Bukan Surga (Dimuat di Majalah HAI edisii 17 Agustus 2015)

Bukan Surga 2 - Copy

MOS sudah kelar. Tahun ajaran baru di sekolah baru resmi dimulai. Selama seminggu ospek itu Guido dapat kenalan anyar. Namanya Pandu. Kedua cowok itu cepet jadi akrab karena kebetulan pas diberi tugas bawa makanan dengan clue ‘guling benanah’ (yang ternyata adalah sosis dengan mayonaisse) mereka sekelompok. Selain itu Pandu asik anaknya. Gadgetnya serba keluaran terbaru. Nggak seperti anak lain yang kalau punya barang mahal sedikit orang lain dilarang sentuh, Pandu lain. Dia malah nawarin Guido mainin game di ponselnya yang harganya hampir bisa dibuat beli motor! Tentu saja Guido menolak. Takut kalau nanti lecet atau jatuh, apalagi rusak. Duit dari mana buat gantiin?

 
Suatu siang, Pandu ngajak Guido main ke rumahnya. Karena kebetulan hari itu ibu Guido lagi pergi ke rumah famili di luar kota, jadi cowok ceking itu bebas dari tugas jaga warung. “Oke, deh. Gue bisa,” sahut Guido semangat. “Tapi gue ajak si Nisal, ya?” Nisal adalah temennya sejak SMP yang masuk ke SMA yang sama. Mereka pun sekelas. Pandu nggak keberatan.

 
Maka sepulang sekolah mereka bertandang ke rumah Pandu. Cowok itu naik mobil (dijemput supir), sementara Guido dan Nisal boncengan motor, menguntit. Melihat tongkrongan Pandu yang kece dan barang-barangnya yang branded, Guido sudah duga kalau rumah temennya itu pasti elit. Meskipun begitu pas sampai di tempat tujuan tetap saja dia terperangah.

 
Rumah itu megah sekali. Mirip istana. Dengan pilar-pilar besar dan taman luas. Bagian dalam rumah itu tampak serba mengilap di mata Guido. Perabotnya mahal-mahal. “Ayo ke kamar gue!” ajak Pandu. Guido dan Nisal mengekor sambil tak henti-hentinya merasa kagum dan berdecak-decak.

 
Memasuki kamar Pandu mereka lebih terperangah lagi. “Wow! Ini sih bukan rumah. Ini surga!” seru Guido antusias. Gimana nggak, ruangan itu punya teve LED yang besar sekali. Piranti game-nya keluaran terbaru. Sound system-nya mantab. Koleksi kasetnya satu rak penuh. “Kalau kayak gini bisa-bisa gue nggak mau pulang,” kata Guido lagi.

 
“Anggep rumah sendiri,” tukas Pandu enteng. “Bentar ya gue suruh si Bibi bikin minum dulu.” Pandu lalu keluar.

 
Rupanya omongan Pandu ditanggapi serius oleh Nisal. Cowok itu dengan sembrononya membuka-buka sebuah lemari yang tinggi menyentuh langit-langit. Ternyata yang disangkanya lemari adalah sebuah pintu. Dan ia terperanjat lihat isinya. Cepat-cepat ia panggil Guido. Di balik pintu ada kamar lain yang menyimpan seluruh koleksi pakaian Pandu. Jumlahnya banyak sekali. Dulu Guido pernah diajak seorang kerabatnya ke sebuah butik. Dagangan butik itupun masih kalah banyak dengan yang saat ini ia lihat. Salah satu sisi dindingnya dari atas ke bawah penuh dengan sepatu yang diletakkan rapi pada ambalan-ambalan.

 
Asik-asiknya melihat-lihat tiba-tiba muncul suara, “Kalau kalian mau kalian boleh pilih beberapa buat dibawa pulang.”

 
Guido dan Nisal kaget setengah mati. “Eh, Pandu. Nggak, nggak, kita cuma lihat aja, kok,” jawab Guido tengsin.

 
Sore itu mereka habiskan dengan main game. Seru sekali karena ditunjang fasilitas kelas satu, hingga mereka lupa waktu. Ketika sadar, tahu-tahu langit sudah gelap. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. “Sial! Ibu gue bisa marah-marah,” ujar Guido.

 
“Nginep sini aja. Lu telepon Ibu elu,” tawar Pandu. Usul itu ditolak Guido. Ibunya jelas kuatir. Ketika dicek di ponsel Guido ada dua puluh panggilan tak terjawab.

 
Sampai di rumah Guido diomeli habis-habisan. Tapi bukan itu yang ia perhatikan. Ia memperhatikan rumahnya. Rumah yang ia tinggali sejak dulu. Rumah itu kini keliahatan kecil sekali dan kusam. Serba remang, serba pudar. Tiba-tiba Guido merasa sesak di situ. Begitu pula kamarnya. Terasa sangat sempit dan pengap. Kasurnya terasa keras. Ketika beranjak tidur ia teringat kisah yang pernah ia baca waktu SD. Kisah Urashima Taro yang pergi ke istana bawah laut dan menikmati segala kemewahan di sana, yang ketika kembali ke daratan ternyata waktu sudah lewat ratusan tahun dan semua orang yang ia kenal sudah tiada, padahal ia merasa cuma sebentar pergi.

 
Malam itu ia bermimpi tentang Urashima Taro.
*

 
Ibu Guido berdiri di depan warungnya sambil ngomel, “Ke mana lagi itu anak? Mangkir lagi jaga warung!”

 
Sejak pertama ia main ke rumah Pandu, Guido nggak pernah pulang on time. Nggak ada bosannya ia ke tempat itu. Paling cepat sampai rumah selewat Maghrib. Selalu ngeles dari tugas-tugasnya. Hal ini bikin kedua orangtuanya cemas. Setiap cowok itu pulang mereka selalu tanya ini-itu, ke mana, sama siapa, ngapain, karena memang Guido nggak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.

 
Hal itu bikin Guido risih. Di rumah Pandu dirinya bebas dan merasa nyaman. Nggak ada aturan. Boleh main sepuasnya. Makanan di situ juga enak-enak. Lama-kelamaan ia benar-benar menganggap rumah itu rumahnya sendiri dan merasa makin asing di rumahnya yang sebenarnya. Kian hari ia kian nggak betah di rumahnya yang kecil di tengah sebuah kampung.

 
Anehnya, setelah main ke rumah Pandu tempo hari, Nisal nggak pernah mau lagi diajak ke sana. Selalu ada saja alasannya. Begitu juga teman sekelasnya yang lain. Cuma dengan Guido, Pandu berteman. Anak-anak lain seolah menjaga jarak. Guido pikir, itu karena semacam ‘kesenjangan sosial’ atau rasa iri. “Padahal Pandu itu baik banget,” ia berkata sendiri.

 
Melihat tingkah Guido yang makin sembarangan, kecemasan orangtuanya berubah jadi jengkel. Apalagi hari ini dia sudah janji gantiin ibu jaga warung sementara wanita itu pergi kondangan. Tapi buat Guido tugas jaga warung itu terasa membosankan. Pulang sekolah ia malah cabut ke rumah Pandu. Sampai rumah jam 9.15 ia didudukkan di ruang tamu. Bapak dan ibunya ceramah panjang lebar. Guido nggak tahan lagi. Ia berkata, “Guido main ke mana, sama siapa, itu privasi Guido. Bapak sama Ibu nggak usah ikut campur!”
*

 
“Malam ini gue nginep rumah elu,” kata Guido ke Pandu. “Kita ngegame sampai pagi!”
Pandu tertawa lebar. “Okee, Bro. No problemo!”

 
Jadi malam itu Guido nggak pulang. Masih sebal karena omelan orangtuanya, ia nggak pamit. Hape ia matikan. Ia dan Pandu langsung selonjoran di depan teve begitu sampai di rumah Pandu. Stik game nggak pernah lepas dari tangan. Benda itu baru diletakkannya ketika ia merasa perutnya mulas dan pamit ke kamar mandi.

 
Habis menunaikan hajatnya, Guido nggak langsung balik. Ia merasakan suatu dorongan untuk menjelajah rumah itu lebih jauh. Ia berkeliling sampai ruang keluarga. Di sana ia lihat foto Pandu dan kedua orangtuanya. Baru ia sadari, selama ini belum sekalipun ia ketemu ortu Pandu.

 
“Papa sama Mama elu pasti sibuk banget, ya? Kok gue nggak pernah ketemu,” ujar Guido waktu ia balik ke kamar.

 
Pandu yang lagi asik main sendiri langsung terpaku. Lakon game di layar seketika berhenti. Musik terdengar nyaring, tapi ada sunyi yang menusuk. Guido merasa ada yang salah dengan ucapannya.

 
Tiba-tiba Pandu tersenyum pahit. “Selama ini gue bertanya-tanya kenapa cuma elu yang mau temenan sama gue. Ternyata elu belum tahu.”

 
“Apaan, sih?”

 
Pandu lalu cerita, papanya dulu pejabat pemerintahan. Ia korupsi dan tertangkap. Sekarang ada dalam penjara. “Sementara Mama… Setelah Papa tertangkap, Mama minta cerai. Sekarang Mama sudah menikah lagi,” tutur Pandu dingin. “Aku cuma sama Bibi (asisten rumah tangga) saja di sini.”

 
Mendadak rumah Pandu yang mewah itu terlihat bukan seperti surga lagi buat Guido, melainkan penjara yang sunyi dan semu. Ia lalu ingat bapak dan ibunya.
Pagi-pagi betul ia pamitan pulang. “Gue mandi di rumah aja,” alasannya ke Pandu.
Melihat Guido pulang, ibu yang hendak ke pasar langung nangis hebat. Dipeluknya Guido seperti takut hilang. Guido bersyukur. Nggak seperti Urashima Taro yang nggak menemui siapapun keluarganya sepulangnya dari istana laut, ia masih merasakan berkat itu.
Melihat sekeliling tempat tinggalnya yang kecil itu ia berpikir, jelas ini bukan surga, tapi ini rumah….

Advertisements

Griselda dan Bayinya (Majalah Kartini edisi 4 Februari – 18 Februari 2016)

Griselda dan Bayinya

Bayi mungil itu menangis tak putus-putus. Oekannya memenuhi seluruh rumah. Griselda menjadi pusing dibuatnya. “Diam, diamlah…,” ia coba menenangkan, namun tak membuahkan hasil. Griselda tak tahu apa lagi yang harus ia perbuat untuk menenangkan anaknya yang baru berusia lima hari itu. Sejak dibawa pulang ke rumah kemarin lusa, Mia, nama anaknya itu, selalu rewel. Dari pagi sampai pagi lagi ia hampir tak pernah diam dan tidur tenang seperti bayi-bayi yang selama ini Griselda lihat dan pikirkan.

 
Dengan gamang dan enggan Griselda meraih bayi itu dari kasur, didekapnya anaknya yang pertama, ia buai-buaikan. Namun gerakan Griselda demikian kaku dan gemetar. Mia malah menjerit menjadi-jadi. Ia meronta-ronta seperti ingin turun dari lengan ibunya dan lari seandainya bisa. Bayi itu seolah mampu merasakan bahwa ibunya membangun jarak dengannya.

 
Sejak kembali ke rumah setelah melahirkan Griselda memang hampir tak pernah menyentuh Mia. Ia takut. Di matanya Mia tampak begitu kecil, begitu lemah, begitu rentan. Griselda khawatir perlakuannya akan menyakiti Mia. Bayangan-bayangan ngeri tak henti-henti berseliweran dalam kepalanya. Menggala, suaminya, telah berulang kali memaksa Griselda menimang Mia. Pada awalnya Griselda menolak mati-matian. Tapi Mia butuh disusui, sehingga akhirnya dengan menguatkan diri ia mau menggendongnya. Meskipun begitu, rasa cemasnya yang berlebihan bukan berarti mereda, justru kian kuat mencengkeram benak Griselda.

 
Griselda merasa tak kuat lagi. Ia lelah. Seluruh tubuhnya terasa sakit mulai kepala sampai kaki, dari kulit terluarnya hingga setiap sel yang ada jauh di dalam. Semua serba tak nyaman buatnya. Bahkan ujung-ujung jarinyapun seperti bukan miliknya. Rasanya syaraf-syaraf dan segala pembuluh darah dalam jasmaninya mengalami korsleting. Dan jiwanya… ia seperti hendak gila! Ia merasa bagai sebutir biji pohon randu yang terhuyung-huyung melayang dipermainkan angin, kadang terbang ke atas, kadang jatuh ke bawah dengan cepat. Dan semakin Mia menangis, Griselda menjadi semakin tegang, tertekan, dan tak keruan.

 
Griselda meletakkan lagi bayi itu di tempat tidurnya, lalu menjatuhkan diri ke lantai. Ia tutupi telinganya, ia pegangi kepalanya, memijit pelipisnya, menjambak-jambak rambut panjangnya. Mia terus menangis, tapi Griselda enggan menghampiri. Tak pernah ia bayangkan akan begini jadinya setelah melahirkan. Padahal sejak dulu, bahkan jauh sebelum ia menikah, memiliki anak adalah sesuatu yang ia impi-impikan. Ia selalu suka melihat bayi-bayi dan segala tingkah polahnya. Ia suka mengamati mereka tersenyum, merengut, mengerucutkan bibir, dan berbagai ekspresi lucu lain yang muncul ketika mereka tidur. Griselda selalu berpikir ia akan menjadi ibu yang baik.

 
Akan tetapi semua terjungkir-balik justru saat ia memiliki anaknya sendiri, bayi yang keluar dari rahimnya sendiri. Nanar ia memandangi Mia yang tergolek di kasur. Tangan kecilnya menggapai-gapai mengharapkan seseorang datang untuk menenangkan. Namun Griselda tak beranjak dari lantai. Ia malah kembali menutupi kedua telinganya dengan lengan sementara jemarinya memijit-mijit mercu kepalanya dengan gusar.

 
Dalam keadaan begitulah, Bu Rani mendapati Griselda pagi itu. Ia baru datang dari rumahnya di luar kota untuk membantu Griselda mengurus bayinya ketika dari luar pagar didengarnya tangisan Mia yang begitu keras menyayat dan membuat naluri keibuan wanita manapun tergugah. Karena itulah ia begitu terkejut ketika membuka pintu kamar lalu melihat menantunya justru mengabaikan bayi malang itu dan malah duduk meringkuk di sebelah nakas.

 
Cepat-cepat wanita itu menghampiri si bayi kemudian mengangkatnya ke dalam pelukan. “Griselda, apa yang kau lakukan?” ia menegur perempuan itu.
Griselda mengangkat mukanya dengan ekspresi linglung. Ia sama sekali tak menyadari kedatangan Bu Rani. Alih-alih menjawab pertanyaan itu, yang dikatakannya malah, “Oh, Ibu. Untung Ibu sudah datang. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Bisakah Ibu membuatnya diam?”

 
Mia menangis kian keras dan sambung-menyambung. Bu Rani mencoba menimangnya. Griselda mengerang-erang dan membentur-benturkan kepalanya ke dinding.
“Selda, stop!” perintah Bu Rani tegas dan dengan sikap menguasai keadaan yang kacau itu. “Anakmu lapar, kamu harus menyusuinya.”

 
“Begitukah?” tanya Griselda datar tanpa minat, masih dari sebelah nakas. “Mia tidak mau menyusu, Bu. Ia justru berontak saat tadi saya letakkan di dada saya.”

 
“Ia lapar. Lihat. Masa kamu tidak bisa memahami tangisan anakmu sendiri?”
Griselda menggeleng. “Apakah ada bedanya?”

 
“Tentu saja ada,” tukas Bu Rani sambil berusaha keras menenangkan Mia. Ia lalu menjelaskan perbedaan suara tangisan bayi. Mana yang berarti ia lapar, mana yang berarti ia merasa tak nyaman, mana yang berarti si bayi ingin dipeluk ibunya.

 
“Menurut saya semua sama saja!” sahut Griselda ketus. “Aduh! Kepala saya rasanya mau pecah! Kenapa sih Mia tidak mau diam?”
“Ia lapar,” ulang Bu Rani lagi. Lalu dengan nada membujuk ia berkata, “Ayo susuilah dia. Anakmu ini hanya bergantung pada dirimu seorang untuk makan.”
“Tapi ASI saya tidak keluar, Bu. Setetes pun tidak.”
“Kalau terpaksa beri susu formula.”
Dengan sebal Griselda menjawab, “Gala melarang saya memberi susu formula untuk Mia.”
“Kalau situasinya seperti ini bagaimana?”
“Entah! Saya pusing, Bu,” jerit Griselda. “Gala bahkan tidak membolehkan Mia minum dari botol.”
Meskipun sudah mengetahui hal yang diucapkan Griselda itu langsung dari mulut Menggala, anaknya, beberapa hari lalu, Bu Rani menggeleng-geleng tak habis pikir. Selama ini ia kira orang-orang tualah yang kolot, tapi ternyata ia keliru, anak jaman sekarang seperti Menggala justru bisa lebih tegar tengkuk daripada angkatan ayah dan ibunya.

 
“Akan Ibu minta suster membuatkan susu untuk Mia,” Bu Rani memutuskan, lalu memanggil, “Suster! Suster!”

 
Lama tak terdengar jawaban, sehingga ia berteriak lebih kencang untuk mengatasi tangisan Mia.

 
“Oh, saya menyuruhnya pergi tadi,” mendadak Griselda bicara, seperti baru ingat hal itu.
“Pergi? Ke mana?”

 
“Pergi… ya, pergi,” Griselda melambai-lambaikan tangannya seperti gerakan mengusir sesuatu.

 
“Kamu… memecatnya?” seru Bu Rani tak percaya.

 
Griselda menggangguk. “Perempuan itu tak becus kerja.”

 
“Astaga, Selda! Apa kamu tidak tahu jaman sekarang sulitnya seperti apa mencari pengasuh bayi yang bisa dipercaya? Salah mencari orang, jangan-jangan malah bayimu dibawa lari lalu dijual!”

 
Griselda bergidik mendengar itu, tapi ia membantah, “Pengasuh itu tidak mampu menenangkan Mia. Dia bodoh!”

 

“Surat rekomendasi dari majikan-majikannya yang terdahulu sangat memuaskan,” dengan agak jengkel Bu Rani memberitahu sambil menggoyang-goyangkan tubuh untuk membuai Mia karena suster itu ia yang mencarikan. Bu Rani lalu keluar dari kamar itu, kemudian turun ke dapur dan membuat susu sendiri untuk cucunya.
*

Malam harinya Menggala terkejut mendapati Mia berada dalam gendongan Bu Rani. Bayi itu tampak damai menyusu dari botol. Ia minum dengan giat dan kuat.
“Ibu, apa-apaan ini?” Gala menegur. “Bukannya saya sudah bilang Mia tidak boleh minum dari botol?’

“Iya, Gala, Ibu mengerti, tapi….”

“Lalu ini,” Menggala memotong bicara ibunya, dengan curiga ia bertanya, “Apa isi botol ini?”

Bu Rani berterus terang tentang bahwa botol itu tidak berisi ASI Griselda. Akibatnya Gala menjadi jengkel. Laki-laki itu kemudian mencari-cari istrinya. Oleh ibunya dikatakan bahwa Griselda ada di atas, di kamarnya. “Jangan kau ganggu dia. Keadaannya kacau sekali,” Bu Rani menyambung.

Namun di saat kata terakhir meluncur dari mulut Bu Rani, Gala sudah ada di anak tangga teratas. Masuk ke kamarnya, ia melihat Griselda sedang bersimpuh di lantai di sisi ranjang. Terisak-isak. Sehelai gaun pesta hijau muda tergeletak lunglai di sebelahnya. Tercabik-cabik. Sebilah gunting teronggok di bawah meja rias. Gala tahu itu gaun yang baru dibeli Selda sebelum melahirkan yang rencananya akan dipakai untuk foto keluarga pertama mereka bersama Mia. Menyaksikan pemandangan itu kejengkelan Gala mendadak sirna. Ia bertanya-tanya, “Selda, kamu kenapa?”

Di tengah tangisnya Griselda menggeleng, dan tertawa getir…. “Semua ini salah teman-temanku,” perempuan itu bicara.

“Apa maksudmu?” Gala mendekat lalu duduk di sisi Griselda, membelai-belai punggungnya. “Katakan ada apa.”

Griselda memandang Gala lekat-lekat. “Teman-temanku bilang setelah melahirkan badanku akan tetap langsing seperti sedia kala. Tapi mereka berbohong!”

Memang ketika hamil tubuh Griselda tidak terlalu berubah bentuknya, selain perut yang membesar. Hal itu membuat teman-temannya iri dan memuji-mujinya, berkata bahwa kelak setelah melahirkan pastilah Griselda masih bisa memakai baju-baju lamanya. Karenanya ketika Gala merencanakan sebuah sesi foto keluarga, Griselda pergi ke sebuah butik dan membeli sebuah gaun pesta berwarna lime yang amat cantik bertabur kristal membentuk pola daun-daun pakis dan berkerah model Queen Anne dengan ukuran sesuai tubuhnya sebelum mengandung.

“Tapi sekarang lihat… perutku! Oh! Belum lagi bilur-bilur hitam itu (stretch mark). Mengerikan sekali!” kata Griselda agak histeris. “Mana mungkin aku bisa memakai gaun itu.”

Sadarlah Gala bahwa ibunya benar. Griselda kacau sekali. Sebagai pria ia tak pernah menyangka bahwa melahirkan akan membawa dampak demikian besar pada psikis perempuan. Katanya dengan bersungguh-sungguh pada istrinya, “Ada yang lebih penting dari sekadar penampilan. Kamu sekarang menjadi Ibu. Itu berkah yang tak semua wanita diberi. Lagipula menurutku sekarang pun kamu tetap cantik seperti dulu waktu kita pertama ketemu di kampus.”

Griselda terdiam. Agaknya ia merenungkan perkataan Menggala.

Ketika dilihatnya istrinya sudah lebih tenang, Menggala pelan-pelan masuk ke maksud kedatangannya semula. “Mia membutuhkanmu, Selda. Ia perlu makan dari ibunya langsung. Aku ingin agar antara kamu dan dia terjalin ikatan batin sebagai Ibu dan anak.”

Namun, Griselda menggeleng. “Tidak,” katanya, “aku belum siap.”

Menggala bangkit berdiri. Mendesah. Ia diam sejenak, merenung, lalu pelan-pelan beranjak keluar kamar itu. Ia maklum Griselda perlu menenangkan gejolak-gejolak pasca-melahirkan dalam dirinya. “Biarlah malam ini Mia minum susu selain ASI,” ia berpikir. Ia mencintai Mia, tapi ia juga mencintai Griselda dan tak tahan melihatnya tertekan dan menderita begini.

Sebelum benar-benar pergi, Gala teringat sesuatu. Ia berbalik pada Griselda dan berucap, “Ibu cerita soal suster itu tadi siang lewat telepon. Beliau sudah menghubungi agennya. Besok mereka akan mengirimkan seorang yang lain.”

                                                                                    *

Esok paginya Griselda bangun terlambat. Setelah bermalam-malam dan berhari-hari dihantui tangisan Mia yang membuatnya tak tidur sama sekali, istirahat semalam benar-benar terasa nikmat. Beruntung ibu datang, sehingga semalam Mia dijagainya. Pikiran itu kemudian membawa benak Griselda menyadari sesuatu, rumahnya pagi itu begitu sunyi sepi. Tak ada suara apapun terdengar. Tak juga suara tangisan Mia.

Maka ia meninggalkan tempat tidurnya, turun dan mendapati rumahnya kosong belaka. Jam segitu pastilah Gala sudah berangkat ke kantor. Tapi, di mana Bu Rani dan Mia? Selda mengelilingi rumah, membuka setiap pintu, menjenguk setiap lorong, namun mertua dan anaknya tak ditemukannya. Perempuan itu lalu beranjak ke luar rumah. Bersamaan dengan ia membuka pintu depan, Bu Rani masuk membawa sekeranjang sayur-mayur. Bertanyalah Griselda wanita itu dari mana? Dengan agak terengah setelah berjalan cukup jauh, Bu Rani menjawab bahwa ia baru dari pasar belanja kebutuhan memasak.

“Mia… dia tidak bersama Ibu?” tanya Griselda, suaranya mulai terdengar cemas.

“Tadi Ibu titipkan pada suster.”

“Suster?” Griselda terperanjat. “Suster apa?”

“Suster yang dikirim oleh agen penyalur jasa baby sitter pagi ini.”

Melihat raut wajah menantunya yang aneh, Bu Rani menangkap sesuatu, ia bertanya, “Apa mereka tidak ada di rumah?”

Griselda menggelengkan kepala. Dengan agak tergeragap Bu Rani kemudian bercerita bahwa perempuan itu datang pagi tadi tepat setelah Menggala berangkat. Bu Ranilah yang menerimanya, memeriksa suratnya, mengajaknya masuk, dan menerangkan tugas-tugasnya. Ia lantas pergi ke dapur hendak memasak dan menyadari bahwa kulkas rumah itu kosong melompong, sehingga ia memutuskan belanja sebentar. “Waktu itulah Ibu titipkan Mia pada wanita itu,” kata Bu Rani.

Selda bertambah panik. Memang semalam samar-samar ia ingat Menggala berkata bahwa agen akan mendatangkan pengasuh baru hari ini. Namun yang lebih kencang mendera pikirannya adalah ucapan Bu Rani soal pengasuh yang membawa lari bayi-bayi kemudian menjualnya.

“Berapa lama Ibu pergi tadi?” Griselda berkata pada mertuanya. Ia meremas-remas rambutnya sendiri sambil berjalan hilir-mudik.

“Sejam, kurang-lebih.”

Sepasang menantu-mertua itu kemudian sama-sama terdiam dan khawatir, namun tak tahu harus berbuat apa. Mereka hanya berdiri saja di teras rumah itu sambil berharap pikiran-pikiran buruk mereka keliru dan keajaiban akan datang.

Dan keajaiban benar-benar datang setelah sekian belas menit yang rasanya seperti berbulan-bulan berlalu dan mereka berdua hanya terpaku di sana seperti dua tiang garam, ketika mereka melihat seorang wanita memasuki pagar membawa Mia dalam dekapannya.

“Itu dia orangnya,” bisik Bu Rani pada Griselda, lega. Lalu pada pengasuh itu ia bertanya, “Dari mana saja? Kami cemas mencari-cari.”

Seolah tak menyadari apa yang terjadi, wanita yang baru datang itu menjelaskan bahwa setelah Bu Rani pergi tadi ia menyadari kalau bayi yang ia pegang agak kuning tubuhnya. Pastilah anak ini belum pernah dibawa berjemur di bawah mentari pagi, ia pikir. Jadi ia keluar dan mengajak Mia ke taman perumahan karena di sana lebih banyak menerima paparan sinar matahari. “Teras ini tertutupi banyak pohon, sehingga percuma berjemur di sini,” ujarnya.

Griselda yang hampir menangis histeris kemudian mengambil Mia dari gendongan sang pengasuh. Didekapnya anaknya. Ia pandangi. Ia cemas jangan-jangan ada yang berkurang dari bayi itu (yang ternyata tidak). Kejadian itu membukakan mata hatinya, betapa Mia begitu berharga, betapa ia cemas jika ada sesuatu yang buruk menimpanya, betapa ia selama beberapa hari ini telah menelantarkan anaknya, dan perilakunya tidak mencerminkan sikap ibu yang baik.

Berada dalam buaian Griselda, Mia yang semula tertidur tenang, terbangun lalu menangis.
“Kelihatannya ia lapar,” kata Bu Rani. “Suster, tolong buatkan susu.”

Tapi ketika suster itu hendak masuk ke rumah, Griselda mencegah. “Tidak usah. Akan kususui sendiri anakku,” ia berkata.

Malamnya ketika Menggala sampai ke rumah, didapatinya di kursi di mana kemarin ia melihat Bu Rani memberi susu dari botol kepada Mia, Griselda yang sedang mendekap Mia dalam dadanya. Bayi itu tengah minum ASI langsung dari ibunya. Pemandangan itu menghangatkan hati Menggala. Panatnya seketika sirna. Inilah yang ia inginkan agar terjadi. Terjalinnya hubungan batin antara ibu dan anak.

Lelaki itu mendekat, mencium hangat kepala Griselda, lalu mengecup lembut anaknya. Dengan gembira yang tak dapat ditahan-tahan lagi, ia berkata, “Mulai dari sekarang tak akan ada yang dapat memisahkan kalian berdua.”

Sepasang Sumpit (Femina, 1 Oktober 2015)

scan femina_0002

Wido terkesiap, sungguh-sungguh merasa tak percaya dengan benda yang kini dipegangnya. Ia bisa rasakan genggamannya mengendur. Perasaannya yang semula meluap-luap gembira seketika berganti kalut. Sungguh-sungguh kalut! Cepat saja perubahannya. Clap! Bagai sambar petir yang merubah sebuah menara gading menjadi puing dalam sekejap. Ia pandang Laga, kekasihnya, di seberang. Hendak mencari jawab tentang hadiah sepuluh tahun hubungan asmara mereka yang tergolek di sebuah kotak lapis beludru itu. Tapi, melihat lelaki itu tampak puas dan tersenyum-senyum penuh arti, Wido tahan lidahnya agar pertanyaan itu tak sampai tumpah bak sapuan air pasang.

 
Padahal, di awal petang itu segalanya begitu sempurna…. Restoran bagus, makanan kelas satu, suasananya tenang. Seorang pria berkemeja batik paiwai memainkan sebuah lagu lewat denting grand piano di sudut dekat bar. Melodinya halus memikat, mengambang membelah deretan meja penuh pengunjung dan pelayan-pelayan yang lalu-lalang membawa baki di tangan.

 
“Ini…,” kata Wido yang duduk dekat jendela. Ia mengenali nada-nada yang menyapanya. Lelaki di depannya tersenyum simpul. Widondari, nama lengkapnya, secantik artinya yaitu bidadari, tertawa. “Ah!” serunya dengan kedua tangan menutupi mulut. Mata besarnya berbinar, “Claire de Lune!” Laga tersenyum makin lebar hingga garis-garis halus di ujung matanya menegas, lalu mengangguk. “Lagu kesukaanmu. Khusus aku request pada pianisnya.”

 
“Claire de Lune, memandang rembulan,” Wido bergumam, masih semringah.

 

Matanya menatap keluar melewati selembar kaca yang memisahkan dirinya dan hamparan pepohonan di bawah. Di kejauhan, purnama gading terbit di atas pencakar-pencakar langit. Cahayanya yang lembut begitu kontras dengan cahaya lampu-lampu kendaraan yang berkeriapan bak sekoloni semut dengan pantat dan mata menyala di jalan raya, juga dengan pendar reklame jutaan watt, dan jingga penerangan tol yang melingkar-lingkar. Bahkan di tempat seperti restoran yang terletak di atas sebuah bukit ini, beberapa kilo di luar kota, hiruk-pikuk megapolitan di sana menjalar bagai gelombang yang sulit dipahami.

 
Lepas dari bulan bulat sempurna di pucuk tower-tower perkantoran dan apartemen, mata Wido kembali pada Laga. Laga menatap wanitanya hangat dan mesra, katanya, “Terima kasih untuk sepuluh tahun hubungan kita. Sepuluh tahun penuh warna! Sebelumnya aku tak pernah menjalin hubungan sampai selama ini. Yah, kamu tahu aku agak sulit. Tak mudah dipahami. Kebanyakan orang tak tahan dengan karakterku yang… ee… kompleks. Tapi kamu lain, Wid, kamu selalu ngerti aku.”

 
Laki-laki itu lantas meraih tangan Wido yang kecil dan halus, menggenggamnya, membelai-belainya. Wido cuma diam, tersipu. Bagi Wido sendiri sebenarnya Laga bukan hanya ‘agak sulit’, tapi benar-benar membingungkan! Kadang ia bisa berlaku amat lembut dan manis seperti malam ini, tapi biasanya ia cenderung bersikap seenaknya, gemar sekali mencela, bicaranya pedas sarkastis. Orang lain sering sakit hati dengar ucapannya. Telinga Wido pun telah kerap teriris oleh lidah tajam Laga.

 
Selain itu, Laga amat perfeksionis terhadap penampilan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, Wido pun tak luput dari sensor, bahkan sampai ke hal kecil seperti jepit yang ia kenakan atau parfum yang ia pakai. “Wid, ganti bajumu sana! Kamu seperti penari kabaret murahan” atau “Kalau kamu bersikeras memakai sepatu menjijikkan itu, lebih baik aku pergi sama Bik Inah (pembantunya)” atau “Parfummu memuakkan, itu minyak rem?,” seperti itulah Laga kerap berkomentar. Ada saja yang salah dalam penampilan Wido di matanya. Ia jelas memegang teguh falsafah “ajining raga saka busana”, tapi mengesampingkan semboyan satunya, “ajining diri saka lathi”.

 
Meski begitu, di sisi lain Laga adalah pengusaha muda yang bisnisnya menanjak. Ia mewarisi bakat dagang ayahnya dan semangat juang kakek pihak ibunya yang pejuang kemerdekaan, sehingga toko elektronik kecil warisan keluarga di pinggir kota bisa berkembang jadi gerai-gerai besar yang tersebar di pusat-pusat perbelanjaan. Sebagai wanita yang mementingkan kemapanan hidup, apalagi setelah menikah kelak, fakta inilah yang membuat Wido bertahan walau kerap makan hati. Namun, beberapa hari lalu tersiar isu salah seorang rekan Laga membawa lari sejumlah besar uang yang membuat laki-laki itu kelimpungan. Bahkan Wido dengar karena penipuan itu beberapa gerai akan dinon-aktifkan. Diam-diam hal ini amat merisaukannya.

 
“Wid,” panggil Laga, mengembalikan wanita berambut panjang itu pada kenyataan. “Aku punya sesuatu untukmu.”

 
Di sinilah segala ketidakenakan yang dirasakan Wido di sisa malam itu bermula. Awalnya Wido merasa girang. Ini dia yang ia tunggu-tunggu! Apa gerangan hadiah anniversary mereka tahun ini? Mestinya sesuatu yang lebih spesial mengingat genap sedasawarsa mereka berhubungan. Setelah jam tangan, satu set perhiasan safir, dan tahun lalu mereka berlibur ke Korea Selatan selama sembilan hari demi mengobati rasa penasaran Wido karena ia penggemar berat drama-drama negara tersebut, pastilah kali ini melampaui yang sebelum-sebelumnya.

 
Saat Laga merogoh saku dalam jasnya, jantung Wido mulai berdegup tak tentu. Matanya tak bisa lepas dari tangan lelaki itu. Tampaknya benda itu besar karena tersangkut dan Laga kesulitan mengeluarkannya. Dengan agak kasar dan menggeram sedikit lelaki itu menarik lolos hadiahnya. Lalu tampaklah oleh Wido, sebuah kotak kecil panjang berlapis beludru biru royal. Dada Wido naik turun tidak sabar tapi ia berusaha keras menutupinya demi menjaga imej.

 

“Untuk sepuluh tahun hubungan kita!” Laga mengulurkan kotak itu sambil tersenyum lebar.

 
Wido meraihnya, menimang-nimang. Tidak terlalu berat. Ia jadi makin penasaran. “Kubuka, ya?” tanyanya tanpa sungkan. Laga mengangguk. Musik pada piano berganti jadi sebuah lagu benuansa cepat. Jantung Wido makin kencang memukul dada. Ternyata tutup kotak itu alot. Dengan sebuah cengkraman kuat dan sedikit entakan baru benda itu berhasil terbuka. Ketika sudah terbuka, Wido merasa tak percaya dengan matanya.
“In… Ini…,” ucapnya terbata.

 

Di sana, di atas beludru warna darah, terbujur bagai suatu pusaka keramat, sepasang sumpit. Tak masuk akal! Sumpit?! Kado sepuluh tahun kebersamaan mereka hanya sepasang sumpit! Dilihat bagaimanapun, meski benda kurus panjang itu terbuat dari kayu mahal hitam mengilat, itu tetap saja sumpit! Pasti ini hanya salah satu humor Laga yang nyeleneh, pikir Wido. Namun sampai dessert mereka, seporsi Milk Chocolate Swedish Cream with Mango Gelato, ludes, Laga tak menunjukkan tanda kalau kadonya untuk Wido hanya sebuah guyonan. Ia tetap saja ceria seperti tak berdosa.

 
Wido pura-pura senang dengan apa yang ia dapat. Dalam hati, kerisauannya akan isu kesulitan keuangan Laga langsung menjalar ke mana-mana. Kalau dipikir-pikir, restoran inipun tidak semewah yang biasa mereka kunjungi. Separah itukah dampak kerugian yang lelakinya alami?

 

*

Dalam minggu-minggu berikutnya apa yang Wido takutkan menjelma kenyataan. Mimpi buruk itu datang juga pada akhirnya. Satu per satu gerai Laga ditutup. Barang-barang dikosongkan. Bahkan waktu beberapa hari lalu Wido jalan ke sebuah pusat perbelanjaan, salah satu stan di mana toko elektronik milik kekasihnya biasa berada kini tengah mengalami renovasi. Sebuah butik akan ganti menempati. Tulisan COMING SOON dengan foto seorang wanita tertawa lebar menenteng banyak tas belanjaan terpampang sepanjang tembok. Wido gentar berdiri sendiri di hadapannya.

Kemudian datang bayangan-bayangan itu dalam kepalanya. Gambaran ia sebagai seorang Nyonya Kusumadilaga Adiputra harus mencuci baju sendiri, menggosok kloset dan lantai kamar mandi sendiri, memasak sendiri, berberes rumah sendiri, mengepel, menyikat, menyetrika. Segala pekerjaan rumah yang tiada habisnya itu! Tangannya yang putih dan terawat akan berubah kasar dan kapalan seperti tangan ibu. Dan ia tak ingin seperti itu. Wido ingat betul rupa tangan ibunya. Saat ibu membelai wajahnya dulu, rasanya seperti ada amplas digosokkan ke sana. Ketika mengelus rambutnya, kapal yang mengelupas di telapak itu kerap tersangkut. Betul-betul mengerikan!

Terlebih, tak akan pernah ada lagi makan malam di restoran-restoran ternama, tak ada lagi perhiasan-perhiasan, tak ada lagi liburan ke mancanegara, tak ada baju-baju mahal keluaran rumah mode, perawatan-perawatan tubuh, ia tak akan bisa menjentikkan jari dan tahu beres karena ada orang-orang yang melayani. Semua yang ia impi-impikan dan nikmati sedikit dasawarsa berselang akan musnah! Padahal sepanjang waktu itu telah berapa banyak lelaki datang mendekat? Wido menghitung. Bima, Mario, Gideon, Anas, Wahab, dan banyak lainnya. Mereka yang secara sifat dan sikap begitu baik, namun secara ekonomi memprihatinkan. Terutama Wahab, ia laki-laki yang begitu lembut dan romantis, penuh perhatian, sayang hanya seorang petugas admin kantoran biasa (berapa gajinya?). Ia tolak mereka, demi Laga yang kasar dan semena-mena seperti preman dan sering melukai Wido dengan ucapannya.

Dan pikiran-pikiran ini mengerak dalam kepalanya. Susah-payah Wido berusaha mengabaikan mereka. Setelah sedikit berhasil gambaran itu malah diganti oleh sepasang sumpit pemberian Laga di hari jadi hubungan mereka itu. Sumpit yang jadi pertanda keruntuhan Laga. Sebuah isyarat dari lelaki itu. Betapa aneh, pikir Wido, justru benda yang sama sekali tidak tajam itu yang memecahkan gelembung-gelembung angannya menjadi serpihan tanpa arti. Wido menjadi jengkel dibuatnya.

Di suatu siang ponsel Wido berbunyi nyaring. Ia alihkan pandang dari setumpuk laporan di meja ke nama yang berkedip di layar, lalu terhenyak. Laga. Lama ia diam sampai orang di sekitar melihat padanya, terganggu. Cepat-cepat ia reject panggilan itu. Tapi sedetik kemudian Laga kembali telepon. Kali ini Wido serba-salah. Akhirnya ia tekan tombol jawab. Di seberang Laga langsung mengomel, “Lama sekali angkat teleponnya?”

Wido bilang ia baru selesai rapat dengan manager. Ada perlu apa, tanyanya. Laga menyambung, kali ini dengan nada antara masih kesal dan murung, “Aku ada di depan kantormu. Ayo kita makan siang bersama.”

“Ke mana?” tanya Wido tanpa gairah.

“Ada kedai ramen enak dekat sini.”

Kedai ramen? Ya, Tuhan! Perasaan Wido makin ruwet. Biasanya mereka makan siang bersama kalau tidak di Senayan City ya di Grand Indonesia. Tapi kini? Wido melihat jam dinding. Pukul dua belas kurang lima. “Oke, aku turun sekarang,” katanya. Ini adalah pertama kali Laga menghubunginya setelah sekian minggu. Ketika melihat lelaki itu di parkiran kantor, Wido terpukul. Laga tampak begitu berantakan, kacau dan tak terurus. Sangat berlainan dengan biasanya.

Dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di kedai yang dimaksud. Tempatnya sempit dan panas. Pegawai kantoran yang sedang makan siang berjejalan di dalamnya. Wido dan Laga makan dalam diam. Sepanjang perjalanan dan selama sepuluh menit menunggu mereka juga tak banyak bicara. Di tengah acara makan tiba-tiba Laga meletakkan sumpitnya. Wido memandanginya bertanya-tanya. “Wid,” kata Laga, “aku sama sekali tak mendengar kabarmu hari-hari terakhir ini. Kau ke mana?”
Ada maksud tersirat dalam perkataan Laga. Wido tahu itu. Ia tak mendampingi lelakinya di masa-masa sulit. Mencoba tetap tenang, Wido berkilah, “Aku agak sibuk…”

“Belakangan segala sesuatu menjadi runyam. Bisnisku…”

Wido mengangguk. Laga tertunduk. Matanya kosong menatap ramennya yang masih separuh. “Ada peluang untuk diperbaiki?” tanya Wido hati-hati.

“Sulit!” Laga menggeleng-geleng. “Aku tak tahu apakah bisa bangkit kembali.”

Perkataan itu terdengar seperti suatu ledakan keras di telinga Wido yang membuatnya tuli beberapa detik. Ia merasa pening. Ketika pendengarannya pulih, ia dengar Laga berkata, “Meski bagaimanapun keadaanku, Wid, aku janji akan membahagiakanmu. Selalu. Aku janji! Seperti yang selama ini aku lakukan.” Mata lelaki itu mengiba. Lenyap ke manakah semua arogansinya? Yang ada di depan Wido sekarang adalah lelaki yang memohon dengan tulus agar ia tidak pergi meninggalkan dirinya. Lelaki itu benar-benar membutuhkannya, mendadak Wido menyadari.

“Aku ingin kita berdua seperti sepasang sumpit, Wid. Yang satu tak akan ada gunanya kalau yang lain tiada atau timpang,” sambung Laga. Ia patahkan sebuah sumpitnya jadi dua. “Jika sendiri aku tak bakal mampu. Tapi bersamamu aku yakin bisa menghadapi kesulitan ini. Karenanya, Wid, maukah kamu menjadi istriku?”
Dari saku celananya Laga mengeluarkan sebuah kotak berisi sepasang cincin berlian yang ia beli jauh sebelum keuangannya kolaps.

Merayakan Sang Ratu Cerita Kriminal

Bisa dibilang Agatha Christie termasuk ‘seseorang’ yang menemani saya tumbuh dewasa. Bagaimana tidak? Saya pertama kali berjumpa dengannya itu di tahun 2002, saat duduk di kelas satu SMA. Waktu itu keluarga saya baru pindah dari Surabaya ke Jombang. Menempati kota yang sama sekali baru, saya tidak memiliki teman. Kebetulan di dekat rumah ada sebuah persewaan buku. Saya ke sana untuk mengisi waktu. Di sanalah saya menjumpai Buku Catatan Josephine yang ditulis Agatha Christie.

Sebenarnya nama Agatha Christie tidaklah asing di telinga saya. Sejak kecil saya gila membaca. Buku apa saja saya lahap. Petualangan para detektif cilik seperti Trio Detektif dan Lima Sekawan adalah favorit saya. Dan kebetulan buku-buku itu ada di perpustakaan sekolah. Dari situlah saya mendengar Agatha Christie yang juga menulis cerita detektif. Namun mungkin karena segmen novel Agatha Christie adalah orang dewasa, saya tidak pernah menjumpainya di sekolah. Mau ke toko buku, waktu itu keadaan ekonomi tidak memungkinkan. Belanja buku tergolong pemborosan.

Karena itu betapa girang saya menemukan Buku Catatan Josephine di rak persewaan buku itu. Saya ingat covernya yang biru tua bergambar sepatu kecil hitam berenda itu, helai kertasnya yang menguning, dan aroma buku lama yang khas. Saya lupa cetakan keberapakah buku itu. Tapi kalau dilihat dari kenampakannya mungkin itu terbitan tahun 1980an. Novel itu tandas dalam sehari semalam. Saya benar-benar terpukau oleh jalan ceritanya dan kejutan pada endingnya: seorang gadis kecillah pembunuhnya! Josephine sendiri. Benar-benar tak disangka!

Saya pikir memang itulah ciri khas Agatha Christie dalam membuat karyanya. Pembaca diajak mengikuti bagaimana para tokohnya berpikir, bicara, berpendapat, dan merasakan. Ia menyajikan fakta-fakta, beberapa begitu gamblang, sementara yang lain samar-samar. Kita digiring menuju suatu kesimpulan, yang ternyata sama sekali tidak tepat pada akhirnya. Endingnya selalu tidak terduga. Itulah yang membuat Agatha Christie berbeda dari pengarang cerita misteri lainnya. Ia menonjolkan watak dan konflik kepentingan antara orang-orang yang terlibat dalam cerita, yang mendasari terjadinya peristiwa kriminal. Dari sanalah plot tercipta dan para detektifnya (Hercule Poirot dan Miss Marple) menganalisa pelaku sesungguhnya.

Betapa mengagumkan cara Agatha Christie menggambarkan tokoh-tokohnya. Mereka seolah hidup. Seolah nyata. Mereka punya pemikiran masing-masing, sejarah, kepribadian, watak, dan atribut yang berlainan. Saya mengagumi bagaimana Agatha Christie melukiskan satu plot cerita lewat narasi beberapa tokoh yang berbeda, seperti dalam And Then There Were None yang menjadi favorit saya. Caranya menghidupkan tokoh menunjukkan pemahaman Agatha Christie akan psilokogis manusia.

Dan tokoh-tokoh itu berkembang. Mereka tidak stagnan. Hal ini terlihat jelas terutama pada kisah-kisah Miss Marple. Bagaimana penduduk desa St. Mary Mead dari buku yang satu ke buku berikutnya mengalami perubahan-perubahan. Sebagai contoh pendeta Clement dan istrinya, Griselda, yang diceritakan baru menikah di Pembunuhan di Wisma Pendeta sudah memiliki anak di Dan Cermin pun Retak. Demikian Mrs. Bantry yang pada Mayat di Perpustakaan masih tinggal bersama Kolonel Bantry di Gossington Hall dikisahkan telah menjanda dan tinggal di rumah kebun pada Dan Cermin pun Retak. Dari perwatakan yang hebat inilah tercipta kisah yang mengagumkan yang sampai hari ini masih disukai banyak orang.

Tak hanya psikologis manusia. Pemahaman Agatha Christie terhadap obat-obatan dan racun sungguh sempurna. Tidak heran karena ia pernah bertugas sebagai perawat ketika meletusnya Perang Dunia. Di barak-barak pertolongan pertama, sembari membebat para serdadu yang terluka, merawat mereka, ia mempelajari segala sesuatu yang kelak akan berguna di karier kepenullisannya.

Memang mengikuti karya-karya Agatha Christie berarti secara tidak langsung kita mengikuti pula kisah hidupnya. Saya sendiri mengandaikan proses menulis seperti Lord Voldemort dalam serial Harry Potter menciptakan Horcrux. Selalu ada secuil bagian penulisnya dalam novel yang ia ciptakan.

Pada karya-karya awal Agatha Christie saya bisa merasakan betapa sisi romantismenya begitu menonjol. Bahasanya ringan dan mengalir lancar. Maklum Agatha Christie mulai menulis di usia yang terbilang muda, waktu di mana hasrat percintaan begitu menggelora. Secara tak langsung hidup perkawinannya pun terekam dalam karya-karyanya. Tentang bagaimana suaminya yang pertama berselingkuh sering ia gambarkan dalam kasus-kasus suami membunuh istrinya. Dan tentang suami keduanya, Sir Max Mallowan, yang arkeolog tertuang dalam novel-novel dan cerita-cerita pendeknya yang bersetting Mesir (Death on the Nile) dan Mesopotamia (Appoinment with Death, Murder in Mesopotamia, dan They Came to Baghdad). Ia bahkan kerap berkelakar dengan mengatakan bahwa keuntungan bersuami seorang arkeolog adalah semakin tua istrinya, si lelaki akan semakin tertarik.

Semakin bertambahnya usia, muncullah karakter Ariadne Oliver, si pengarang novel misteri dalam karya Agatha Christie. Sungguh menarik karena saya pikir Ariadne adalah alter-ego dari Agatha Christie sendiri. Ungkapan-ungkapan kesebalan Mrs. Oliver terhadap tokoh detektifnya merupakan jeritan hati tidak langsung Agatha Christie akan kejemuannya terhadap Hercule Poirot yang pada beberapa wawancara sering pula Agatha Christie katakan secara implisit.

Tak hanya itu tokoh Ariadne Oliver pun kerap mengatakan betapa sulitnya menulis cerita misteri karena ide dasarnya (plotnya) hanya itu-itu saja, sementara pembaca ingin ceritanya berlain-lainan antara buku satu dan lainnya. Juga tentang keengganannya berurusan dengan penerbit dan kebingungannya jika ditanya-tanya oleh pembaca karyanya. Intinya, segala perkataan Ariadne dalam novel menurut saya adalah cerminan isi hati Agatha Christie yang sesungguhnya, yang mungkin saja tak bisa ia katakan secara terang-terangan.

Singkatnya, Agatha Christie adalah seorang penulis jempolan. Gelar Ratu Cerita Kriminal memang pantas disandangnya. Sampai hari ini saya belum menemukan penulis lain, baik dalam maupun luar negeri, yang bisa menandingi Agatha Christie dalam hal membangun cerita misteri dari watak para lakonnya sebagai pondasi. Karya-karyanya selalu menarik untuk disimak dan sulit untuk dikalahkan penulis lain dari genre ini. Bahkan sampai hari ini (dan bisa jadi sampai selamanya) saya masih suka membaca ulang novel-novel Agatha Christie (hampir 50 judul banyaknya) yang berjajar rapi di rak buku di kamar saya.

Sujatmiko Pujitono

Cewek Terabsurd (Majalah HAI edisi 11 – 16 Mei 2015)

“Bener-bener absurd!” tiba-tiba Rio mendengus kesal waktu ia dan Krisma sohibnya sampai di kantin pada jam istirahat pertama hari itu. Sebelumnya cowok bergigi gingsul itu kelihatan merenung-renung sendiri sepagian.
“Apanya?” sahut Krisma. Cowok tinggi kurus itu celingak-celinguk, mencari-cari sesuatu yang bisa dikategorikan absurd di ruangan yang hampir seluruh bangkunya sudah penuh dan tampak biasa saja seperti hari-hari lainnya. Tapi, Rio kembali diam.
Mereka berdua kemudian menuju sebuah meja di pojok terjauh yang masih kosong, memunggungi pagar teralis pemisah halaman belakang dan gedung sekolah, setelah sebelumnya pesan semangkuk mie ayam. “Gue tambah lama tambah nggak ngerti sama kelakuannya Giana,” keluh Rio, sekaligus menjawab pertanyaan Krisma tadi.
Sambil menuangkan saus tomat yang warna merahnya mengkhawatirkan ke dalam mangkuknya banyak-banyak, Krisma menyahut, “Ada apa lagi, sih? Soal tugas drama itu?”
Sebelumnya mereka dapat tugas mementaskan sandiwara yang ceritanya diangkat dari sejarah kerajaan-kerajaan kuno Indonesia. Setelah diundi, kelompok Rio dkk─di mana Giana, pacar Rio, adalah satu-satunya cewek di dalamnya─kebagian cerita berdirinya Kerajaan Singasari. Waktu penentuan pemain, Giana didaulat sebagai pemeran Ken Dedes─istri Ken Arok, pendiri Singasari, yang ayu juwita. Tapi cewek itu menolak dan malah ngebet memainkan karakter Mpu Gandring, lelaki tua pembuat keris yang akhirnya mati dibunuh Ken Arok. Didesak, dirayu, dimohon bagaimanapun juga Giana keukeuh sama pilihannya. Akhirnya Narendra yang memang perawakannya paling halus dan kulitnya agak putih di antara para cowok ngalah, ia terpaksa menjadi Ken Dedes, itupun setelah dibujuk Rio dengan iming-iming ngerjain PR matematikanya empat bulan penuh!
“Ini lain lagi,” Rio menimpali sambil memamah sepotong selada. “Gini ceritanya….”
Yang diceritakan Rio pada Krisma terjadi kemarin sorenya di sebuah café tempat Rio biasa nongkrong sama gengnya. Cuma waktu itu ia sedang berdua sama Giana. Mereka lagi bikin naskah drama “Terbunuhnya Mpu Gandring”. Ketika berada di tengah-tengah kemelut klimaks dari seluruh adegan drama mereka, yaitu waktu Ken Arok dengan arogannya menikamkan keris pusaka ke dada kurus pembuatnya, Rio dan Giana mengalami kebuntuan soal apa yang sebaiknya dikatakan Mpu Gandring sebelum ia melontarkan kutukan-kutukan kemudian tewas.
Setelah hampir satu jam mengetik, menghapus, mengetik, menghapus dialog di bagian itu, ketika otak Rio lagi macet-macetnya, tiba-tiba tanpa perasaan Giana bilang, “Sebaiknya dilanjut besok aja. Gimana kalo sekarang kita pergi nonton?”
Rio terperangah. “Gian, please deh…. Naskah ini mesti dikumpulin ke Bu Rini (guru bahasa) besok lusa! Gimana mungkin sekarang kita enak-enakan nonton? Bisa-bisa besok gue nggak tidur ngerjainnya.”
“Rio, please deh…. Malem ini tuh malem terakhir Love in Milkyway diputer di bioskop. Dan gue belum nonton gara-gara elo sibuk keluyuran sama temen-temen elo! Itu film keren abiiiis, tau! Siapa tau dari film itu kita dapet ide buat naskah drama kita?”
Rasanya Rio pengen jedotin jidatnya ke balok beton pilar bangunan café yang dihiasi sulur-sulur tanaman plastik itu habis mendengar kata-kata yang dimuntahkan ceweknya. Sembari mengehela napas berat, ia menjawab sesabar mungkin, “Mana mungkin kita dapet ide drama sejarah dari film yang isinya joget-joget?”
“Ngedance! Bukan joget,” ralat Giana. “Ayolah, Rio….”
“Nggak, Gian. Naskah ini harus selesai malam ini. Besok kita tinggal ngedit aja. Lagipula….”
“Lagipula apa?” Giana menyelidiki mata kekasihnya.
“Lagipula gue lagi bokek.”
Giana membeliak. “Ini kan masih tanggak 10? Masa uang jajanmu udah abis? Ooohhh, gue ngerti. Pasti lo abis beli action figure lagi, kan?”
“Errrrr….”
“Ayo ngaku!”
Rio pura-pura sibuk lagi dengan laptopnya. Padahal di layar, kursor cuma kedip-kedip monoton.
“Rio, sayaaaannngggg…,” kata Giana setengah menggeram. Ia kedengaran seperti seekor anjing yang siap menerkam maling.
Dengan berat hati akhirnya Rio berkata, “Oke oke. Iya gue baru beli kemarin.”
Mata Giana yang besar, indah, dan biasanya terlihat cemerlang bak sepasang kejora seketika mendelik jadi dua buah meteor yang siap menghujam bumi dengan daya ledak setara setengah kuintal bom nuklir. Rio sudah siap kalau-kalau Giana mengeluarkan jeritan pamungkasnya yang melengking mengerikan itu dan membuat seluruh pasang mata mengarah padanya. Tapi di luar dugaan, cewek itu cuma menekuk wajahnya lalu melemparkannya ke arah jalanan di luar café yang di beberapa tempat ditumbuhi genangan air sisa hujan siang tadi. Rio jadi tambah pusing.
“Lo ngerti, kan, yang gue rasain? Gue udah berusaha turutin semua keinginan Giana, berusaha bahagiain dia, tapi…,” kata Rio pada Krisma, sumpek.
“Jadi kalian marahan?” tanya Krisma. Penjual bakso di dekat mereka membuka tutup pancinya, sehingga aroma kaldu daging yang harum terbawa ke hidung keduanya.
Rio mendengus. “Dia yang marah, gue nggak!”
“Lo tuh ya, emang nggak pernah ngertiin gue! Daasaaarrrr!” tiba-tiba suara Giana membahana dari balik punggung Rio dan Krisma. Mereka berdua terlonjak. Ternyata Giana berdiri di balik pagar di belakang. Mendengarkan obrolan keduanya. Entah sejak kapan.
“Ngapain elo di situ?”
Giana mengabaikan pertanyaan Rio. Ia lanjut marah-marah, “Elo emang nggak peka!”
Jleb! Omongan Giana terasa seperti sebilah keris yang ditancapkan ke dada Rio.
“Lo tuh yang absurd! Apa masalahnya, sih, sama kesukaan gue koleksi action figure? Semua orang kan berhak punya hobi masing-masing.”
Mata Giana dipenuhi asap dari api amarah. Ia menjawab tajam, “Dasar kekanak-kanakan lo tuh, ya!”
Jleb!
Sunyi semenit….
“Apa, sih, masalah elo, Gian? Gue sama sekali nggak ngerti.”
Suara Giana yang bening bagai denting gelas beling, terdengar seperti piring pecah waktu menjerit, “Elo emang nggak pernah berusaha ngertiin gue, lebih baik kita putus! Putus! Gue capek punya cowok bebal kayak elo!” Saat itu semua mata memandang ke arah keributan di pojok kantin itu. Giana lalu lari ke halaman belakang sana. Ke arah lapangan bola. Rio nggak berusaha mengejar. Ia terpaku. Melihat ke arah Krisma yang cuma bisa melongo. Beberapa saat kemudian, Rio berkata, “Kayaknya sekarang gue tahu apa yang harus dikatakan Mpu Gandring setelah ditusuk keris pusakanya.”

Japanese Cuisine Murmer? Saboten Shokudo Tempatnya

???????????????????????????????

Di sore awal Januari itu hujan sudah beberapa hari idak turun. Ketika itu langit Pandaan agak berawan, kadang turun gerimis singkat-singkat. Sepanjang jal menuju kota Malang terlihat segumpal besar awan hitam menyembur-nyemburkan kilatan petir di sisi di mana gunung Arjuno seharusnya tampak. Saya agak ketar-ketir karena waktu itu berboncengan motor dengan seorang kawan. Akan tetapi ketika sampai di tempat tujuan untungnya cuaca sangat bersahabat walau udara agak dingin dan mengandung banyak uap air.
Memasuki Saboten Shokudo yang letaknya ada di jalan Dieng nan elite itu kesan pertama yang bakal orang rasakan adalah bahwa tempat itu sejatinya adalah sebuah rumah tinggal yang dialihfungsikan menjadi tempat nongkrong. Ya, meski menyajikan hidangan-hidangan bernuansa Jepang, Saboten Shokudo tidak dapat disebut sebagai restoran. Agaknya memang pangsa pasar yang dituju adalah para muda yang sedang studi di Kota Apel seperti kebanyakan rumah makan di sana, sehingga konsep yang diusung pun lebih ke arah café tempat kongkow-kongkow menghamburkan waktu senggang bersama sahabat daripada resto.
Dinding-dinding dalam bangunan yang tidak seberapa luas itu dicat merah yang memberi kesan hangat dan akrab. Beberapa ornamen berbau Jepang seperti lukisan bunga sakura dan bunga plum, lampion-lampion kertas bertulis aksara kanji, sebidang penuh dinding yang digambari perempuan Jepang berkimono sambil membawa senampan sushi, dan bentuk perabotan yang dipakai memperkuat detail Negeri Matahari Terbit. Sayangnya selain masakan dan pernak-pernik yang digunakan, hal-hal lainnya justru terasa kurang mengena, kurang Jepang, bahkan agak janggal. Apabila di gerai-gerai makanan Jepang yang tersebar di mall-mall kita disambut dan dilayani oleh pramuniaga berseragam seperti pelayan depot-depot di Jepang sana yang mengucapkan salam hangat dalam bahasa Jepang, Saboten Shokudo tidak. Pelayannya, meski tidak bisa disebut acuh tak acuh, tapi juga tidak bisa dibilang ramah. Standar saja. Bahkan setelah beberapa saat berada di dalam tempat makan itu saya baru sadar kalau lagu yang mereka putar bukannya lagu soundtrack anime atau band-band asal Jepang, melainkan lagu-lagu Taylor Swift seperti Blank Space dan We Are Never Ever Getting Back Together!

Gazebo belakang
Gazebo belakang

Di tempat ini pengunjung bisa memilih makan di dalam bangunan utama Saboten Shokudo, dalam bilik-bilik tak berpintu berukuran dua setengah kali dua setengah meter di mana terdapat empat meja di tiap-tiapnya atau di teras belakang yang disulap menjadi semacam gazebo memanjang yang terbuat dari kayu. Bilik-bilik itu sebenarnya adalah kamar-kamar tidur dalam bangunan rumah asal yang pintu-pintunya dilepas dan dinding-dinding penyekatnya dilubangi untuk memberi kesan luas dan tidak sumpek. Dari bangunan utama tersebut jika kita jalan ke belakang dan menyeberangi sebuah taman kecil bertemulah kita dengan gazebo yang saya maksud. Bedanya, jika di dalam bagunan pengunjung saat makan duduk di atas kursi dan merupakan no smoking area, bagian belakang yang ini kebalikannya, lesehan dan siapapun bebas merokok. Tapi tak perlu khawatir sesak napas menghirup asap tembakau karena desainnya yang terbuka memungkinkan udara leluasa berganti, angin menyelinap lewat tirai-tirai bambu, bahkan kalau mau kita bisa memandang bintang-bintang silih berganti muncul dan sembunyi di balik awan.

Beef NankatsuUntuk makanan, seperti saya bilang tadi, harganya murah meriah. Tapi soal kualitas tak perlulah dipertanyakan. Rasa juga enak dan porsinya, yang kalau dilihat sekilas tidak terlalu besar, ternyata mengenyangkan. Sore itu saya pesan Beef Nanbayaki. Itu adalah daging sapi yang dimasak dengan bawang bombay dan bumbu tertentu, lalu diberi taburan cabai rawit cincang. Jadi kalau Anda penggemar pedas, menu ini sangat direkomendasikan. Rasa pedas campur manis benar-benar menggugah selera makan. Dagingnya dimasak matang sempurna dan tidak alot sama sekali. Disajikan dengan sedikit salad kubis dan wortel berlumur mayonnaise, makanan ini dibanderol Rp. 20.000,-

Bulgogi
Bulgogi

Teman saya memesan Bulgogi. Well, sebenarnya nama ini kurang cocok karena Bulgogi adalah masakan khas Korea. Mungkin lebih sesuai disebut Yakiniku. Dilihat dari kenampakannya, Bulgogi ini mirip dengan Beef Nanbayaki, hanya minus cabai rawit. Untuk taburannya digunakan biji wijen sangrai yang menambah cita rasa dan diberi secawan kecap asin sebagai cocolan. Bulgogi, eh, Yakiniku, emm… Bulgogi ini dihargai Rp. 20.500,-

Sexy DancerUntuk dimakan berdua, kami pesan satu menu lagi, yaitu Sexy Dancer. Nama yang aneh, bukan? Saya sempat dibuat penasaran dengan makanan satu ini. Ternyata setelah dihidangkan ia adalah Chicken Katsu! Dari segi tekstur, ayamnya dimasak dengan baik. Campuran telur, tepung terigu, dan tepung roti yang menyalutnya digoreng garing, daging di baliknya matang namun masih juicy. Sayangnya jika pada umumnya Chicken Katsu disajikan dengan sup miso, di Saboten Shokudo tidak. Dan sayangnya lagi, rasanya tidaklah seseksi namanya. Sebagai gantinya menu ini disuguhkan dengan pelengkap acar cabe dan kentang goreng. Sexy Dancer yang tidak terlalu menggairahkan ini dipatok hanya Rp. 17.500,-

Lupa namanya
Lupa namanya

Untuk minuman tersedia berbagai macam dengan nama yang aneh-aneh pula. Rata-rata mereka mematok harga pada kisaran sepuluh ribu Rupiah.
Secara keseluruhan Saboten Shokudo menyenangkan untuk dikunjungi. Di kota asal presenter kondang Feni Rose yang sekaligus tempat bermukimnya grup sepakbola Arema ini, mereka punya dua cabang. Selain di Jalan Dieng yang saya kunjungi, ada pula di Jalan Danau Kerinci Raya C2-A9, Sawojajar. Buka setiap hari, hari Senin sampai Kamis mereka beroperasi sejak jam 12 siang sampai 10 malam. Sementara hari Jumat mereka buka lebih siang, yaitu jam 13.00. Sabtunya mereka tutup lebih larut, sampai jam 11 malam.

Isi Lemari Kartika

Dimuat di Majalah Kartini edisi September 2014

“Pap, kayaknya kita harus beli lemari lagi, deh,” Kartika berdiri di ambang pintu ruang makan, bicara pada Suherman, suaminya, yang sedang duduk membaca koran sambil menikmati kopi pagi. Sebelah kaki Suherman dinaikkan ke salah satu kursi terdekat. Itu hari Sabtu yang cerah, jam sepuluh. Lelaki itu di rumah saja, baru bangun tidur. Pekerjaannya memang libur dua hari dalam sepekan. Koran sedikit diturunkan, Suherman mengintip dengan perasaan was-was. “Buat apa?” selidiknya.
“Kemarin aku habis beli beberapa potong baju, tas, sama sepatu. Waktu mau aku masukkan ke lemari ternyata nggak muat,” urai Tika.
Herman mendesah. “Maksudmu yang di lantai, di pojokan kamar itu?” ia merujuk pada tumpukan tas belanjaan yang belum dibuka, bahkan sepertinya belum disentuh sama sekali. Memang pada kenyataannya sejak Kartika datang dari mall kemarin petang, lalu menyadari kalau lemarinya sudah hampir meledak, barang-barang itu ia hempaskan begitu saja di sana.
Wanita tiga puluh tahun itu mengangguk. Masih bersandar di gawang pintu sambil memilin-milin rambut panjangnya yang ikal dengan jari seperti kebiasaannya dari kanak-kanak kalau sedang bingung. Dan Herman sudah hapal tabiat istrinya itu. “Terus lemari baru itu mau kamu taruh di mana nantinya, Tik?” Lelaki itu memandang Kartika lekat-lekat. Korannya sudah ia lipat rapi, ia letakkan di sebelah cangkir kopinya. Kini perhatiannya tercurah khusus pada wanita yang sudah dinikahinya lima tahun itu.
Sekadar gambaran, rumah mereka tidak besar. Seperti tipe rumah-rumah kebanyakan pada perumahan kelas menengah yang terasnya tidak berpagar. Itupun sudah dipenuhi berbagai macam perabot berukuran jumbo. Ada lemari kayu jati model kolonial penuh ukiran peninggalan nenek Kartika yang bersikeras ia bawa waktu pindah, padahal terlihat sangat janggal dengan konsep desain interior rumah itu (sekarang jadi tempat menyimpan stoples, vas, gelas, dan cadangan piring di dapur). Ada pula rak buku yang memanjang dari ruang tamu sampai ruang makan tempat mereka bicara pagi itu, tempat Herman meletakkan ratusan buku koleksinya dan beberapa piala lomba sains dari jaman ia sekolah dan kuliah dulu. Belum lagi di kamar mereka yang tidak luas, satu sisi dindingnya penuh disandari lemari tiga pintu milik Kartika yang isinya membludak itu.
“Masih ada tempat di dekat teve,” usul Kartika.
Herman mendelik. “Dan lemarimu akan menutupi satu-satunya jendela di ruangan itu.”
“Tapi….”
“Tidak!” Herman menggeleng-gelengkan kepala.
“Man, please….”
“Pokoknya tidak,” jawab Herman. Ia masih menggeleng, tapi tidak sedahsyat gelengannya yang pertama.
“Lalu barang-barangku…?” Kartika mengeluarkan jurus merajuk.
“Makanya, Tik. Buat apa, sih, kamu pakai saing-saingan sama Jeng Ana segala? Nggak ada habisnya,” tutur Suherman.
Jeng Ana yang di maksud adalah seorang wanita sedikit lebih tua daripada Kartika yang tinggal tiga rumah dari tempat tinggal mereka, masih pada deretan yang sama. Herman tak tahu sebab musabab keduanya menjadi seperti rival dalam hal penampilan. Bahkan Kartika sendiripun tidak ingat apa yang pertama kali membuat mereka jadi bersaing―walau tidak bisa disebut terang-terangan―begitu. Yang jelas setiap Tika membeli sepatu baru, atau baju, atau aksesoris lainnya, dan Jeng Ana lihat, entah saat Tika berangkat ke kantor atau saat sama-sama menghadiri kondangan atau arisan, berikutnya pasti wanita itu ikut-ikutan belanja gila-gilaan dan kemudian memamerkan hasil berburunya dengan menyolok seperti seekor merak jantan kasmaran.
Pun demikian Kartika setali tiga uang. Pernah suatu ketika Jeng Ana ikut kelas senam aerobik di sebuah sanggar dekat perumahan dan ternyata tubuhnya sukses terlihat agak langsing, Tika buru-buru mendaftar juga untuk jenis senam yang sama, namun di pusat kebugaran yang ternama, yang elit. Juga saat Jeng Ana memakai kosmetika tertentu yang membuat wajahnya putih sekali (yang menurut Herman terlihat aneh karena leher dan lengannya tetap gelap), Kartika―yang sebetulnya sudah cukup cerah warna kulitnya―juga ikut-ikutan. Hasilnya malah membuat kulit wajah Tika mengelupas dan harus dibawa ke dokter spesialis kulit.
Karena Kartika cuma diam saja sambil memasang muka sebal di pintu ruang makan mereka, maka Herman berkata lagi, ”menurutku, lebih baik isi lemarimu di kamar itu kamu pilih yang sudah nggak terpakai, lalu berikan pada orang lain.”
Kartika tercengang. Omongan Herman terdengar bagai terpaan amuk angin di tengah hari cerah di telinganya. Benar-benar nggak berperasaan memang, laki-laki itu, batinnya. Barang-barangnya, barang yang ia beli sedikit-sedikit, yang bermerek, yang bahkan sampai harus ke luar negeri, diberikan ke orang lain?
“Ogah!” jerit Kartika. Ia berbalik menginggalkan ruang makan itu dengan langkah berdebam-debam.
*
Dalam tata kerumahtanggaan Herman-Kartika, hari Sabtu adalah hari laundry, hari minggu hari berkebun (mereka punya pekarangan sempit yang ditanami sayur-mayur hidroponik), hari Senin untuk berberes rumah, hari Selasa khusus menyapu dan mengepel, dan seterusnya. Jadwal ini dibuat karena mereka enggan memakai jasa ajudan rumah tangga. “Pembantu jaman sekarang kerjanya cuma pacaran saja sama tukang ojek yang mangkal di pojokan jalan,” alasan Tika. Lagipula saat ini mereka masih belum dikaruniai anak.
Hari itu hari Selasa, tiga hari setelah percakapan di ruang makan. Kartika sempat seharian mendiamkan Herman waktu itu, tapi esoknya sudah bersikap biasa saja. Bahkan ia sudah lupa perkataan suaminya lantaran masalah pekerjaan dua hari belakangan menyita hampir seluruh pikiran, sampai ketika Kartika menyapu lantai kamarnya dan ia menemukan belanjaannya masih teronggok di pojokan. Sama sekali belum disentuh. Terlupakan begitu saja.
Kartika kemudian meletakkan sapunya dan membuka ketiga pintu lemarinya lebar-lebar. Benar-benar tiada celah. Semua rongga di dalam telah terisi penuh. Berjejal-jejal. Kaus, blus, cardigan, kebaya, terusan, blazer, jaket, ada yang berkerah U, berkerah V, berkerah Sabrina, strapless dress, scraf, pashmina, gaun malam, tas, clutch, dompet, jeans, celana bahan, pakaian dalam…. Mendadak pintu-pintu yang terbuka itu seperti berubah menjadi tiga mulut besar yang ternganga serakah di mata Kartika. Minta terus diberi makan, meski perutnya sudah mampat. Bahkan mulut-mulut itu seakan-akan ingin mencaplok dirinya juga masuk ke dalam kegelapan. Kartika mundur, ia bergidik ngeri. Perkataan Suherman berpusing dalam kepalanya.
Buat apa, sih, kamu pakai saing-saingan sama Jeng Ana segala? Nggak ada habisnya. Menurutku, lebih baik isi lemarimu di kamar itu kamu pilih yang sudah nggak terpakai, lalu berikan pada orang lain.
Buru-buru Kartika tutup kembali pintu-pintu menyeramkan itu. Ia lari keluar kamar.
Malamnya, ia menodong Suherman yang sedang asyik membaca buku berjudul Filsafat Kejawen dan Kajiannya Terhadap Sejarah Nusantara dengan berkata, “pokoknya kamu harus bantu aku sortir isi lemariku.”
“Oh, jadi kamu setuju menyumbangkan barang-barangmu ke orang lain?”
Kartika mengangguk penuh niat. Namun, waktu mereka membongkar isi lemari itu dan Kartika menemukan beberapa baju lama yang pernah ia suka, tapi jarang ia pakai, dan tas-tas keluaran merek terkenal yang ia pikir mungkin bisa ngetren kembali beberapa tahun lagi, keteguhan hatinya mendadak oleng seperti kapal disapu badai.
“Jadi maumu bagaimana, Tik?” tanya Herman sebal. Ia duduk di tengah-tengah hamparan tas berbagai ukuran dan pakaian berbagai model.
Kartika memandangi tasnya dengan perasaan sayang. “Tapi ini Gucci, Pap. Asli. Kamu tahu berapa harganya?”
“Berapa?”
Kartika buru-buru membungkam mulutnya sebelum meluncur sebuah nominal dari sana. Hampir ia kelepasan. Suaminya bisa marah kalau tahu ia menghamburkan uang hanya untuk sebuah tas tangan. Laki-laki mana mengerti seni. Mana pernah memahami fashion, adikarya, houte couture. Duh! “Pokoknya mahal,” jawab Tika sekenanya.
“Kalau kamu sayang memberikan barangmu yang bermerek dan mahal, kamu jual saja. Undang teman kantormu atau tetangga sekitar ke rumah besok Minggu. Kita buat semacam, em, apa ya namanya, semacam butik pakaian bekas begitu,” kata Herman pengertian.
Mendengar itu Kartika memandang lelakinya dengan tatapan penuh binar-binar. Kenapa hal itu tidak terpikir olehnya, ya? “Seperti biasa, kamu cerdas, Pap!” katanya sumringah.
*
Kartika dan Suherman memandang isi lemari di kamar mereka yang sudah berkurang dua per tiganya itu dengan perasaan puas. Tak disangka acara ‘obral barang bekas’ yang mereka adakan sukses besar. Semua tas dan pakaian lama itu diborong kawan-kawan Kartika. Beberapa malah ada yang membawa teman mereka yang belum Kartika kenal, sehingga kegiatan di hari Minggu itu menjadi ajang reuni pula bagi Tika, juga sekaligus menambah teman baru. Banyak temannya yang lama tak jumpa dan selama ini cuma kontak lewat Facebook, Twitter, atau sosmed lainnya datang ke rumah.
“Nah, kalau begini kan lega,” ujar Suherman. Kartika hanya mengangguk-angguk setuju. Di matanya lemari itu tidak lagi seperti tiga mulut yang kelaparan. Sekarang mereka tampak seperti lemari biasa yang jinak.
Kata Suherman lagi, “lagipula, Tik, uang hasil jualan tadi bisa kamu belikan barang-barang baru lagi.”
“Entah kenapa, Pap,” timpal Kartika sambil merenung, “setelah menjuali barang-barangku tadi aku kok malah jadi nggak punya keinginan untuk belanja-belanja lagi. Kupikir, kamu benar waktu bilang kalau bersaing dengan Jeng Ana nggak ada gunanya, nggak akan ada habisnya.”
Herman menatap istrinya dengan takjub. Tak disangka Tika yang kekanak-kanakan itu bisa berpikir begitu. Sebenarnya sifat kekanakan itu yang dulu membuat Herman penasaran dengan Kartika. Tetapi, melihat wanita itu berpikir dewasa justru membuatnya semakin suka. “Ya, memang nggak baik terlalu terikat pada materi,” sahut Suherman filosofis.
“Kalau begitu,” kata Tika sambil balas menatap mata suaminya lekat-lekat, “ada baiknya buku-bukumu yang makan dua ruangan itu kita rombengkan saja. Atau kita buka bursa buku bekas minggu depan. Bagaimana?”
Herman mendelik. “Enak saja!” tegasnya. Kartika tertawa tergelak-gelak.

Mie Setan: Kelezatan di Ujung Jalan Bromo, Kota Malang

Itu adalah sebuah halaman rumah yang diubah menjadi semacam café tempat nongkrong. Persis di balik pintu pagar sebuah cafeteria (atau bar) didirikan dengan meja memanjang tempat meletakkan minuman yang selesai diracik dan siap diantar. Aku dan Rio berjalan memasuki tempat itu sambil celingak-celinguk mencari bangku kosong. Tapi sia-sia. Semua terisi penuh. Baik kumpulan meja di teras luar yang dipayungi selembar layar warna putih, maupun yang berada di teras dalam rumah itu. Pengunjungnya mayoritas anak-anak muda. Pelayannya pun juga anak muda. Mereka mengenakan seragam berupa kaus hitam a la band metal. Dan sesuai dengan kesan yang ditampilkan para krunya, musik yang keluar dari sebuah sound system di pojok dekat dapur mengumandangkan lagu-lagu yang ngebeat dan agak keras, mulai Bondan feat Fade2Black sampai Linkin Park.

Suasana kasir (pojok foto), cafetaria/bar, dan kru berkaus hitam-hitam
Suasana kasir (pojok foto), cafetaria/bar, dan kru berkaus hitam-hitam

Akhirnya kami berdua duduk menunggu di sebuah bangku kayu panjang di tengah-tengah, tempat mereka yang datang hanya untuk membawa pulang makanan menunggu. Setelah menghabiskan sekitar sepuluh menit dalam upaya meneliti mana-mana saja yang kira-kira akan beranjak pulang, sehingga mejanya bisa segera kita serobot, aku berkata pada Rio dalam kelaparan berat yang mendera, “Kalau mau kita semeja sama orang lain aja gimana?”
Memang kulihat ada beberapa meja yang seharusnya muat untuk 5 orang, tapi cuma diisi dua atau tiga orang. Setelah Rio mengamini usulku, kami pun menuju sebuah meja yang diduduki seorang lelaki, seorang perempuan, dan anak mereka. “Saya duduk di sini boleh?” kataku pada si Ayah. Lelaki itu dengan ramah mempersilakan. Akupun langgsung meletakkan tas dan jaket di situ sebagai tanda bahwa kursi kosong itu ada empunya, lalu pergi antre ke kasir.
Dan ternyata… seperti yang diperkirakan, waktu aku dan Rio antre pesan makanan di kasir yang letaknya di pojok bar, kulihat kursi kami itu banyak yang mengincar. Bahkan ada dua orang cewek yang dengan lugunya (atau begitu seenaknya) duduk tanpa memedulikan kalau di situ ada tas dan jaket punyaku dan Rio. “Kamu antre aja deh. Aku jaga kursi,” kataku pada Rio kemudian. Aku balik ke meja. Dua cewek itu kemudian menyingkir setelah kuusir dan entah menjajah di meja yang mana lagi.

Waktu itu masih jam enam sore, tapi situasi sudah ramai sekali, sehingga udara kota Malang yang agak dingin jadi nggak terasa. Antrean di kasir itupun panjang. Butuh kira-kira sepuluh menit mulai pertama antre sampai kita berdiri di depan petugasnya. Mujur pelayanan mereka cukup cepat. Minuman datang lima menit kemudian. Aku pesan es Genderuwo, sementara Rio pesan es Sundel Bolong. Yang dinamakan es Genderuwo itu adalah semacam es buah berisi potongan apel, belimbing, leci, strawberry, dan jelly bublle warna putih dan kuning yang diletakkan dalam wadah gelas besar berisi susu dan sirop kemerahan. Sayang, buah isiannya itu berasa asem banget! Dan siropnya kurang manis. Es Sundel Bolong lain lagi. Porsinya kueeeccciiillll sekali! Isinya susu dan cokelat cair. Tapi, ada banyak kok varian minuman lain yang ditawarkan, jadi nggak perlu khawatir kecewa sepeti aku.

DSC_0208
Makanan yang dinanti-nanti datang lima menit kemudian. Sepiring Mie Setan dibawakan oleh seorang pelayan laki-laki kurus yang teriak-teriak, “Rio? Rio?” sambil berkeliling membawa nampan. Untuk makanannya, Mie Setan punya lima level kepedasan. Mulai cabe dua belas (level satu) sampai cabe lima lusin (enampuluh buah) di level tertinggi. Karena nggak terlalu doyan pedas, aku pesan level satu. Tapi ternyata, cabe sujumlah murid-murid Yesus itu nggak menyiksa lidah, malah memanjakan. Sementara Rio yang pesan level dua (cabe 25) sukses dibuat berhuhah-huhah kepedesan.

Mie Setan level 1 (cabe dua belas)
Mie Setan level 1 (cabe dua belas)

Yang lucu, di sini kita makan menggunakan sumpit. Aku nggak tahu apa kita bisa pinjem sendok-garpu di situ, tapi karena kulihat pengunjung lain semua makan pakai dua batang stik bambu itu, ya aku ikut-ikutan padahal nggak mahir menggunakannya. Walhasil, aku makan dengan sangat kacau sampai-sampai karena nggak sabaran akhirnya sendok yang seharusnya buat es Genderuwo kupakai buat makan mie itu.
Dengan harga murah meriah, Rp. 8500, Mie Setan tergolong oke. Sepiring mie disajikan dengan sepotong selada segar, sebiji dimsum, beberapa buah pangsit goreng, dan selembar daging asap goreng. Cabenya dirajang kecil-kecil. Di atasnya diberi taburan daun bawang dan bubuk keputihan semacam koya (atau itu daging ayam?). Untuk rasa nggak usah ditanya, enak banget! Sensasi pedesnya menggoda. Tekstur mie-nya pun bagus. Mungkin diproduksi sendiri karena berbeda dengan tekstur mie pasaran (ini kata Rio). Selain itu kita juga bisa pesan menu-menu lain, seperti sekeranjang Dim Sum. Oya, mie yang kita pesan nggak harus bercabe minimal 12, kita bisa kok pesan cabe 5 biji, 2 biji, atau malah tanpa cabe (biasanya buat anak-anak).

Atmosfer di Teras Luar Mie Setan yang beratapkan sehelai layar putih
Atmosfer di Teras Luar Mie Setan yang beratapkan sehelai layar putih

Kami makan di kelilingi cahaya kuning temaram, pada sebuah meja taman dari kayu berpelitur dengan payung kelabu besar di atasnya. Suasana yang sejuk-sejuk hangat, riuh suara obrolan, musik menghentak…. Ada rasa penasaran yang terpuaskan waktu aku dan Rio meninggalkan tempat itu. Di luar aku memandang jalanan jalan Bromo kota Malang yang rindang. Sementara Rio mengambil motornya yang diparkir di tengah sesaknya parkiran Mie Setan, aku bertanya pada si jukir, “Bangunan apa di depan?”
Cowok pendek kurus dan kawannya yang pendek gempal bebarengan menyahut, “Itu gereja. Kalau hari Minggu ramai.”
Kami lalu pergi, rumah nomor 1A itu makin padat pengunjung.

 

NB: Mie Setan terletak di Jalan Bromo nomor 1 A, kota Malang. Letaknya di ujung jalan. Hati-hati kebablasan karena mereka nggak pasang papan nama (entah kenapa. Menurutku itu konyol). Cabang lain ada di Jalan Soekarno-Hatta, Malang, persis di SEBELAH vihara (sebelum jembatan kalau dari arah Belimbing). Buka pukul 15.00 – 22.00 WIB.

Letusan Dalam Kepala Hosea (Dimuat di Majalah HAI edisi 18 Agustus 2014)

10568908_10202660460581317_4639577392348266956_n

Hosea terbangun karena suara letusan yang ia pikir dari luar jendela kamarnya. Hari masih gelap. Sayup ia dengar masjid mengumandangkan rekaman bacaan suci. Berarti masih belum subuh. Ia raih ponsel di atas nakas. Benar saja, pukul 03.35 tertera di layar. Ia rebahkan lagi kepala di atas bantal. Memejamkan mata. Hendak mengabaikan suara yang mengagetkannya barusan.
Dor! Dor!
Suara letusan itu terdengar lagi. Kali ini lebih dekat. Menggema di dinding malam. Suatu kesan dalam suara itu membuat Hosea terjaga. Pendengarannya menajam otomatis, ia waspada. Ada suara-suara di luar pagar. Seruan-seruan tertahan dan pekikan-pekikan lirih. Hosea menyingkap tirai sedikit, membuka jendela beberapa senti, tapi di luar terlalu gelap. Ia nggak bisa melihat apa-apa. Hanya angin dingin berembus, menyelinap lewat celah yang Hosea buat, membisikkan berita muram. Membuat cowok itu menggigil. Ia usap-usap lengannya. Ketika Hosea hendak menutup kembali jendela kamarnya tiba-tiba….
“Tolong gue!”
Ada suara terengah-engah. Sesosok cowok entah dari mana muncul dari semak Pandan di luar kamar, meraih bingkai jendela, tergesa melompati birai, lalu masuk begitu saja. Hosea terkejut setengah mati. Ia beringsut mundur dan jatuh terjengkang.
“S-s-si-siapa lo?! Mau apa lo di sini?” katanya panik.
Dalam gelap ruangan itu tangannya mencari-cari tongkat kasti yang seharusnya ada di dekat situ. Kemudian sekuat tenaga Hosea bangkit dan berusaha melihat wajah cowok di hadapannya. Tapi sia-sia. Sedikit cahaya temaram dari bawah pintu sama sekali nggak membantu.
“Ini gue, bego! Aries.”
Hosea merasa kenal suara itu. “Astaga! Lo, Ries! Apa yang…?”
“Sssstt!” Aries membungkamkan telapak tangannya ke mulut Hosea. Bau bangkai serta-merta menerjang hidung. Saking busuknya Hosea bahkan bisa merasakan anyir itu di mulutnya. Mendadak seporsi rendang yang ia makan malam tadi mendesak naik ke kerongkongan.
“Lo habis kejebur kuburan, apa? Huek! Baumu bikin gue pengen muntah!” protes Hosea setelah susah-payah melolos dari bekapan Aries. “Apa sih yang terjadi?”
Yang Hosea ajak bicara masih tampak was-was. Aries beringsut ke balik tirai lalu mengintip keluar. Pertanyaan itu ia biarkan menggantung lama sekali sampai kemudian mengendap dengan sendirinya dan hilang seperti hembusan napas di udara.
“Woi, Ries, gue tanya apa yang terjadi?” tanya Hosea nggak sabaran.
Aries memutar tubuh, sehingga dua karib itu saling hadap. “Gue dikejar-kejar anak SMA 85, Hos,” jawabnya berbisik. Ruangan itu masih gelap, namun Hosea sekarang terbiasa sehingga samar ia bisa melihat wajah Aries. Di balik poni ikalnya, raut Aries menyiratkan takut.
“Lo tau kan ini jam berapa? Belum juga jam empat! Masih pagi buta, tahu! Dan lo dikejar anak sebelah?” Hosea bicara sambil memelankan suara agar nggak membangunkan ortunya di kamar sebelah. “Dan suara tadi? Jangan bilang mereka bawa pistol atau senapan atau semacamnya….”
Di luar dugaan Aries manggut-manggut. “Mereka bawa pistol,” katanya lirih seolah khawatir para pengejar itu bisa mendengarnya dari dalam situ. Napas Hosea tercekat di tenggorokan. Ia menelan ludah, tapi ludah itu terasa setajam kerikil. “Lo habis ngapain?” tanyanya hati-hati.
Aries memandangnya lekat-lekat. Hosea bisa merasakannya. Tatapan itu seperti sorot senter yang diarahkan pada orang yang kedapatan mencuri. “Lo tanya gue habis ngapain?” Aries mendesis, lalu ia melanjutkan dengan suara tetap lirih namun nadanya meninggi, “Gue habis ngapain? Ini semua gara-gara lo, Hos! Gara-gara kelakuan lo gue harus nanggung semua ini!”
Ledakan amarah yang tiba-tiba itu membuat Hosea gemetar. “G-gu-gue nggak ngerti apa yang lo maksud.”
Aries mencibir. “Lo ya gitu itu, selalu lari dari kesalahan yang lo perbuat! Orang lain lo tinggalin nanggung akibatnya. Pengecut!” bicara Aris kedengaran seperti pecahan beling yang disayatkan ke urat nadi.
“Tapi, Ries….”
Tahu-tahu Aries tertawa nyaring. Sumbang pula. Terbahak-bahak seperti kesetanan. Ia mengulang-ulang kata-kata itu, “Pengecut! Lo pengecut, Hos! Banci!” Cowok itu terus tertawa layaknya orang hilang kewarasan. Dan tubuhnya semakin mundur kembali mendekati jendela. Saat Aries tepat berdiri di ambang jendela itu, tahu-tahu tangan-tangan hitam bermunculan dari balik punggungnya dan dengan kasar menariknya keluar secara paksa. Aries memekik, “Arrrrghh! Tolong! Tolongin gue, Hos!”
“Aries!” Gegas Hosea menuju jendela, namun kawannya sudah nggak tampak di mana-mana. Ia cuma bisa mendengar teriakannya yang pelan-pelan menjauh, semakin samar di telan bayang-bayang jajaran pohon Angsana di tepi jalan, terus hilang menuju gelap.
“Aries! Ariiiies!”
Braaakk!
Pintu kamar terbanting. Orangtua Hosea menerjang masuk. Ayahnya menyergap tubuh Hosea dari belakang. Memeluknya erat-erat. Sementara ibu bicara padanya, “lihat Ibu! Lihat kemari.”
“Tenang, tenang,” bisik ayah.
“Nggak ada siapa-siapa. Aries nggak di sini,” ucap ibu.
Hosea mendengus-dengus. Meronta. Napasnya nggak beraturan. “Dia lupa minum obat?” ayah berkata pada ibu. Wanita itu menggeleng sedih. Menatap cemas pada anaknya. “Seandainya mereka nggak terlibat tawuran waktu itu…,” katanya, menyuarakan harapan kosong.
Setahun lalu, waktu Aries dan Hosea pulang sekolah berboncengan motor, mereka melihat cewek SMA 85 yang berjalan seorang diri di jalan sepi. Saat itu timbul niat iseng dalam benak Hosea. Ketika motor mendekati si cewek, tanpa sepengetahuan Aries tangan Hosea menepuk bagian belakang tubuh perempuan itu, lalu ia tertawa-tawa melecehkan sembari berlalu. Tentu saja diperlakukan nggak senonoh begitu cewek itu teriak-teriak histeris. Nggak disangka dalam warung kopi dekat situ berkerumun murid-murid cowok SMA 85 yang langsung ramai-ramai menguber Aries dan Hosea.
Setelah melalui proses kejar-kejaran yang panjang dan berliku-liku, kedua karib itu akhirnya tertangkap. Mereka dipukuli habis-habisan. Namun di tengah kejadian Hosea melihat celah. Ia melarikan diri. Meninggalkan Aries jadi bulan-bulanan. Waktu ia kabur belum jauh, terdengarlah suara itu….
Dor!
Hosea membalikkan badan. Berhenti.
Lalu disusul letusan lain. Dor! Dor!
Hosea ketakutan. Dia berlari kembali, nggak menoleh ke belakang lagi. Tapi suara letusan itu terus menggema dalam kepalanya dan nggak pernah hilang, selamanya.

Jebakan Paman Gober (Dimuat di majalah HAI nomor 29, edisi Juli 2014)

10305613_10202511227290578_820036028114860591_n

Pagi itu Tobias bangun dengan sebuah pertanyaan berpusar dalam kepala: sebenarnya apakah iblis yang menggoda manusia atau manusia yang menjatuhkan dirinya ke dalam lumpur? Ia pergi mandi lalu sarapan dengan linglung. Di meja makan Tobias tampak tidak komplit hingga ibunya bertanya khawatir, “Kamu sakit?” Dan pertanyaan itu ia ulangi sampai tiga kali sebelum akhirnya Tobias―masih tampak merenung―menjawab, “Nggak apa-apa kok, Bu.”

Di sekolah kejadiannya sama saja. Jam sepuluh Bu Dea sedang menerangkan tentang Teori Newton saat guru fisika itu melihat Tobias tampak tidak konsen sejak awal pelajaran. Maka Bu Dea yang berkacamata minus empat dan mengenakan kawat gigi warna-warni itu bertanya, “Jadi, Tobias, apa yang dikatakan Newton soal gravitasi?” Tapi yang ditanya cuma diam.

Gravitasi, Newton, apel….

Sebuah gambaran melintas dalam benak Tobias. Gambaran seorang Eve yang saat itu masih tinggal di taman Eden. Di hadapannya sebuah apel emas tergantung pada sebuah ranting rendah yang menjulur. Tangan lembut Eve menggapai, membelai buah itu. Angin surga berhembus. Rambut berombaknya berkibar bagai panji malaikat. Seekor ular meliuk-liuk licik di ranting. Matanya berkilat-kilat. Sisiknya memantulkan sinar mentari. Begitu pedas menyilaukan. Begitu menyakitkan membakar mata Tobias. Kemudian semuanya mendadak gelap. Cowok itu merasa tubuhnya terjebak api. Kepanasan, ia kejang-kejang.

Tobias tumbang dari kursinya. Bu Dea memekik terkejut. Seisi kelas panik.

*

Tobias dibangunkan oleh suara bel istirahat yang baginya terdengar menulikan. Ia mengerang. Bau obat suci hama menusuk hidungnya, sehingga ia tahu ada di mana dirinya sekarang. Ruang UKS. Telinganya menangkap suara-suara lain. Suara orang bicara dari balik tirai. Suara Bu Dea dan dokter Ari, dokter jaga UKS.

“Bukan ayan, kan, dok?” Bu Dea yang bicara, kedengaran cemas.

Sunyi agak lama, lalu pak dokter berkata, “Saya khawatir…. Melihat gejalanya, saya pikir….”

“Ya?”

“Sebaiknya saya bicara pada kepala sekolah.”

Nggak! Kepala sekolah nggak boleh tahu. Kalaupun diberitahu haruslah aku yang melakukannya, bukan orang lain, batin Tobias.

“Tadi saya kaget sekali waktu ia tiba-tiba ambruk dan kejang-kejang. Selama sepuluh tahun menjadi guru saya sering melihat siswa pingsan saat upacara, tapi belum pernah ada yang tersungkur begitu saja waktu saya sedang mengajar, seolah-olah… oh, Tobias! Tobias!” penjelasan Bu Dea terpotong karena ketika itu Tobias melesat keluar ruangan. Ia lari terhuyung-huyung menerobos kerumunan murid yang ada di lorong. Seruan-seruan terkejut tercecer di balik punggungnya tak ia pedulikan. Tobias mengerahkan segenap tenaga yang tersisa dari tubuh lemasnya menuju tanah lapang di belakang sekolah. Ia harus menghardik ular yang saat-saat istirahat begini selalu berdiam di sana, di bawah sebatang pohon asam.

“Kudengar kamu pingsan waktu jam pelajaran Bu Dea,” ular itu bicara waktu Tobias sampai ke sarangnya dan masih terengah-engah. Cowok itu―bernama Nara―menyeringai, lalu membetulkan letak kacamata hitam yang nangkring di jembatan hidungnya.

Tobias kepanasan sekaligus kedinginan, tubuhnya benar-benar terasa kacau. Keringat dingin membanjir, padahal di tanah lapang itu matahari redup dan sepagian hujan menggerimis. Seringaian Nara tambah lebar. Ia rogoh tas selempangnya. Dari situ, bagai sulap, dengan cekatan ia sodorkan sebungkus pil kecil-kecil warna-warni pada Tobias. “Kelihatannya kamu butuh bantuan Paman Gober1,” katanya riang.

1: nama lain Ekstasi / Ineks

“Nggak! Cukup, Ra! Aku nggak mau berurusan dengan pil-pilmu lagi,” tampik Tobias.

“Rasa sakitmu itu nggak akan hilang sebelum kamu telan pil-pil ini.”

Tobias menyumpah-nyumpah. “Justru rasa sakit ini gara-gara barang harammu itu!”

Nara tertawa serak. “Kamu nggak akan bisa main basket lagi. Mimpimu jadi atlet profesional akan musnah, Tobi.”

“Kalau waktu itu kamu nggak menawarkan obat itu ke aku, pasti aku nggak akan jadi seperti ini.”

“Teman yang baik selalu tahu kebutuhan teman yang lain,” cetus Nara enteng.

Lima bulan lalu Tobias dihadang cedera ligamen lutut, padahal timnya akan menghadapi liga basket nasional antar sekolah, tempat di mana banyak pencari bakat biasanya ada. Apabila dia bermain apik di turnamen itu, kesempatan meraih mimpi jadi pebasket profesional terbuka lebar. Tapi usaha apapun, termasuk tiga minggu istirahat total, sama sekali tak berhasil. Saat itulah, Nara datang menawarkan bantuan.

Sebelumnya mereka tak terlalu akrab, sehingga mulanya Tobi menolak pil yang disodorkan Nara. Tetapi Nara berkata, “Kenapa harus ragu? Toh cuma suplemen. Kamu cukup minum sekali lalu tampil cemerlang di pertandingan itu. Nggak ada ruginya, daripada kamu nggak main sama sekali?”

Tobias ragu, tapi bayangan para pencari bakat yang duduk tersembunyi di tengah sorak-sorai penonton mengganggu benaknya. Tangan Nara masih terulur, di kelas kosong setelah jam pelajaran usai itu. Detak jam dinding terdengar tidak konstan. Akan tetapi sebenarnya perasaan Tobiaslah yang sedang bergolak, hingga pikirannya memainkan tipuan. “Cuma suplemen. Gratis,” ujar Nara meyakinkan.

Dengan hembusan napas berat akhirnya Tobias menanggapi, “Oke!”

Nara tersenyum menang. “Khusus untukmu. Jangan bilang siapa-siapa!” ia mewanti-wanti. Tobias setuju.

Di hari pertandingan segala perkataan Nara jadi nyata. Tubuh Tobias serasa seringan bulu. Ia siap memasukkan berapa bola pun ke keranjang lawan. Saat itu ia tidak merasa sedang bertanding, melainkan tengah menari dengan lincahnya. Hatinya begitu gembira, optimis, tiada beban, bahkan cedera ligamen yang sehari sebelumnya masih sakit sama sekali tak terasa. Hasilnya tentu saja tim mereka menang.

Itu awal ketergantungan Tobias pada pil-pil yang oleh Nara disebut ‘Paman Gober’. Pada babak-babak selanjutnya dan turnamen-turnamen setelahnya Tobias mengandalkan pemberian Nara. Tapi lama-kelamaan perangainya berubah jadi murung, pendiam, sedih berkepanjangan. Hanya Paman Gober bisa mengobatinya. Teman-temannya khawatir, orangtuanya juga. Tobias pun resah dengan keadaannya, tapi godaan bertambah kuat. Ia sudah jatuh ke dalam lumpur dan kini lumpur itu menyedotnya. Dosisnya bertambah besar dan frekuensinya semakin sering. Ketika semua makin parah, mendadak Nara enggan memberikan Paman Gober cuma-cuma. Ia mematok harga. Seketika semua terasa salah. Tobias pun bertekad menahan diri dari hantu Paman Gober. Sudah seminggu ia melawan hasrat itu. Akibatnya tubuhnya sakit sampai ke tulang dan ia merasa lemas terus-terusan, kian hari kian parah.

“Akan kulaporkan kau ke kepala sekolah!”

Tawa serak Nara kembali berkumandang. “Lalu? Pikirmu dia akan menghukumku? Nggak! Kamu tahu dari mana sekolah dapat dana pembangunan Bangsal Olahraga tempatmu latihan itu? Yayasan? Sumbangan siswa? Dari Ayahku! Dia….”

Tiba-tiba Nara berhenti. Ada suara langkah di tanah becek di belakang Tobias. “Kita kedatangan tamu,” kata Nara. Tobias menoleh. Ia terkejut setengah mati.

“Aku butuh barang,” itu Irma yang bicara, cewek paling pintar dan langganan juara olimpiade sains di sekolah. Dan sekarang cewek itu bicara pada Nara. Sambil celingukan diangsurkannya beberapa lembar uang. Dengan cepat Nara mengeluarkan dagangannya. Angin berhembus. Awan tersibak. Cahaya matahari jatuh ke atas mereka. Rambut Irma berkibar lembut. Tatapan matanya tak terpermanai. Tangannya terulur, meraih bungkusan yang disodorkan Nara. Cowok itu melepas kacamatanya. Matanya merah, berair, dan bersinar jahat. Rambutnya yang klimis seperti ditumpahi sebotol minyak berkilat mirip sisik ular. Jantung Tobias seperti berhenti sedetik. Ia seakan melihat adegan saat Eve jatuh ke dalam lumpur.

Selesai transaksi cewek itu berbalik, menatap Tobias sekilas lalu pergi.

“Aku membantunya belajar,” ucap Nara sok baik. Ada nada mencibir dalam suaranya. Jadi Tobias bukan satu-satunya korban! Amarah seketika menggelegak dalam dada Tobias. Ia salah. Nara bukan ular. Ia lebih parah dari ular. Ia monster! Monster Hydra dari rawa Lerna, seperti yang dulu sekali pernah ia baca di buku Petualangan Hercules2. Dan seperti Hercules yang memenggal sembilan kepala makhluk mengerikan itu, membuatnya mati, demikianlah Tobias bertekad memenggal semua kepala Nara.

2: monster ular raksasa berkepala sembilan di mitologi Yunani. Satu kepala dipenggal, akan tumbuh dua kepala. Untuk membunuhnya Hercules memotong semua leher Hydra bersamaan.