amat lembut dan manis seperti malam ini, tapi biasanya ia cenderung bersikap seenaknya, gemar sekali mencela, bicaranya pedas sarkastis. Orang lain sering sakit hati dengar ucapannya. Telinga Wido pun telah kerap teriris oleh lidah tajam Laga.

 
Selain itu, Laga amat perfeksionis terhadap penampilan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, Wido pun tak luput dari sensor, bahkan sampai ke hal kecil seperti jepit yang ia kenakan atau parfum yang ia pakai. “Wid, ganti bajumu sana! Kamu seperti penari kabaret murahan” atau “Kalau kamu bersikeras memakai sepatu menjijikkan itu, lebih baik aku pergi sama Bik Inah (pembantunya)” atau “Parfummu memuakkan, itu minyak rem?,” seperti itulah Laga kerap berkomentar. Ada saja yang salah dalam penampilan Wido di matanya. Ia jelas memegang teguh falsafah “ajining raga saka busana”, tapi mengesampingkan semboyan satunya, “ajining diri saka lathi”.

 
Meski begitu, di sisi lain Laga adalah pengusaha muda yang bisnisnya menanjak. Ia mewarisi bakat dagang ayahnya dan semangat juang kakek pihak ibunya yang pejuang kemerdekaan, sehingga toko elektronik kecil warisan keluarga di pinggir kota bisa berkembang jadi gerai-gerai besar yang tersebar di pusat-pusat perbelanjaan. Sebagai wanita yang mementingkan kemapanan hidup, apalagi setelah menikah kelak, fakta inilah yang membuat Wido bertahan walau kerap makan hati. Namun, beberapa hari lalu tersiar isu salah seorang rekan Laga membawa lari sejumlah besar uang yang membuat laki-laki itu kelimpungan. Bahkan Wido dengar karena penipuan itu beberapa gerai akan dinon-aktifkan. Diam-diam hal ini amat merisaukannya.

 
“Wid,” panggil Laga, mengembalikan wanita berambut panjang itu pada kenyataan. “Aku punya sesuatu untukmu.”

 
Di sinilah segala ketidakenakan yang dirasakan Wido di sisa malam itu bermula. Awalnya Wido merasa girang. Ini dia yang ia tunggu-tunggu! Apa gerangan hadiah anniversary mereka tahun ini? Mestinya sesuatu yang lebih spesial mengingat genap sedasawarsa mereka berhubungan. Setelah jam tangan, satu set perhiasan safir, dan tahun lalu mereka berlibur ke Korea Selatan selama sembilan hari demi mengobati rasa penasaran Wido karena ia penggemar berat drama-drama negara tersebut, pastilah kali ini melampaui yang sebelum-sebelumnya.

 
Saat Laga merogoh saku dalam jasnya, jantung Wido mulai berdegup tak tentu. Matanya tak bisa lepas dari tangan lelaki itu. Tampaknya benda itu besar karena tersangkut dan Laga kesulitan mengeluarkannya. Dengan agak kasar dan menggeram sedikit lelaki itu menarik lolos hadiahnya. Lalu tampaklah oleh Wido, sebuah kotak kecil panjang berlapis beludru biru royal. Dada Wido naik turun tidak sabar tapi ia berusaha keras menutupinya demi menjaga imej.

 

“Untuk sepuluh tahun hubungan kita!” Laga mengulurkan kotak itu sambil tersenyum lebar.

 
Wido meraihnya, menimang-nimang. Tidak terlalu berat. Ia jadi makin penasaran. “Kubuka, ya?” tanyanya tanpa sungkan. Laga mengangguk. Musik pada piano berganti jadi sebuah lagu benuansa cepat. Jantung Wido makin kencang memukul dada. Ternyata tutup kotak itu alot. Dengan sebuah cengkraman kuat dan sedikit entakan baru benda itu berhasil terbuka. Ketika sudah terbuka, Wido merasa tak percaya dengan matanya.
“In… Ini…,” ucapnya terbata.

 

Di sana, di atas beludru warna darah, terbujur bagai suatu pusaka keramat, sepasang sumpit. Tak masuk akal! Sumpit?! Kado sepuluh tahun kebersamaan mereka hanya sepasang sumpit! Dilihat bagaimanapun, meski benda kurus panjang itu terbuat dari kayu mahal hitam mengilat, itu tetap saja sumpit! Pasti ini hanya salah satu humor Laga yang nyeleneh, pikir Wido. Namun sampai dessert mereka, seporsi Milk Chocolate Swedish Cream with Mango Gelato, ludes, Laga tak menunjukkan tanda kalau kadonya untuk Wido hanya sebuah guyonan. Ia tetap saja ceria seperti tak berdosa.

 
Wido pura-pura senang dengan apa yang ia dapat. Dalam hati, kerisauannya akan isu kesulitan keuangan Laga langsung menjalar ke mana-mana. Kalau dipikir-pikir, restoran inipun tidak semewah yang biasa mereka kunjungi. Separah itukah dampak kerugian yang lelakinya alami?

 

*

Dalam minggu-minggu berikutnya apa yang Wido takutkan menjelma kenyataan. Mimpi buruk itu datang juga pada akhirnya. Satu per satu gerai Laga ditutup. Barang-barang dikosongkan. Bahkan waktu beberapa hari lalu Wido jalan ke sebuah pusat perbelanjaan, salah satu stan di mana toko elektronik milik kekasihnya biasa berada kini tengah mengalami renovasi. Sebuah butik akan ganti menempati. Tulisan COMING SOON dengan foto seorang wanita tertawa lebar menenteng banyak tas belanjaan terpampang sepanjang tembok. Wido gentar berdiri sendiri di hadapannya.

Kemudian datang bayangan-bayangan itu dalam kepalanya. Gambaran ia sebagai seorang Nyonya Kusumadilaga Adiputra harus mencuci baju sendiri, menggosok kloset dan lantai kamar mandi sendiri, memasak sendiri, berberes rumah sendiri, mengepel, menyikat, menyetrika. Segala pekerjaan rumah yang tiada habisnya itu! Tangannya yang putih dan terawat akan berubah kasar dan kapalan seperti tangan ibu. Dan ia tak ingin seperti itu. Wido ingat betul rupa tangan ibunya. Saat ibu membelai wajahnya dulu, rasanya seperti ada amplas digosokkan ke sana. Ketika mengelus rambutnya, kapal yang mengelupas di telapak itu kerap tersangkut. Betul-betul mengerikan!

Terlebih, tak akan pernah ada lagi makan malam di restoran-restoran ternama, tak ada lagi perhiasan-perhiasan, tak ada lagi liburan ke mancanegara, tak ada baju-baju mahal keluaran rumah mode, perawatan-perawatan tubuh, ia tak akan bisa menjentikkan jari dan tahu beres karena ada orang-orang yang melayani. Semua yang ia impi-impikan dan nikmati sedikit dasawarsa berselang akan musnah! Padahal sepanjang waktu itu telah berapa banyak lelaki datang mendekat? Wido menghitung. Bima, Mario, Gideon, Anas, Wahab, dan banyak lainnya. Mereka yang secara sifat dan sikap begitu baik, namun secara ekonomi memprihatinkan. Terutama Wahab, ia laki-laki yang begitu lembut dan romantis, penuh perhatian, sayang hanya seorang petugas admin kantoran biasa (berapa gajinya?). Ia tolak mereka, demi Laga yang kasar dan semena-mena seperti preman dan sering melukai Wido dengan ucapannya.

Dan pikiran-pikiran ini mengerak dalam kepalanya. Susah-payah Wido berusaha mengabaikan mereka. Setelah sedikit berhasil gambaran itu malah diganti oleh sepasang sumpit pemberian Laga di hari jadi hubungan mereka itu. Sumpit yang jadi pertanda keruntuhan Laga. Sebuah isyarat dari lelaki itu. Betapa aneh, pikir Wido, justru benda yang sama sekali tidak tajam itu yang memecahkan gelembung-gelembung angannya menjadi serpihan tanpa arti. Wido menjadi jengkel dibuatnya.

Di suatu siang ponsel Wido berbunyi nyaring. Ia alihkan pandang dari setumpuk laporan di meja ke nama yang berkedip di layar, lalu terhenyak. Laga. Lama ia diam sampai orang di sekitar melihat padanya, terganggu. Cepat-cepat ia reject panggilan itu. Tapi sedetik kemudian Laga kembali telepon. Kali ini Wido serba-salah. Akhirnya ia tekan tombol jawab. Di seberang Laga langsung mengomel, “Lama sekali angkat teleponnya?”

Wido bilang ia baru selesai rapat dengan manager. Ada perlu apa, tanyanya. Laga menyambung, kali ini dengan nada antara masih kesal dan murung, “Aku ada di depan kantormu. Ayo kita makan siang bersama.”

“Ke mana?” tanya Wido tanpa gairah.

“Ada kedai ramen enak dekat sini.”

Kedai ramen? Ya, Tuhan! Perasaan Wido makin ruwet. Biasanya mereka makan siang bersama kalau tidak di Senayan City ya di Grand Indonesia. Tapi kini? Wido melihat jam dinding. Pukul dua belas kurang lima. “Oke, aku turun sekarang,” katanya. Ini adalah pertama kali Laga menghubunginya setelah sekian minggu. Ketika melihat lelaki itu di parkiran kantor, Wido terpukul. Laga tampak begitu berantakan, kacau dan tak terurus. Sangat berlainan dengan biasanya.

Dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di kedai yang dimaksud. Tempatnya sempit dan panas. Pegawai kantoran yang sedang makan siang berjejalan di dalamnya. Wido dan Laga makan dalam diam. Sepanjang perjalanan dan selama sepuluh menit menunggu mereka juga tak banyak bicara. Di tengah acara makan tiba-tiba Laga meletakkan sumpitnya. Wido memandanginya bertanya-tanya. “Wid,” kata Laga, “aku sama sekali tak mendengar kabarmu hari-hari terakhir ini. Kau ke mana?”
Ada maksud tersirat dalam perkataan Laga. Wido tahu itu. Ia tak mendampingi lelakinya di masa-masa sulit. Mencoba tetap tenang, Wido berkilah, “Aku agak sibuk…”

“Belakangan segala sesuatu menjadi runyam. Bisnisku…”

Wido mengangguk. Laga tertunduk. Matanya kosong menatap ramennya yang masih separuh. “Ada peluang untuk diperbaiki?” tanya Wido hati-hati.

“Sulit!” Laga menggeleng-geleng. “Aku tak tahu apakah bisa bangkit kembali.”

Perkataan itu terdengar seperti suatu ledakan keras di telinga Wido yang membuatnya tuli beberapa detik. Ia merasa pening. Ketika pendengarannya pulih, ia dengar Laga berkata, “Meski bagaimanapun keadaanku, Wid, aku janji akan membahagiakanmu. Selalu. Aku janji! Seperti yang selama ini aku lakukan.” Mata lelaki itu mengiba. Lenyap ke manakah semua arogansinya? Yang ada di depan Wido sekarang adalah lelaki yang memohon dengan tulus agar ia tidak pergi meninggalkan dirinya. Lelaki itu benar-benar membutuhkannya, mendadak Wido menyadari.

“Aku ingin kita berdua seperti sepasang sumpit, Wid. Yang satu tak akan ada gunanya kalau yang lain tiada atau timpang,” sambung Laga. Ia patahkan sebuah sumpitnya jadi dua. “Jika sendiri aku tak bakal mampu. Tapi bersamamu aku yakin bisa menghadapi kesulitan ini. Karenanya, Wid, maukah kamu menjadi istriku?”
Dari saku celananya Laga mengeluarkan sebuah kotak berisi sepasang cincin berlian yang ia beli jauh sebelum keuangannya kolaps.

Advertisements