Bukan Surga (Dimuat di Majalah HAI edisii 17 Agustus 2015)

Bukan Surga 2 - Copy

MOS sudah kelar. Tahun ajaran baru di sekolah baru resmi dimulai. Selama seminggu ospek itu Guido dapat kenalan anyar. Namanya Pandu. Kedua cowok itu cepet jadi akrab karena kebetulan pas diberi tugas bawa makanan dengan clue ‘guling benanah’ (yang ternyata adalah sosis dengan mayonaisse) mereka sekelompok. Selain itu Pandu asik anaknya. Gadgetnya serba keluaran terbaru. Nggak seperti anak lain yang kalau punya barang mahal sedikit orang lain dilarang sentuh, Pandu lain. Dia malah nawarin Guido mainin game di ponselnya yang harganya hampir bisa dibuat beli motor! Tentu saja Guido menolak. Takut kalau nanti lecet atau jatuh, apalagi rusak. Duit dari mana buat gantiin?

 
Suatu siang, Pandu ngajak Guido main ke rumahnya. Karena kebetulan hari itu ibu Guido lagi pergi ke rumah famili di luar kota, jadi cowok ceking itu bebas dari tugas jaga warung. “Oke, deh. Gue bisa,” sahut Guido semangat. “Tapi gue ajak si Nisal, ya?” Nisal adalah temennya sejak SMP yang masuk ke SMA yang sama. Mereka pun sekelas. Pandu nggak keberatan.

 
Maka sepulang sekolah mereka bertandang ke rumah Pandu. Cowok itu naik mobil (dijemput supir), sementara Guido dan Nisal boncengan motor, menguntit. Melihat tongkrongan Pandu yang kece dan barang-barangnya yang branded, Guido sudah duga kalau rumah temennya itu pasti elit. Meskipun begitu pas sampai di tempat tujuan tetap saja dia terperangah.

 
Rumah itu megah sekali. Mirip istana. Dengan pilar-pilar besar dan taman luas. Bagian dalam rumah itu tampak serba mengilap di mata Guido. Perabotnya mahal-mahal. “Ayo ke kamar gue!” ajak Pandu. Guido dan Nisal mengekor sambil tak henti-hentinya merasa kagum dan berdecak-decak.

 
Memasuki kamar Pandu mereka lebih terperangah lagi. “Wow! Ini sih bukan rumah. Ini surga!” seru Guido antusias. Gimana nggak, ruangan itu punya teve LED yang besar sekali. Piranti game-nya keluaran terbaru. Sound system-nya mantab. Koleksi kasetnya satu rak penuh. “Kalau kayak gini bisa-bisa gue nggak mau pulang,” kata Guido lagi.

 
“Anggep rumah sendiri,” tukas Pandu enteng. “Bentar ya gue suruh si Bibi bikin minum dulu.” Pandu lalu keluar.

 
Rupanya omongan Pandu ditanggapi serius oleh Nisal. Cowok itu dengan sembrononya membuka-buka sebuah lemari yang tinggi menyentuh langit-langit. Ternyata yang disangkanya lemari adalah sebuah pintu. Dan ia terperanjat lihat isinya. Cepat-cepat ia panggil Guido. Di balik pintu ada kamar lain yang menyimpan seluruh koleksi pakaian Pandu. Jumlahnya banyak sekali. Dulu Guido pernah diajak seorang kerabatnya ke sebuah butik. Dagangan butik itupun masih kalah banyak dengan yang saat ini ia lihat. Salah satu sisi dindingnya dari atas ke bawah penuh dengan sepatu yang diletakkan rapi pada ambalan-ambalan.

 
Asik-asiknya melihat-lihat tiba-tiba muncul suara, “Kalau kalian mau kalian boleh pilih beberapa buat dibawa pulang.”

 
Guido dan Nisal kaget setengah mati. “Eh, Pandu. Nggak, nggak, kita cuma lihat aja, kok,” jawab Guido tengsin.

 
Sore itu mereka habiskan dengan main game. Seru sekali karena ditunjang fasilitas kelas satu, hingga mereka lupa waktu. Ketika sadar, tahu-tahu langit sudah gelap. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. “Sial! Ibu gue bisa marah-marah,” ujar Guido.

 
“Nginep sini aja. Lu telepon Ibu elu,” tawar Pandu. Usul itu ditolak Guido. Ibunya jelas kuatir. Ketika dicek di ponsel Guido ada dua puluh panggilan tak terjawab.

 
Sampai di rumah Guido diomeli habis-habisan. Tapi bukan itu yang ia perhatikan. Ia memperhatikan rumahnya. Rumah yang ia tinggali sejak dulu. Rumah itu kini keliahatan kecil sekali dan kusam. Serba remang, serba pudar. Tiba-tiba Guido merasa sesak di situ. Begitu pula kamarnya. Terasa sangat sempit dan pengap. Kasurnya terasa keras. Ketika beranjak tidur ia teringat kisah yang pernah ia baca waktu SD. Kisah Urashima Taro yang pergi ke istana bawah laut dan menikmati segala kemewahan di sana, yang ketika kembali ke daratan ternyata waktu sudah lewat ratusan tahun dan semua orang yang ia kenal sudah tiada, padahal ia merasa cuma sebentar pergi.

 
Malam itu ia bermimpi tentang Urashima Taro.
*

 
Ibu Guido berdiri di depan warungnya sambil ngomel, “Ke mana lagi itu anak? Mangkir lagi jaga warung!”

 
Sejak pertama ia main ke rumah Pandu, Guido nggak pernah pulang on time. Nggak ada bosannya ia ke tempat itu. Paling cepat sampai rumah selewat Maghrib. Selalu ngeles dari tugas-tugasnya. Hal ini bikin kedua orangtuanya cemas. Setiap cowok itu pulang mereka selalu tanya ini-itu, ke mana, sama siapa, ngapain, karena memang Guido nggak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.

 
Hal itu bikin Guido risih. Di rumah Pandu dirinya bebas dan merasa nyaman. Nggak ada aturan. Boleh main sepuasnya. Makanan di situ juga enak-enak. Lama-kelamaan ia benar-benar menganggap rumah itu rumahnya sendiri dan merasa makin asing di rumahnya yang sebenarnya. Kian hari ia kian nggak betah di rumahnya yang kecil di tengah sebuah kampung.

 
Anehnya, setelah main ke rumah Pandu tempo hari, Nisal nggak pernah mau lagi diajak ke sana. Selalu ada saja alasannya. Begitu juga teman sekelasnya yang lain. Cuma dengan Guido, Pandu berteman. Anak-anak lain seolah menjaga jarak. Guido pikir, itu karena semacam ‘kesenjangan sosial’ atau rasa iri. “Padahal Pandu itu baik banget,” ia berkata sendiri.

 
Melihat tingkah Guido yang makin sembarangan, kecemasan orangtuanya berubah jadi jengkel. Apalagi hari ini dia sudah janji gantiin ibu jaga warung sementara wanita itu pergi kondangan. Tapi buat Guido tugas jaga warung itu terasa membosankan. Pulang sekolah ia malah cabut ke rumah Pandu. Sampai rumah jam 9.15 ia didudukkan di ruang tamu. Bapak dan ibunya ceramah panjang lebar. Guido nggak tahan lagi. Ia berkata, “Guido main ke mana, sama siapa, itu privasi Guido. Bapak sama Ibu nggak usah ikut campur!”
*

 
“Malam ini gue nginep rumah elu,” kata Guido ke Pandu. “Kita ngegame sampai pagi!”
Pandu tertawa lebar. “Okee, Bro. No problemo!”

 
Jadi malam itu Guido nggak pulang. Masih sebal karena omelan orangtuanya, ia nggak pamit. Hape ia matikan. Ia dan Pandu langsung selonjoran di depan teve begitu sampai di rumah Pandu. Stik game nggak pernah lepas dari tangan. Benda itu baru diletakkannya ketika ia merasa perutnya mulas dan pamit ke kamar mandi.

 
Habis menunaikan hajatnya, Guido nggak langsung balik. Ia merasakan suatu dorongan untuk menjelajah rumah itu lebih jauh. Ia berkeliling sampai ruang keluarga. Di sana ia lihat foto Pandu dan kedua orangtuanya. Baru ia sadari, selama ini belum sekalipun ia ketemu ortu Pandu.

 
“Papa sama Mama elu pasti sibuk banget, ya? Kok gue nggak pernah ketemu,” ujar Guido waktu ia balik ke kamar.

 
Pandu yang lagi asik main sendiri langsung terpaku. Lakon game di layar seketika berhenti. Musik terdengar nyaring, tapi ada sunyi yang menusuk. Guido merasa ada yang salah dengan ucapannya.

 
Tiba-tiba Pandu tersenyum pahit. “Selama ini gue bertanya-tanya kenapa cuma elu yang mau temenan sama gue. Ternyata elu belum tahu.”

 
“Apaan, sih?”

 
Pandu lalu cerita, papanya dulu pejabat pemerintahan. Ia korupsi dan tertangkap. Sekarang ada dalam penjara. “Sementara Mama… Setelah Papa tertangkap, Mama minta cerai. Sekarang Mama sudah menikah lagi,” tutur Pandu dingin. “Aku cuma sama Bibi (asisten rumah tangga) saja di sini.”

 
Mendadak rumah Pandu yang mewah itu terlihat bukan seperti surga lagi buat Guido, melainkan penjara yang sunyi dan semu. Ia lalu ingat bapak dan ibunya.
Pagi-pagi betul ia pamitan pulang. “Gue mandi di rumah aja,” alasannya ke Pandu.
Melihat Guido pulang, ibu yang hendak ke pasar langung nangis hebat. Dipeluknya Guido seperti takut hilang. Guido bersyukur. Nggak seperti Urashima Taro yang nggak menemui siapapun keluarganya sepulangnya dari istana laut, ia masih merasakan berkat itu.
Melihat sekeliling tempat tinggalnya yang kecil itu ia berpikir, jelas ini bukan surga, tapi ini rumah….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s