Griselda dan Bayinya (Majalah Kartini edisi 4 Februari – 18 Februari 2016)

Griselda dan Bayinya

Bayi mungil itu menangis tak putus-putus. Oekannya memenuhi seluruh rumah. Griselda menjadi pusing dibuatnya. “Diam, diamlah…,” ia coba menenangkan, namun tak membuahkan hasil. Griselda tak tahu apa lagi yang harus ia perbuat untuk menenangkan anaknya yang baru berusia lima hari itu. Sejak dibawa pulang ke rumah kemarin lusa, Mia, nama anaknya itu, selalu rewel. Dari pagi sampai pagi lagi ia hampir tak pernah diam dan tidur tenang seperti bayi-bayi yang selama ini Griselda lihat dan pikirkan.

 
Dengan gamang dan enggan Griselda meraih bayi itu dari kasur, didekapnya anaknya yang pertama, ia buai-buaikan. Namun gerakan Griselda demikian kaku dan gemetar. Mia malah menjerit menjadi-jadi. Ia meronta-ronta seperti ingin turun dari lengan ibunya dan lari seandainya bisa. Bayi itu seolah mampu merasakan bahwa ibunya membangun jarak dengannya.

 
Sejak kembali ke rumah setelah melahirkan Griselda memang hampir tak pernah menyentuh Mia. Ia takut. Di matanya Mia tampak begitu kecil, begitu lemah, begitu rentan. Griselda khawatir perlakuannya akan menyakiti Mia. Bayangan-bayangan ngeri tak henti-henti berseliweran dalam kepalanya. Menggala, suaminya, telah berulang kali memaksa Griselda menimang Mia. Pada awalnya Griselda menolak mati-matian. Tapi Mia butuh disusui, sehingga akhirnya dengan menguatkan diri ia mau menggendongnya. Meskipun begitu, rasa cemasnya yang berlebihan bukan berarti mereda, justru kian kuat mencengkeram benak Griselda.

 
Griselda merasa tak kuat lagi. Ia lelah. Seluruh tubuhnya terasa sakit mulai kepala sampai kaki, dari kulit terluarnya hingga setiap sel yang ada jauh di dalam. Semua serba tak nyaman buatnya. Bahkan ujung-ujung jarinyapun seperti bukan miliknya. Rasanya syaraf-syaraf dan segala pembuluh darah dalam jasmaninya mengalami korsleting. Dan jiwanya… ia seperti hendak gila! Ia merasa bagai sebutir biji pohon randu yang terhuyung-huyung melayang dipermainkan angin, kadang terbang ke atas, kadang jatuh ke bawah dengan cepat. Dan semakin Mia menangis, Griselda menjadi semakin tegang, tertekan, dan tak keruan.

 
Griselda meletakkan lagi bayi itu di tempat tidurnya, lalu menjatuhkan diri ke lantai. Ia tutupi telinganya, ia pegangi kepalanya, memijit pelipisnya, menjambak-jambak rambut panjangnya. Mia terus menangis, tapi Griselda enggan menghampiri. Tak pernah ia bayangkan akan begini jadinya setelah melahirkan. Padahal sejak dulu, bahkan jauh sebelum ia menikah, memiliki anak adalah sesuatu yang ia impi-impikan. Ia selalu suka melihat bayi-bayi dan segala tingkah polahnya. Ia suka mengamati mereka tersenyum, merengut, mengerucutkan bibir, dan berbagai ekspresi lucu lain yang muncul ketika mereka tidur. Griselda selalu berpikir ia akan menjadi ibu yang baik.

 
Akan tetapi semua terjungkir-balik justru saat ia memiliki anaknya sendiri, bayi yang keluar dari rahimnya sendiri. Nanar ia memandangi Mia yang tergolek di kasur. Tangan kecilnya menggapai-gapai mengharapkan seseorang datang untuk menenangkan. Namun Griselda tak beranjak dari lantai. Ia malah kembali menutupi kedua telinganya dengan lengan sementara jemarinya memijit-mijit mercu kepalanya dengan gusar.

 
Dalam keadaan begitulah, Bu Rani mendapati Griselda pagi itu. Ia baru datang dari rumahnya di luar kota untuk membantu Griselda mengurus bayinya ketika dari luar pagar didengarnya tangisan Mia yang begitu keras menyayat dan membuat naluri keibuan wanita manapun tergugah. Karena itulah ia begitu terkejut ketika membuka pintu kamar lalu melihat menantunya justru mengabaikan bayi malang itu dan malah duduk meringkuk di sebelah nakas.

 
Cepat-cepat wanita itu menghampiri si bayi kemudian mengangkatnya ke dalam pelukan. “Griselda, apa yang kau lakukan?” ia menegur perempuan itu.
Griselda mengangkat mukanya dengan ekspresi linglung. Ia sama sekali tak menyadari kedatangan Bu Rani. Alih-alih menjawab pertanyaan itu, yang dikatakannya malah, “Oh, Ibu. Untung Ibu sudah datang. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Bisakah Ibu membuatnya diam?”

 
Mia menangis kian keras dan sambung-menyambung. Bu Rani mencoba menimangnya. Griselda mengerang-erang dan membentur-benturkan kepalanya ke dinding.
“Selda, stop!” perintah Bu Rani tegas dan dengan sikap menguasai keadaan yang kacau itu. “Anakmu lapar, kamu harus menyusuinya.”

 
“Begitukah?” tanya Griselda datar tanpa minat, masih dari sebelah nakas. “Mia tidak mau menyusu, Bu. Ia justru berontak saat tadi saya letakkan di dada saya.”

 
“Ia lapar. Lihat. Masa kamu tidak bisa memahami tangisan anakmu sendiri?”
Griselda menggeleng. “Apakah ada bedanya?”

 
“Tentu saja ada,” tukas Bu Rani sambil berusaha keras menenangkan Mia. Ia lalu menjelaskan perbedaan suara tangisan bayi. Mana yang berarti ia lapar, mana yang berarti ia merasa tak nyaman, mana yang berarti si bayi ingin dipeluk ibunya.

 
“Menurut saya semua sama saja!” sahut Griselda ketus. “Aduh! Kepala saya rasanya mau pecah! Kenapa sih Mia tidak mau diam?”
“Ia lapar,” ulang Bu Rani lagi. Lalu dengan nada membujuk ia berkata, “Ayo susuilah dia. Anakmu ini hanya bergantung pada dirimu seorang untuk makan.”
“Tapi ASI saya tidak keluar, Bu. Setetes pun tidak.”
“Kalau terpaksa beri susu formula.”
Dengan sebal Griselda menjawab, “Gala melarang saya memberi susu formula untuk Mia.”
“Kalau situasinya seperti ini bagaimana?”
“Entah! Saya pusing, Bu,” jerit Griselda. “Gala bahkan tidak membolehkan Mia minum dari botol.”
Meskipun sudah mengetahui hal yang diucapkan Griselda itu langsung dari mulut Menggala, anaknya, beberapa hari lalu, Bu Rani menggeleng-geleng tak habis pikir. Selama ini ia kira orang-orang tualah yang kolot, tapi ternyata ia keliru, anak jaman sekarang seperti Menggala justru bisa lebih tegar tengkuk daripada angkatan ayah dan ibunya.

 
“Akan Ibu minta suster membuatkan susu untuk Mia,” Bu Rani memutuskan, lalu memanggil, “Suster! Suster!”

 
Lama tak terdengar jawaban, sehingga ia berteriak lebih kencang untuk mengatasi tangisan Mia.

 
“Oh, saya menyuruhnya pergi tadi,” mendadak Griselda bicara, seperti baru ingat hal itu.
“Pergi? Ke mana?”

 
“Pergi… ya, pergi,” Griselda melambai-lambaikan tangannya seperti gerakan mengusir sesuatu.

 
“Kamu… memecatnya?” seru Bu Rani tak percaya.

 
Griselda menggangguk. “Perempuan itu tak becus kerja.”

 
“Astaga, Selda! Apa kamu tidak tahu jaman sekarang sulitnya seperti apa mencari pengasuh bayi yang bisa dipercaya? Salah mencari orang, jangan-jangan malah bayimu dibawa lari lalu dijual!”

 
Griselda bergidik mendengar itu, tapi ia membantah, “Pengasuh itu tidak mampu menenangkan Mia. Dia bodoh!”

 

“Surat rekomendasi dari majikan-majikannya yang terdahulu sangat memuaskan,” dengan agak jengkel Bu Rani memberitahu sambil menggoyang-goyangkan tubuh untuk membuai Mia karena suster itu ia yang mencarikan. Bu Rani lalu keluar dari kamar itu, kemudian turun ke dapur dan membuat susu sendiri untuk cucunya.
*

Malam harinya Menggala terkejut mendapati Mia berada dalam gendongan Bu Rani. Bayi itu tampak damai menyusu dari botol. Ia minum dengan giat dan kuat.
“Ibu, apa-apaan ini?” Gala menegur. “Bukannya saya sudah bilang Mia tidak boleh minum dari botol?’

“Iya, Gala, Ibu mengerti, tapi….”

“Lalu ini,” Menggala memotong bicara ibunya, dengan curiga ia bertanya, “Apa isi botol ini?”

Bu Rani berterus terang tentang bahwa botol itu tidak berisi ASI Griselda. Akibatnya Gala menjadi jengkel. Laki-laki itu kemudian mencari-cari istrinya. Oleh ibunya dikatakan bahwa Griselda ada di atas, di kamarnya. “Jangan kau ganggu dia. Keadaannya kacau sekali,” Bu Rani menyambung.

Namun di saat kata terakhir meluncur dari mulut Bu Rani, Gala sudah ada di anak tangga teratas. Masuk ke kamarnya, ia melihat Griselda sedang bersimpuh di lantai di sisi ranjang. Terisak-isak. Sehelai gaun pesta hijau muda tergeletak lunglai di sebelahnya. Tercabik-cabik. Sebilah gunting teronggok di bawah meja rias. Gala tahu itu gaun yang baru dibeli Selda sebelum melahirkan yang rencananya akan dipakai untuk foto keluarga pertama mereka bersama Mia. Menyaksikan pemandangan itu kejengkelan Gala mendadak sirna. Ia bertanya-tanya, “Selda, kamu kenapa?”

Di tengah tangisnya Griselda menggeleng, dan tertawa getir…. “Semua ini salah teman-temanku,” perempuan itu bicara.

“Apa maksudmu?” Gala mendekat lalu duduk di sisi Griselda, membelai-belai punggungnya. “Katakan ada apa.”

Griselda memandang Gala lekat-lekat. “Teman-temanku bilang setelah melahirkan badanku akan tetap langsing seperti sedia kala. Tapi mereka berbohong!”

Memang ketika hamil tubuh Griselda tidak terlalu berubah bentuknya, selain perut yang membesar. Hal itu membuat teman-temannya iri dan memuji-mujinya, berkata bahwa kelak setelah melahirkan pastilah Griselda masih bisa memakai baju-baju lamanya. Karenanya ketika Gala merencanakan sebuah sesi foto keluarga, Griselda pergi ke sebuah butik dan membeli sebuah gaun pesta berwarna lime yang amat cantik bertabur kristal membentuk pola daun-daun pakis dan berkerah model Queen Anne dengan ukuran sesuai tubuhnya sebelum mengandung.

“Tapi sekarang lihat… perutku! Oh! Belum lagi bilur-bilur hitam itu (stretch mark). Mengerikan sekali!” kata Griselda agak histeris. “Mana mungkin aku bisa memakai gaun itu.”

Sadarlah Gala bahwa ibunya benar. Griselda kacau sekali. Sebagai pria ia tak pernah menyangka bahwa melahirkan akan membawa dampak demikian besar pada psikis perempuan. Katanya dengan bersungguh-sungguh pada istrinya, “Ada yang lebih penting dari sekadar penampilan. Kamu sekarang menjadi Ibu. Itu berkah yang tak semua wanita diberi. Lagipula menurutku sekarang pun kamu tetap cantik seperti dulu waktu kita pertama ketemu di kampus.”

Griselda terdiam. Agaknya ia merenungkan perkataan Menggala.

Ketika dilihatnya istrinya sudah lebih tenang, Menggala pelan-pelan masuk ke maksud kedatangannya semula. “Mia membutuhkanmu, Selda. Ia perlu makan dari ibunya langsung. Aku ingin agar antara kamu dan dia terjalin ikatan batin sebagai Ibu dan anak.”

Namun, Griselda menggeleng. “Tidak,” katanya, “aku belum siap.”

Menggala bangkit berdiri. Mendesah. Ia diam sejenak, merenung, lalu pelan-pelan beranjak keluar kamar itu. Ia maklum Griselda perlu menenangkan gejolak-gejolak pasca-melahirkan dalam dirinya. “Biarlah malam ini Mia minum susu selain ASI,” ia berpikir. Ia mencintai Mia, tapi ia juga mencintai Griselda dan tak tahan melihatnya tertekan dan menderita begini.

Sebelum benar-benar pergi, Gala teringat sesuatu. Ia berbalik pada Griselda dan berucap, “Ibu cerita soal suster itu tadi siang lewat telepon. Beliau sudah menghubungi agennya. Besok mereka akan mengirimkan seorang yang lain.”

                                                                                    *

Esok paginya Griselda bangun terlambat. Setelah bermalam-malam dan berhari-hari dihantui tangisan Mia yang membuatnya tak tidur sama sekali, istirahat semalam benar-benar terasa nikmat. Beruntung ibu datang, sehingga semalam Mia dijagainya. Pikiran itu kemudian membawa benak Griselda menyadari sesuatu, rumahnya pagi itu begitu sunyi sepi. Tak ada suara apapun terdengar. Tak juga suara tangisan Mia.

Maka ia meninggalkan tempat tidurnya, turun dan mendapati rumahnya kosong belaka. Jam segitu pastilah Gala sudah berangkat ke kantor. Tapi, di mana Bu Rani dan Mia? Selda mengelilingi rumah, membuka setiap pintu, menjenguk setiap lorong, namun mertua dan anaknya tak ditemukannya. Perempuan itu lalu beranjak ke luar rumah. Bersamaan dengan ia membuka pintu depan, Bu Rani masuk membawa sekeranjang sayur-mayur. Bertanyalah Griselda wanita itu dari mana? Dengan agak terengah setelah berjalan cukup jauh, Bu Rani menjawab bahwa ia baru dari pasar belanja kebutuhan memasak.

“Mia… dia tidak bersama Ibu?” tanya Griselda, suaranya mulai terdengar cemas.

“Tadi Ibu titipkan pada suster.”

“Suster?” Griselda terperanjat. “Suster apa?”

“Suster yang dikirim oleh agen penyalur jasa baby sitter pagi ini.”

Melihat raut wajah menantunya yang aneh, Bu Rani menangkap sesuatu, ia bertanya, “Apa mereka tidak ada di rumah?”

Griselda menggelengkan kepala. Dengan agak tergeragap Bu Rani kemudian bercerita bahwa perempuan itu datang pagi tadi tepat setelah Menggala berangkat. Bu Ranilah yang menerimanya, memeriksa suratnya, mengajaknya masuk, dan menerangkan tugas-tugasnya. Ia lantas pergi ke dapur hendak memasak dan menyadari bahwa kulkas rumah itu kosong melompong, sehingga ia memutuskan belanja sebentar. “Waktu itulah Ibu titipkan Mia pada wanita itu,” kata Bu Rani.

Selda bertambah panik. Memang semalam samar-samar ia ingat Menggala berkata bahwa agen akan mendatangkan pengasuh baru hari ini. Namun yang lebih kencang mendera pikirannya adalah ucapan Bu Rani soal pengasuh yang membawa lari bayi-bayi kemudian menjualnya.

“Berapa lama Ibu pergi tadi?” Griselda berkata pada mertuanya. Ia meremas-remas rambutnya sendiri sambil berjalan hilir-mudik.

“Sejam, kurang-lebih.”

Sepasang menantu-mertua itu kemudian sama-sama terdiam dan khawatir, namun tak tahu harus berbuat apa. Mereka hanya berdiri saja di teras rumah itu sambil berharap pikiran-pikiran buruk mereka keliru dan keajaiban akan datang.

Dan keajaiban benar-benar datang setelah sekian belas menit yang rasanya seperti berbulan-bulan berlalu dan mereka berdua hanya terpaku di sana seperti dua tiang garam, ketika mereka melihat seorang wanita memasuki pagar membawa Mia dalam dekapannya.

“Itu dia orangnya,” bisik Bu Rani pada Griselda, lega. Lalu pada pengasuh itu ia bertanya, “Dari mana saja? Kami cemas mencari-cari.”

Seolah tak menyadari apa yang terjadi, wanita yang baru datang itu menjelaskan bahwa setelah Bu Rani pergi tadi ia menyadari kalau bayi yang ia pegang agak kuning tubuhnya. Pastilah anak ini belum pernah dibawa berjemur di bawah mentari pagi, ia pikir. Jadi ia keluar dan mengajak Mia ke taman perumahan karena di sana lebih banyak menerima paparan sinar matahari. “Teras ini tertutupi banyak pohon, sehingga percuma berjemur di sini,” ujarnya.

Griselda yang hampir menangis histeris kemudian mengambil Mia dari gendongan sang pengasuh. Didekapnya anaknya. Ia pandangi. Ia cemas jangan-jangan ada yang berkurang dari bayi itu (yang ternyata tidak). Kejadian itu membukakan mata hatinya, betapa Mia begitu berharga, betapa ia cemas jika ada sesuatu yang buruk menimpanya, betapa ia selama beberapa hari ini telah menelantarkan anaknya, dan perilakunya tidak mencerminkan sikap ibu yang baik.

Berada dalam buaian Griselda, Mia yang semula tertidur tenang, terbangun lalu menangis.
“Kelihatannya ia lapar,” kata Bu Rani. “Suster, tolong buatkan susu.”

Tapi ketika suster itu hendak masuk ke rumah, Griselda mencegah. “Tidak usah. Akan kususui sendiri anakku,” ia berkata.

Malamnya ketika Menggala sampai ke rumah, didapatinya di kursi di mana kemarin ia melihat Bu Rani memberi susu dari botol kepada Mia, Griselda yang sedang mendekap Mia dalam dadanya. Bayi itu tengah minum ASI langsung dari ibunya. Pemandangan itu menghangatkan hati Menggala. Panatnya seketika sirna. Inilah yang ia inginkan agar terjadi. Terjalinnya hubungan batin antara ibu dan anak.

Lelaki itu mendekat, mencium hangat kepala Griselda, lalu mengecup lembut anaknya. Dengan gembira yang tak dapat ditahan-tahan lagi, ia berkata, “Mulai dari sekarang tak akan ada yang dapat memisahkan kalian berdua.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s